Home / Berita

Senin, 11 September 2017 - 10:42 WIB

ADPPI Jelaskan Dampak Pengembangan Panasbumi Untuk Pembangkit Listrik (PLTP)

Keterangan foto:
Instalasi panasbumi di Kamojang, Kecamatan Ibun, Kab. Bandung, Jawa Barat (PABUMNews)

PABUMNews-Banyak pertanyaan di masyarakat mengenai dampak pengembangan panasbumi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP). Pertanyaan itu di antaranya, benarkah PLTP dapat menyebabkan fracking, pencemaran air, pencemaran udara, dampak ekologi sumber air, kesuburan lahan pertanian, kesehatan, dan penggunaan lahan.

Pertanyaan-pertanyaan itu juga menjadi isu yang beredar di masyarakat baik lewat selebaran maupun medsos.

Berkenaan dengan hal ini, Sekretaris Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia (ADPPI), Harry Nurulfuad, menjelaskan:

Fracking/ Gempa Bumi Minor
1.Fracking terjadi akibat proses geologi di dalam bumi secara alami, baik dengan atau tanpa adanya pengembangan panasbumi di suatu wilayah.
2. Fracking salah satu penyebab gempa mikro, tetapi bukan menjadi sebab terjadinya gempa secara keseluruhan.
3.Gempa minor juga merupakan salah satu akibat dari proses geologi di dalam bumi secara alami, baik dengan atau tanpa adanya pengembangan panasbumi di suatu wilayah.

Pencemaran air
1.Air hydrothermal yang dimanfaatkan dalam pembangkitan listrik panasbumi berasal dari kedalaman di bawah 1.000 meter, sehingga tidak akan memberi dampak terhadap ketersediaan air tanah yang biasa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
2.Pemanfaatan air untuk panasbumi tidak menggangu air permukaan sebab air permukaan berada pada kedalaman bervariasi antara ±0–15 meter, air akuifer antara ±15–200 meter.
3.Air hydrothermal yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik panasbumi memiliki kandungan kimia yang berbahaya, tetapi karena melalui siklus yang tertutup dan tidak dibuang sembarangan ke lingkungan maka dapat disimpulkan air hydrothermal tidak mencemari lingkungan. Contoh di Kamojang, Darajat, Gunung Salak, Wayang Windu, Dieng, dll yang merupakan daerah yang sudah memabfaatkan menjadi PLTP selama 20 tahun operasi, tidak menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat.
4.Pemandian air panas merupakan salah satu manfaat dari air hydrothermal.

Baca Juga  Panas Bumi Ditarik Pusat, Daerah Dapat Apa? Simak IndoEBT Weekend Talks Besok Mulai Pukul 19.00 WIB

Pencemaran Udara (CO2 dan H2S)
1.CO2 dan H2S merupakan gas yang keluar dari gunung api secara alami.
2.CO2 dan H2S dalam panasbumi terlarut dalam air hydrothermal. Karena proses pemanfaatan panasbumi melalui siklus tertutup maka kadar CO2 dan H2S yang terlepas ke udara sangat minim bahkan mendekati 0%.
3.Kontribusi pencemaran CO2 dan H2S di lingkungan terutama terjadi akibat proses pembakaran, asap kendaraan bermotor, asap pembingkit diesel (PLTD), asap pembangkit batubara (PLTU), dll.
4.CO2 dan H2S di Kamojang, Darajat, Gunung Salak, Wayang Windu, Dieng, dll yang merupakan daerah di mana PLTP  sudah sudah beroperasi selama 20 tahun sangat minim pencemaran, bahkan mendekati 0% (FAKTA).

Baca Juga  Dalam Usia 13 Tahun, PGE Sumbang 94 Persen Kapasitas Panasbumi Indonesia

Dampak Ekologi terkait Sumber Air dan Kesuburan Lahan Pertanian

1. Pemanfaatan panasbumi memerlukan area hijau yang sangat luas yang akan menjadi daerah resapan-resapan air, sehingga secara langsung akan memberikan dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan ketersediaan air.

2.Pengembang panasbumi akan selalu menjaga lingkungannya, menjaga hutan tetap hijau. Karena KETIKA HUTAN DI SEKITAR WILAYAH PANASBUMI RUSAK MAKA MATILAH PANAS BUMI.

3.Pemanfaatan panasbumi sama sekali tidak memberikan dampak pada berkurangnya kesuburan tanah karena proses pengelolaan pembangkit listrik panas bumi merupakan proses dengan siklus tertutup.

4. Dukungan pemanfaatan langsung panasbumi di bidang pertanian salah satunya untuk pembuatan dryer dengan kapasitas besar melalui pemanfaatan panas pada pipa-pipa fluida sisa panasbumi sebelum dialirkan kembali ke dalam tanah.

Dampak Kesehatan :

Di Kamojang, Darajat, Gunung Salak, Wayang Windu, Dieng, dll yang merupakan daerah yang sudah memafaatkan menjadi PLTP selama 20 tahun operasi, tidak menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat (FAKTA).

Penggunaan Lahan :

Dalam pemanfaatan panasbumi lahan yang diperlukan untuk pembangkit listrik sekitar ± 1 – 5 Ha dan fasilitas penunjang sekitar ±15 – 30 Ha. Jadi secara keseluruhan total kebutuhan lahan untuk panas bumi adalah ± 16 – 40 Ha. (ES)

Berita ini 434 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Bupati Solok, “Proyek Panasbumi Gunung Talang akan Berdampak Positif”

Berita

Ciengang, Tempat Terapi Air Panasbumi di Garut

Berita

Dorong Pemanfaatan Panasbumi Seulawah, Warga Hijaukan Lahan di Kaki Hutan

Berita

Ketum ADPPI Sebut Lima Alasan RUU EBT Perlu Cantumkan Pasal Panasbumi Diatur UU Tersendiri
Inagurasi Sorik Marapi Geothermal

Berita

Inagurasi Sorik Marapi Geothermal Unit-2

Berita

Univeristas Garut akan Kembangkan Air Panasbumi Cisewu

Berita

Air Panas Candi Umbul, Tempat Mandi Bangsawan di Zaman Raja Syailendra

Berita

PLTP Muara Laboh Jawaban atas Sering Terjadinya Pemadaman di Solok Selatan