Berulang Tahun ke-18, Geo Dipa Kobarkan Optimisme Masa Depan Energi Panas Bumi

Berulang Tahun ke-18, Geo Dipa Kobarkan Optimisme Masa Depan Energi Panas Bumi

PABUMNews – Tanggal 5 Juli 2018 lalu, BUMN panas bumi PT Geo Dipa Energi (GDE) merayakan ulang tahunnya yang ke-18. Dengan mengangkat tema “Semangat Membangun Negeri,” dalam usianya yang ke-18 GDE mengobarkan semangat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat diterpa Covid-19, serta mendorong transformasi energi Indonesia ke arah yang berkelanjutan dan kecil terhadap dampak gas rumah kaca (CO2).

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Riki Firmandha Ibrahim, mengungkapkan optimismenya.

“GeoDipa percaya, energi terbarukan seperti panas bumi akan menjadi pondasi yang kuat bagi Indonesia untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi,” katanya.

Menurut Riki, disetujuinya kucuran dana dari Asian Development Bank sebesar 300 juta dolar AS untuk pembangunan proyek Dieng Unit 2, Jawa Tengah dan Patuha Unit 2, Jawa Barat di tengah pandemi Covid-19, merupakan gambaran nyata kepercayaan kepada Indonesia untuk mendorong pembangunan energi terbarukan dan industri saat ini.

Ditambahkannya, pembangunan EBT panas bumi merupakan sebuah investasi berkelanjutan yang sangat strategis. Sifatnya yang sustainable (berkelanjutan) menjadi kunci mengapa energi ini dapat menopang pemulihan ekonomi Indonesia.

“Energi panas bumi mampu membawa pemulihan ekonomi negeri bahkan meningkatkan ekonomi lebih baik karena berpotensi untuk menghadirkan pabrikan-pabrikan turbin berteknologi tinggi serta menciptakan banyak SDM di bidang lingkungan, teknik sipil/mesin/listrik dan Geothermal sehingga dikatakan menjadi center of excellence bagi Indonesia,” jelasnya.

Riki pun mengungkapkan optimismenya tentang masa depan energi panas bumi. Menurutnya, data terbaru dari Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) menyebutkan, sejak tahun 2012 EBT tumbuh secara eksponensial. Pada penelitian yang berbeda, Shell dalam laporan Sky Scenario-nya (2018), menggambarkan permintaan energi berbasis fosil akan mencapai puncaknya di tahun 2025-2030.

“Pada saat itu, Indonesia masuk menjadi 4 negara besar yang ditopang dengan anugerah energi terbarukan panas bumi mendominasi permintaan energi listrik dalam negeri, sedangkan energi fosil dialihkan manfaatnya yang lebih penting lagi untuk kebutuhan sandang, obat-obatan, bahan kimia dan lainnya,” jelasnya.

Masih menurut Riki, pada tahun 2023/2024 Proyek Dieng 2 dan Patuha 2 direncanakan akan mencapai Commercial Operation Date (COD), dengan misi penugasan lainnya menjalankan Government Drilling untuk mengurangi risiko investasi eksplorasi panas bumi.

Kebijakan ini akan meningkatkan kepercayaan swasta/investor di sektor Panas Bumi Indonesia. Menurut Riki, kedua penugasan tersebut menunjukkan bagaimana pemerintah saat ini memiliki visi agar Indonesia tidak kehilangan kesempatan dalam perubahan arah energi dunia.

“Ini peluang kita untuk bergerak maju dengan pondasi energi terbarukan menuju ekonomi rendah karbon. Jangan sampai kehilangan momentum dan tertinggal dengan negara lain,” tegas Riki.

Dalam ulang tahunnya yang ke-18, GDE pun meluncurkan logo berbentuk angka 18. Logo ini menggambarkan visi GeoDipa ke depan dengan menampilkan beberapa nilai dasar sebagai berikut:

Daun: Dalam logo yang di dominasi dengan warna hijau itu memperlihatkan bagaimana GeoDipa memproduksi listrik dengan bersumber dri energi terbarukan yang ramah lingkungan. Ini juga berbicara dengan lokasi power plant yang selalu mengutamakan kelestarian alam demi kelangsungannya.

Warna Merah: memperlihatkan energi panas bumi yang menjadi energi asli Indonesia

Lambang Infinity pada angka 8: memperlihatkan bahwa energi panas bumi adalah energi yang berkelanjutan atau sustainable.

Garis Emas: merupakan perlambang jalan emas Indonesia menuju transformasi energi ke energi terbarukan.

Tulisan Berwarna Biru: melambangkan pegawai GeoDipa yang selalu berkomitmen untuk menghadirkan Green Energy bagi masyarakat. (es)