Archandra Tahar: “Panasbumi Ramah Lingkungan”

Archandra Tahar: “Panasbumi Ramah Lingkungan”

Wamen ESDM Archandra Tahar (sumber foto: esdm.go.id)

PABUMNews- Wakil Menteri Eenergi Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar kembali menyinggung soal penolakan sebagian warga terhadap pengembangan panasbumi Gunung Talang, Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat saat memberikan kuliah umum di Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Kamis (24/1/2019).

Dia menegaskan, pemerintah mendorong agar setiap wilayah selalu melihat potensi kearifan lokal yang ada untuk memenuhi kebutuhan energinya, terutama energi baru terbarukan. Oleh karena itu ia meminta agar generasi muda jangan hanya percaya kepada isu-isu yang tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk mencari kebenaran bahwa panasbumi itu ramah lingkungan atau tidak, lanjutnya, perlu adanya keterbukaan dan pembelajaran dengan benar apa itu panasbumi.

“Kita percaya atau tidak jika panasbumi itu ramah lingkungan. Kalau percaya, mari kita cari jalan keluarnya, tapi kalau kita tidak percaya, bagaimana kita mencari jalan keluarnya, bukan hanya mencari pembenaran”, ujar Arcandra seperti dirilis laman ESDM (esdm.go.id).

Dia mengungkapkan, tahun 2018, Indonesia memiliki kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Panasbumi (PLTP) mencapai 1.948,5 mega watt (MW). Dengan capaian tersebut, menempatkan Indonesia pada posisi kedua di dunia setelah Amerika Serikat dalam memanfaatkan panasbumi sebagai tenaga listrik.

Menurutnya, jika tidak ramah lingkungan, tentu lembaga-lembaga dunia sudah ribut akibat pengelolaan panasbumi tersebut.

“Secara geografis, Indonesia yang memiliki sekitar 500 gunung api, dimana 127 diantaranya merupakan gunung api aktif menjadikan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan energi panasbumi,” tambahnya.

Arcandra berpesan kepada generasi muda agar mengubah pola pikir, membuka pikiran hingga jauh ke depan dan melakukan sesuatu yang nyata serta bermanfaat bagi orang banyak.

“Saya sarankan kepada generasi muda, orang lain sudah sampai ke mana mikirnya, tapi kita masih bicara tentang ramah lingkungan apa tidak,” kata Arcandra.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan bahwa Provinsi Sumatera Barat sudah mendeklarasikan sebagai lumbung energi hijau. Saat ini, sekitar 36 persen energi yang dipakai di Sumatera Barat berasal dari energi terbarukan atau lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Irwan mengimbau kepada mahasiswa yang hadir untuk berkiprah dan memikirkan teknologi atau teknik apa pun agar anugerah yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sebagai rasa syukur kepada Tuhan.

“Jadi kita ini ibaratnya masih belum bersyukur, karena mubazir, di depan mata jadi tontonan tanpa kita manfaatkan, padahal kita bisa mengembangkannya,” tutur Irwan.

Seperti diketahui, WKP Gunung Talang dikelola oleh konsorsium PT Hitay Daya Energy dan PT Dyfco Energy berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 7257 K/30/MEM/2016 tanggal 3 Oktober 2016 tentang Pemenang Pelelangan Wilayah Kerja Panas Bumi di Daerah Gunung Talang – Bukit Kili, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat,

Konsorsium ini mengalahkan PT Pertamina dalam proses lelang karena memberikan penawaran harga listrik 12,75 sen US$/kWh, sementara Pertamina memberikan penawaran 13,6 sen US$/kWh.

WKP Gunung Talang-Bukit Kili menurut Badan Geologi pada saat tender memiliki 65 megawatt (MW). Namun kapasitas pembangkit yang ditugaskan melalui tender tersebut sebesar 20 MW. Dana investasi yang disiapkan sekitar US$100 juta. (es)