Bonus Produksi Panasbumi, Garut Terima Rp 275 Miliar, Bandung Terbesar

Bonus Produksi Panasbumi, Garut Terima Rp 275 Miliar, Bandung Terbesar

Bupati Garut Rudy Gunawan (foto: esdm.go.id)

PABUMNews- Wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, memiliki cukup banyak potensi panasbumi. Di antaranya di Papandayan Kecamatan Cisurupan, kawasan Masigit di Gunung Guntur Kecamatan Tarogong Kaler, Ciarinem di Kecamatan Pakenjeng, Talagabodas Kecamatan Karangtengah, Kamojang Kecamatan Pasirwangi dan sebagainya.

Namun dari enam potensi tersebut, baru tiga yang dimanfaatkan yakni Darajat yang dikelola Star Energy (dulu Chevron), Kamojang oleh PGE serta Karaha juga oleh PGE.

Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengakui pengembangan panasbumi sangat bermanfaat bagi pembangunan daerah. Menurutnya, manfaat tersebut bukan hanya dari sisi energi listrik tapi juga pendapatan langsung yang diperoleh oleh daerah.

“Pengusahaan panasbumi merupakan salah satu sektor untuk mempercepat proses pengembangan daerah,” katanya saat diskusi Capaian Kinerja Kementerian ESDM tahun 2018 di Kamojang, Garut Jawa Barat, Jumat (2/11/2018) lalu.

Bupati menyebutkan, kontribusi panasbumi bagi Kabupaten Garut dari kawasan Darajat misalnya mencapai antara Rp 8 sampai Rp 9 miliar per tahun, dari PLTP Kamojang mencapai Rp 1,2 miliar per tahun dan pada tahun 2018, sudah mulai masuk kontribusi dari Karaha.

“Pemasukan dari bonus produksi panasbumi tersebut digunakan Pemkab Garut untuk membangun kecamatan sekitar yang berdekatan dengan wilayah kerja panasbumi,” ujarnya seperti dirilis laman Kementeriaan ESDM Jumat (2/11/2018).

Ditambahkan Rudy, Pemkab Garut mulai menerima bonus produksi panasbumi sejak tahun 2006. Hingga tahun 2018 sekarang total bonus produksi panasbumi yang telah diterima Pemkab Garut melalui kas daerah sebesar Rp 275 miliar.

Rudy pun yakin keberadaan bonus produksi panasbumi dapat menjadi solusi untuk mengatasi keluhan penduduk yang tinggal dekat dengan fasilitas produksi panasbumi atau PLTP.

Dalam kesempatan itu ia menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan panasbumi di wilayahnya. Bahkan Rudy yang membeberkan studi tim survei geologi, menyebutkan potensi panasbumi Kabupaten Garut yang memiliki potensi 1.000 MW.

“Kapasitas terpasang saat ini 500 MW, dan kami selaku Pemerintah Daerah akan terus mendukung ini,” ungkap Rudy.

Sementara itu, dalam rilisnya, Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) menyatakan, kegiatan pengusahaan panasbumi, telah menyetorkan bonus produksi sebesar Rp 185,18 miliar periode 2014 sampai dengan triwulan II tahun 2018.

Bonus produksi ini wajib disetorkan oleh pengembang panasbumi kepada Pemerintah Daerah Penghasil. Tercatat sebanyak 25 Kabupaten/Kota sebagai daerah penghasil yang telah menerima bonus produksi, dan Pemerintah Kabupaten Bandung merupakan penerima terbesar yaitu sebesar Rp 79,06 miliar.

Disebutkan pula, energi panasbumi menyumbang tidak hanya pendapatan negara melalui Pendapatan Belanja Negara Bukan Pajak (PNBP) tetapi juga bonus produksi bagi Pemerintah Daerah. Pemerintah Kabupaten/Kota mendapatkan tambahan pemasukan dan manfaat dari bonus produksi panasbumi dengan skema bagi hasil, yaitu sebanyak 20% untuk Pusat dan 80% untuk Daerah. Persentase bonus produksi untuk daerah kemudian dibagi porsinya menjadi 16% untuk Pemerintah Provinsi, 32% untuk Pemerintah Kabupaten/Kota Penghasil dan 32% untuk Pemerintah Kabupaten/Kota lain.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 21 tahun 2014 tentang Panas Bumi, untuk penjualan uap panas bumi, bonus produksi yang harus dibayarkan pengembang sebesar 1 persen dari pendapatan kotor. Sedangkan untuk penjualan listrik, bonus produksinya ditetapkan lebih rendah, yakni 0,5 persen dari pendapatan kotor. Parameter dan bobot yang dijadikan dasar perhitungan bonus produksi meliputi luas wilayah kerja, infrastruktur produksi, infrastruktur penunjang, dan realisasi produksi.

“Diharapkan bonus produksi dapat memupuk rasa kepemilikan oleh masyarakat terhadap kegiatan pengusahaan panasbumi sehingga tercipta sinergi antara masyarakat dengan badan usaha pengembang panasbumi dalam upaya pemanfaatan sumber daya panasbumi,” kata Direktur Panasbumi ESDM, Ida Nuryatin Finahari, di sela-sela kegiatan sosialisasi. (es)