Home / Tokoh

Minggu, 7 Oktober 2018 - 15:38 WIB

Ali Mundakir dan Pekerjaan Besar PGE

Ali Mundakir (foto: pertamina.com)

PABUMNews- Ali Mundakir, lelaki kelahiran 20 September 1969 ini kini menjadi orang nomor satu di PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE), menggantikan Irfan Zainudin.

Ali merupakan orang PGE asli yang meniti karir dari lapangan. Lulus tahun 1991 dari jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya, setahun kemudian ia diterima di Pertamina dan ditempatkan di PGE Area Lahendong di bagian drilling. Oleh karena itu, soal panasbumi, bukan hal baru bagi orang yang memiliki hobi lari ini.

Menurut Ali, banyak yang telah dicapai oleh PGE. Ia mengatakan, sebagai perusahaan yang mengembangkan pembangkitan clean energy dan ramah lingkungan, PGE mengelola 14 wilayah kerja dengan total kapasitas terpasang sampai dengan saat ini sebesar 617 MW. Dengan kapasitas terpasang sebesar itu, terdapat potensi pengurangan emisi karbon sebesar 2,58 juta ton CO2e/tahun dan sudah masuk dalam mekanisme Clean Development Mechanism (CDM).

“CDM merupakan suatu proyek dengan fungsi menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat bermanfaat secara ekonomi dan dapat mengurangi pemanasan global untuk mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujar Ali seperti dimuat di laman pge.pertamina.com

Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia pada Konferensi Iklim PBB tahun 2015 (COP-21) di Paris untuk penurunan karbon emisi sebesar 29% sampai dengan tahun 2030.

“Bahkan memungkinkan sampai sebesar 41% jika mendapatkan dukungan internasional,” jelasnya.

Ali memaparkan, hingga 2018 ini, PGE mengelola tujuh proyek CDM. Bahkan enam proyek CDM PGE telah terdaftar di United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), yakni proyek CDM PLTP Kamojang Unit 4, Ulubelu Unit 3 & 4, Lumut Balai Unit 1 & 2, Lumut Balai Unit 3 & 4, Kamojang Unit 5 serta Karaha Unit 1.

Baca Juga  Nenny Miryani Saptadji: Panasbumi Merupakan Solusi

“Sedangkan untuk Proyek Lahendong Unit 5 & 6 sedang dalam proses registrasi pada mekanisme voluntary carbon,” jelasnya.

Ali menegaskan, upaya PGE dalam meningkatkan manfaat pengurangan emisi karbon tidak berhenti pada terdaftarnya proyek CDM PGE di UNFCCC.

“Dalam pelaksanaannya, kami berupaya agar kredit karbon dapat memiliki kualitas lebih baik, kompleksitas yang tinggi dan memberikan manfaat bagi pembangunan berkelanjutan. Hal ini diperoleh dengan mengupayakan kredit karbon mencapai Gold Standard/GS (atau sekarang disebut sebagai Gold Standard for the Global Goals) berdasarkan benchmark dari Gold Standard Foundation. Bahkan kami berhasil mendaftarkan lima proyek CDM sebagai CDM Gold Standard yang merupakan proyek CDM Gold Standard pertama di Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, PGE juga telah mendaftarkan proyek CDM-nya menggunakan mekanisme yang bersifat voluntary yakni Verified Carbon Standard atau VCS. Mekanisme VCS merupakan alternatif pengembangan kontribusi pengurangan emisi karbon, khususnya pada pasar voluntary dengan tetap mensyaratkan adanya kontribusi terhadap aspek lingkungan dan sosial selain aspek potensi penurunan emisi.

Dengan potensi karbon kredit yang telah dicapai tersebut, dan mempertimbangkan tingkat kepedulian negara-negara di dunia yang semakin meningkat terhadap pemanfaatan energi bersih dan pengurangan emisi karbon, PGE berharap pasar CDM bisa lebih baik dan lebih stabil pada tahun-tahun mendatang, sehingga potensi karbon kredit PGE dapat dikomersialisasi dengan lebih baik.

“Sebagai contoh, pada periode monitoring 16 Desember 2010 sampai dengan 28 Februari 2011 untuk CDM Kamojang 4, potensi pengurangan emisi karbon yang telah diterbitkan dalam bentuk Certified Emission Reduction (CER) dan telah berhasil dikomersialisasikan sebesar 92.691 ton CO2e. Pada waktu itu, harga CER per ton CO2e sekitar 4-14 Euro. Hal ini menjadi prestasi tersendiri bagi PGE karena menjadi anak perusahaan Pertamina yang pertama kali berhasil mendaftarkan proyek CDM dan berhasil menerbitkan sertifikat Emission Reduction,” ujar Ali.

Baca Juga  Sempat Gaduh, Surat Menteri Keuangan Soal PLN Akhirnya Dinilai Tepat

***

Lamongan dikenal sebagai daerah ayam. Menyebut ayam, orang akan teringat ayam Lamongan. Di daerah inilah Ali lahir dan dibesarkan.

Lulus dari Universitas Brawijaya, Ali sempat menjadi dosen. Namun setahun kemudian, tahun 1992, ia “terpaksa” terbang ke Sulawesi untuk bekerja di PLTP Lahendong sebagai teknisi pengeboran.

Setelah lima tahun di Lahendong, Ali berkesempatan melanjutkan kuliah di Universitas Auckland, Selandia Baru, untuk menempuh postgraduate diploma 1 tahun.

Perusahaan tak sisa-sia mengirimkan lelaki ini ke Selandia Baru, sebab ternyata lulus dengan status cumlaude. Karena lulus dengan predikat sangat memuaskan, Ali berhak mendapatkan beasiswa penuh dari Pemerintah Selandia Baru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang master di universitas yang sama. Dan Ali mengambilnya.

Ketika lulus, Ali kembali ke Pertamina dan ditarik ke kantor pusat untuk menjadi Asisten Sekretaris Direktur Utama PT. Pertamina.

Tahun 2012, Ali dipecaya menduduki jabatan VP Corporate Communication atau juru bicara perusahaan. Ali mengaku, jabatan itu sangat menantang. Sebagai juru bicara, ia harus mampu mengembangkan komunikasi yang baik dengan semua stake holder, termasuk media, untuk membangun citra positif perusahaan.

Kini pemuda Lamongan ini dipercaya mengendalikan PGE, perusahaan panasbumi pelat merah yang dinilai paling agresip dalam mengembangkan usahanya. Perusahaan ini memiliki target kapasitas terpasang sampai 907 MW tahun 2019, dan bisa mencapai 2,1 Gigawatt (GW) hingga 2025. Tujuannya untuk membantu pemerintah mencapai target bauran EBT sebesar 23% dari total penggunaan energi di tahun 2025. Dan ini tentu pekerjaan menantang bagi Ali Mundakir. (es, dari berbagai sumber).

Berita ini 42 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Tokoh

Yunus Saefulhaq, Sosok Low Profil

Berita

Takdir Riki Firmandha Ibrahim

Tokoh

Prajogo Pangestu, Pemilik Perusahaan Panasbumi Star Energy, Orang Terkaya Ketiga di Indonesia Tahun 2019

Tokoh

Nenny Miryani Saptadji: Panasbumi Merupakan Solusi

Tokoh

Agus Hermanto: Indonesia Mutlak Memerlukan Energi Panasbumi

Tokoh

Pri Utami, Duta Geothermal Dunia dari Indonesia

Tokoh

Ganti Ignasius Jonan, Ini Salah Satu Tugas Arifin Tasrif sebagai Menteri ESDM

Tokoh

Mengenal FX Sutijastoto, Dirjen EBTKE Baru