38 Tahun Mengabdi, Ahli Panas Bumi Nenny Miryani Saptadji Kini Purnabakti

38 Tahun Mengabdi, Ahli Panas Bumi Nenny Miryani Saptadji Kini Purnabakti

Suasana acara pelepasan Ir. Nenny Saptadji yang digelar secara virtual pasa Sabtu (12/9/2020).

PABUMNews – Suasana pelepasan ahli panas panas bumi ITB, Ir. Nenny Saptadji, Ph.D yang memasuki masa purnabakti bertajuk “Purnabakti, 38 Tahun Nenny M Saptadji” cukup mengharukan.

Acara pelepasan digelar pada Sabtu tanggal 12 September 2020 secara virtual dengan diikuti sekitar 400 peserta. Hadir dalam kesempatan itu para petinggi ITB, para guru besar, para dosen, mahasiswa serta rekan-rekan seperjuangan Nenny Saptadji di bidang pengembangan panas bumi.

Meski tak ada peluk cium atau jabat tangan seperti perpisahan yang digelar di aula pada situasi di luar pandemi, namun banyak peserta yang hadir lewat layar komputer/hp, bersimbah air mata. Kalaulah waktu bisa diputar, mereka mungkin akan terus mengulang waktu agar Nenny tak masuk masa purnabakti.

Damai Putra, rekan Nenny Saptadji yang menjadi peserta acara pelepasan, dalam FB-nya menyatakan, Nenny Saptadji telah berbakti dengan sepenuh hati dan penuh semangat untuk dunia pendidikan seutuhnya termasuk pengembangan industri geothermal di Indonesia.

Bahkan Damai Putra menyatakan, Nenny turut memberikan arah atas kemajuan Indonesia seperti yang telah dilakukan tokoh-tokoh ITB di antaranya Prof Iskandar Alisyahbana, Prof Samaun Samadikun, Prof. Doddy Tisna Amidjaja, Prof Bambang Hidayat, dan sebagainya.

Melihat acara perpisahannya digelar dengan suasana luar biasa, Nenny Saptadji menyatakan sangat terharu.

“Sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang sehingga acara pelepasan yang diketuai Dimas Taha Maulana dapat menyelanggarakan acara purnabakti yang extraordinary. Alhamdulillah, terima kasih kepada semuanya, acara belum dimulai namun air mata sudah muncul dari pelupuk mata…,” ungkapnya.

Pihak Program Master Geothermal ITB pun menyampaikan ucapan terima kasih atas antusiasme para peserta dalam acara perpisahan Nenny Saptadji.

“Kami mengucapkan terima kasih banyak atas antusiasme dan partisipasinya dalam acara ‘Persembahan 38 Tahun Purnabakti Ir Nenny M Saptadji, Ph.D’, begitu mengharukan, menginspirasi dan penuh cinta, dihadiri sekitar 400 peserta dari Zoom dan Youtube.

Terpilihnya pemenang lelang buku dengan nomor seri 001 yaitu Bapak Riki Firmanda Ibrahim yang akan selamanya tercantum di website geotermal ITB bersama 99 buku lainnya. Dapat dilihat pada https://lnk.in/giQYmYP.

Rekaman purnabakti dapat dilihat pada Youtube Geotermal ITB
https://lnkd.in/gMx.MEyX.” tutur pihak Program Master Geothermal ITB.

Ir. Nenny Miryani Saptadji, Ph.D. Itulah nama lengkap wanita ini. Ia merupakan sosok bersejarah bagi ITB terutama terkait berdirinya Program Magister Panas Bumi di ITB. Berkat Nenny dan dibantu rekan-rekannya, ITB menjadi perguruan tinggi yang paling terdahulu memiliki jurusan panas bumi di Indonesia.

Nenny sendiri memang merupakan salah satu pakar panas bumi Indonesia, cabang teknologi yang ahlinya masih sangat langka.

Nenny merupakan jebolan ITB tahun 1981. Kemudian sejak tahun 1982 Nenny menjadi staf pengajar di Teknik Perminyakan di almamaternya.

Tahun 1987, tepatnya empat tahun sejak pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia (PLTP Kamojang) beroperasi, ia terbang ke New Zealand untuk mempelajari teknik panas bumi di Geothermal Institute and Engineering School University of Auckland, New Zealand. Dari perguruan tinggi ini, Nenny memperoleh gelar PhD pada tahun 1995.

Nenny Saptadji bersama para mahasiswa dalam peluncuran bukunya Teknik Geotermal yang sold out beberapa waktu lalu. (*)

Sekembalinya dari New Zealand, pihak ITB menugaskan Nenny untuk merintis berdirinya program panas bumi di ITB. Tugas itu berhasil dilaksanakan Nenny sehingga di ITB berdiri Program Magister Panas Bumi. Tahun 2008 , Nenny pun diserahi tanggung jawab untuk memimpin program tersebut.

Banyak karya yang telah ia sumbangkan untuk pengembangan panas bumi, di antaranya pengembangan perangkat lunak atau Geothermal Engineering Software (GES), kemudian Geothermal Production Utilization (GPU), Integrated Reservoir Information System (IRIS), dan Sistem Analisa Resiko (SAR) untuk menganalisis proyek ekonomi panas bumi terintegrasi.

Nenny mendapat berbagai penghargaan terkait dengan dedikasinya terhadap pendidikan panas bumi. Di antaranya Sayta Lencana Karya Satya 10 tahun dari Presiden RI pada tahun 1998. Kemudian anugerah “Lifetime Achievement Award” dari Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) pada tahun 2015 dan Penghargaan Rektor ITB pada tahun 2017.

Tahun 2018 lalu, Nenny menjadi satu-satunya ahli panas bumi dari wilayah Asia yang mendapatkan penghargaan dari WING (Women in Geothermal), sebuah organisasi nirlaba internasional yang berpusat di Nevada, Amerika Serikat.

Nenny Saptadji mendapat penghargaan dari WING untuk Caring Award karena dinilai memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap mahasiswa panas bumi. Nenny tak hanya mentransmisikan pengetahuan kepada anak didiknya dalam sesi perkuliahan, tapi juga sekaligus menjadi ibu bagi anak-didiknya. Nenny tak segan-segan membantu anak didiknya yang kesulitan membiayai kuliahnya. Kini mahasiswa Nenny yang dibantu tersebut telah menjadi profesional dan memiliki pengaruh dalam industri panas bumi dan perminyakan.

Di luar kesibukannya mengajar, Nenny juga aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan panas bumi. Di antaranya menjabat sebagai Koordinator Panitia Teknis Kongres Panas Bumi Dunia (WGC2010). Dia adalah anggota Komite Pendidikan dari Asosiasi Panas Bumi Internasional (IGA) selama empat tahun. Di Indonesia, ia merupakan salah satu tim ahli dari API selama beberapa periode manajemen.

Kemudian pernah menjadi anggota Dewan Riset Nasional (DRN), Komisaris Ahli PT. Pertamina (Persero), dan Komisaris Independen PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Saat ini beliau adalah anggota aktif Dewan Penasehat pada program magister panas bumi ITB.

Tak terasa, sudah 38 tahun Nenny mengabdi untuk ITB, Indonesia dan panas bumi. Kini ia memasuki masa purnabakti. Namun Nenny menegaskan, masa purnabakti tak akan menghalanginya untuk terus berkarya bagi Indonesia dan panas bumi. (Ref)