Bali Lahirkan Komitmen Dunia Manfaatkan Energi Panasbumi

Bali Lahirkan Komitmen Dunia Manfaatkan Energi Panasbumi

Direktur Panasbumi, Kementerian ESDM, beraudiensi dengan Gubernur Bali Wayan Koster (Sumber foto : kemendagri.go.id)

PABUMNews – Berkomitmen menciptakan Bali bersih dan ramah lingkungan, Bali siap memanfaatkan energi baru terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energinya, di antaranya energi panasbumi.

Seperti dimuat Jawa Pos (Kamis, 13 Juni 2019) dengan judul berita “Bali Krisis Listrik, Koster Wacanakan Eksploitasi Geothermal Batur”, pemanpaatan energi panasbumi ini tercantum dalam Pergub Bali tentang Energi Bersih di Pasal 10.

Potensi panasbumi di Bali memang cukup besar. Dari Buku Potensi Panas Bumi Indonesia Jilid I Tahun 2017 yang disusun Kementerian ESDM, Bali memiliki beberapa titik Panas Bumi di antaranya di Tabanan. Potensi panasbumi di sini bahkan telah ditetapkan sebagai WKP dengan potensi hipotesis 50 MW, Cadangan Terduga 86 MW, Cadangan Mungkin 110 MW, dan Terbukti 30 MW.

WKP Tabanan direncanakan dikembangkan dalam dua tahap yakni tahun 2020 sebesar 10 MW dan tahun 2025 sebesar 55 MW.

Potensi lainnya terdapat di Banyuwedang, Buleleng sebesar 12,5 (Spekulatif), kemudian di Kintamani, Bangli, dengan potensi hipotesis 22 MW, dan cadangan terduga 36 MW. Di Seririt, Buleleng, dengan potensi spekulatif 12,5 MW. Sementara di Bedugul kemungkinan besar tidak ditindaklanjuti karena mendapat penolakan dari pemerintah daerah dan masyarakat.

Lepas dari itu, Bali dengan pengembangan sumber daya panasbumi di Indonesia, sebenarnya memiliki sejarah erat. Di Bali-lah Indonesia menggelar Kongres Panasbumi Dunia (World Geothermal Congress/WGC) ke-4, lokasinya di Nusa Dua pada tanggal 26-30 April 2010.

Peristiwa 19 tahun lalu itu kemudian melahirkan Deklarasi Bali yang isi pentingnya di antaranya pemberdayaan panasbumi secara bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus keberkelanjutan hidup umat manusia. Pemberdayaan energi panasbumi, yang notabene energi terbarukan, dapat diharapkan menjadi salah satu pilihan sekaligus jalan keluar dari keterbatasan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Poin lainnya, pemberdayaan energi panasbumi merupakan upaya untuk menghindari penambahan sekaligus mengurangi emisi gas karbon dioksida di bumi.

Deklarasi itu ditandatangani 15 perwakilan asosiasi panasbumi di seluruh dunia. Tokoh penandatangan di antaranya Presiden Asosiasi Geotermal Internasional (IGA) Prof Ladislaus Ribach, Ketua IGA Eropa Miklos Antics, dan Ketua Masyarakat Energi Geotermal China Prof Keyan Zheng.

Intinya, Deklarasi Bali memberi semangat kepada masyarakat dunia untuk memanfaatkan panasbumi yang merupakan energi berkelanjutan dan ramah lingkungan sebagai pengganti bahan bakar fosil yang membahayakan lingkungan. (es)