Di Mata Habibie, Panasbumi Harus Menjadi Pilihan

Di Mata Habibie, Panasbumi Harus Menjadi Pilihan

Prof. BJ Habibie (sumber foto: moneysmart.id)

PABUMNews- Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2007, Al Gore, sempat berkunjung ke Indonesia tahun 2011 lalu. Salah satu yang menjadi perhatian Al Gore tentang Indonesia adalah energi panasbuminya.

Saat itu Al Gore meyakini, Indonesia akan menjadi negara pengguna energi panasbumi terbesar di dunia! Dan Al Gore benar. Menginjak tahun 2018 lalu, atau hanya berselang tujuh tahun setelah Al Gore memberikan pernyataan, Indonesia langsung menjadi nomor dua sebagai negara pengguna energi panasbumi paling besar di dunia, menyalip Filipina. Dan sebentar lagi, Indonesia menargetkan menyalip Amerika Serikat yang hingga kini bertengger di nomor satu sebagai negara pengguna energi panasbumi terbesar di dunia.

Namun yang lebih menusuk soal penggunaan energi panasbumi di Indonesia adalah BJ Habibie. Putra bangsa terbaik yang mendapatkan tempat terhormat di Jerman karena keahliannya dalam bidang penerbangan itu mengatakan, potensi energi panasbumi Indonesia, tak hanya bisa dimanfaatkan untuk energi listrik rumah tangga atau industri, namun juga energi listrik transportasi massal seperti kereta.

“Jika Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) telah banyak didirikan, maka jangan hanya diamnfaatkan untuk listrik rumah tangga, tapi juga diarahkan menjadi penggerak layanan publik seperti tranportasi,” tegasnya saat memberikan pemaparan dalam seminar Refleksi Tiga Tahun Pelaksanaan Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di JCC, Jakarta, September 2014 lalu.

Pernyataan Habibie itu dilontarkan sekitar empat tahun silam, namun tentu saja tetap relevan dengan kondisi kekinian di bidang keenergian kita. Apalagi, 40 persen energi panasbumi dunia ada di Indonesia. Seperti dikatakan Habibie, dengan potensi sebesar itu, energi dari PLTP bisa menunjang energi kereta listrik dan di pulau-pulau yang sampai sekarang tak memiliki kereta listrik.

“Jadi dengan potensi yang sangat bear tersebut, Indonesia bisa menggunakan energi panasbumi untuk transportasi, dari Jawa, Sumatera Kalimantan, Bali dan Papua. Saya bayangkan, transportasi itu memanfaatkan kereta, dan itu memanfaatkan listrik dari panasbumi,” katanya.

Menurut Habibie, kualitas panasbumi di Indonesia terbaik sedunia. Kandungan fluida panasbumi di Indonesia umumnya berkategori temperatur sedang dan tinggi, antara 125 derajat celcius hingga lebih dari 225 derajat celcius.

“Artinya, listrik yang dihasilkan dari panasbumi tidak akan kalah dengan teknologi pembangkit lain,’ ujarnya.

Dalam kesempatan itu pun Habibie menyarankan agar pembangkit listrik Indonesia tidak bergantung pada bahan bakar fosil yang jumlahnya terbatas dan menimbulkan efek pencemaran lingkungan.

“Tidak dari gas alam, tidak dari BBM. Lagipula, panasbumi itu relatif bersih, pencemaran udara lebih kurang,” ungkapnya saat itu.

Habibie pun mengingatkan, penyediaan pasokan listrik adalah tantangan energi yang akan terus dihadapi Indonesia. Sekarang ini seluruh komponen pembangunan, termasuk transportasi masyarakat membutuhkan listrik. Oleh karena itu, panasbumi sebagai potensi terbesar yang dimiliki Indonesia harus menjadi pilihan. (es)