Ciater, Air Panas Bumi dan Pandemi

Ciater, Air Panas Bumi dan Pandemi

Pengunjung bersuka ria berendam di air panas Ciater Subang. (*)

PABUMNews – Objek wisata air panas Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kembali menggeliat, meski tentu tak seramai seperti kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, objek wisata Ciater sempat ditutup selama dua bulan yakni April-Mei 2020 terkait Covid-19. Pada bulan Juni, objek wisata ini dibuka kembali dengan catatan baik pengunjung maupun pengelola harus menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.

Penutupan objek wisata air panas Ciater memberikan dampak cukup hebat bagi warga. Akibat penutupan tersebut, ribuan keluarga di Desa Ciater praktis kehilangan sumber pendapatan.

Didi salah seorang tokoh masyarakat Desa Ciater, mengatakan, pendapatan sebagian besar masyarakat Ciater sangat bergantung pada keramaian pengunjung objek wisata air panas.

“Maka dengan ditutupnya objek wisata air panas Ciater akibat pandemi Covid-19, ekonomi masyarakat lumpuh karena tidak ada penghasilan. Sepertinya, denyut kehidupan langsung berhenti,” ujar Didi kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, keberadaan objek wisata air panas mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi warga sekitar. Di antaranya ada yang berdagang, juru parkir, ngojek, rental kuda, jasa penginapan dan sebagainya.

“Pendapatan mereka amat bergantung pada jumlah kunjungan wisatawan. Maka dengan ditutupnya objek wisata air panas, otomatis kegiatan warga pun terhenti,” ujarnya.

Namun Didi bersyukur, kini objek wisata air panas kembali dibuka seiring dengan diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau new normal di tengah pandemi Covid-19.

Menurut keterangan, pengembangan Ciater sebagai kawasan wisata dilakukan sejak tahun 1970-an. Pengembangan dilakukan oleh Pemda Subang bekerjasama dengan PTPN VIII Ciater. Kerjasama ini kemudian melahirkan objek wisata Sari Ater.

Kemunculan objek wisata ini mendorong tumbuhnya kegiatan-kegiatan ekonomi baru di tengah masyarakat. Sebelumnya, sebagian besar warga Ciater bermata pencaharian sebagai buruh tani dan pemetik teh di perkebunan teh PTPN VIII. Namun setelah Sari Ater berdiri, banyak warga yang beralih menjadi pedagang, menyewakan kuda, menyewakan penginapan sederhana, dan sebagainya.

Intinya, pemanfaatan langsung panas bumi di Ciater memang memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga.