Alimin Ginting Usulkan 27 November Ditetapkan sebagai Hari Panasbumi Indonesia

Alimin Ginting Usulkan 27 November Ditetapkan sebagai Hari Panasbumi Indonesia

Alimin Ginting (dok: ADPPI)

PABUMnews – Tokoh panasbumi Indonesia, Ir. Alimin Ginting, M.Sc menjelaskan, potensi energi panasbumi di Indonesia sangat besar, yakni menyimpan sekitar 40 persen potensi seluruh energi panasbumi di seluruh dunia.

“Potensi itu, lanjutnya, tersimpan di sepanjang jalur gunung berapi yang membentang dari Sabang sampai Merauke,” ungkap Alimin dalam siaran persnya, Kamis (25/10/2018).

Mengingat potensinya yang sangat besar itu, mantan Ketua Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) yang kini menjadi Badan Pertimbangan ADPPI (Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia) ini, meminta agar panasbumi ditetapkan sebagai energi utama masa depan, mengganti energi migas yang cadangannya semakin menurun.

“Perlu dipertegas di masa depan panasbumi bukan sekedar energi alternatif apalagi panasbumi merupakan energi yang dapat diperbarui sepanjang pengelolaannya secara benar,” ujarnya.

Alimin pun meminta pemerintah agar menetapkan tanggal 27 November sebagai Hari Panasbumi. Ia memaparkan, 27 November merupakan hari penting dalam sejarah panasbumi Indonesia. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Pertamina berhasil membangun sebuah monoblok panasbumi dengan kapasitas total 0,25 MW di lapangan Kamojang. Monoblok ini diresmikan Mentamben (Menteri Pertambangan dan Energi) Subroto pada 27 November 1978.

Menurut Alimin, penetapan Hari Panas Bumi penting artinya, bukan hanya karena panasbumi sebagai sumber energi sangat besar yang dimiliki Indonesia, tapi juga sebagai motivasi agar pemanfaatan panasbumi lebih dioptimalkan.

Saat ini, lanjut Alimin, berdasarkan survei terbaru dari Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di Indonesia telah teridentifikasi 331 titik potensi sebesar 28,5 Giga Watt. Potensi tersebut terdiri dari sumber daya sebesar 11.073 MW dan cadangan sebesar 17.506 MW yang tersebar di 30 provinsi.

“Dari potensi sebesar itu, saat ini yang baru dimanfaatkan baru 2043,5 MW di 17 Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP),” ungkapnya.

Alimin mengungkapkan, banyak keunggulan dari panasbumi, di antaranya merupakan sumber energi yang bersih, ramah lingkungan, dan sustainable.

“Karakteristik lainnya, tidak dapat diekspor, hanya dapat digunakan untuk konsumsi dalam negeri (indigenous). Kemudian bebas dari risiko kenaikan (fluktuasi) bahan bakar fosil. Tidak tergantung cuaca, supplier, dan ketersediaan fasilitas pengangkutan dan bongkar muat dalam pasokan bahan bakar. Dan juga tidak memerlukan lahan yang luas,” ujarnya.

Ditegaskannya, energi panasbumi bersifat ramah terhadap lingkungan, tidak hanya dalam aspek produksi tetapi juga aspek penggunaan, sehingga dampaknya berperan positif pada setiap sumber daya. Pada saat menjalankan proses pengembangan dan pembuatan, tenaga panas bumi sepenuhnya bebas dari emisi. (es)