Halmahera Jadi Percontohan Kluster Ekonomi Berbasis Energi Panasbumi

Halmahera Jadi Percontohan Kluster Ekonomi Berbasis Energi Panasbumi

Pantai di Pulau Halmahera (sumber foto: goodnewsfromindonesia.id)

 

PABUMNews – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menjadikan Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara, sebagai percontohan kluster ekonomi berbasis energi panasbumi.

“Kami sedang menjajaki Halmahera Tengah dan Utara. Di sana ada potensi listrik dari panasbumi 800 MW. Dengan potensi sebesar itu, di daerah tersebut akan dibangun industri perikanan dan pelabuhan,” kata Dirjen EBTKE, Kementerian ESDM, FX Sutijastoto, saat menggelar Focus Discusion Group (FGD) tentang Road Map Panas Bumi di Kementerian ESDM, Selasa (16/4/2019) lalu.

Pengembangan industri di Halmahera, lanjutnya, akan meningkatkan kebutuhan terhadap energi listrik.

“Kebutuhan industri akan energi listrik tersebut akan dipasok dari pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP). Dengan demikian pembangunan pembangkit panasbumi akan termanfaatkan, di sisi lain industri pun berkembang,” jelasnya.

Ditambahkan Sutijastoto, potensi panasbumi Indonesia sangat besar yakni 28.500 MW, namun baru termanfaatkan 11,5% saja. Oleh karena itu, perlu upaya lebih keras agar potensi panasbumi dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Halmahera di Provinsi Maluku Utara memang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Pulau ini memiliki potensi hipotetik mineral Nikel sebesar 238 juta ton, kemudian potensi perikanan, dan industri lainnya, dan potensi panasbumi.

Potensi-potensi itulah yang melatarbelakangi pemerintah menjadikan Halmahera sebagai percontohan kluster ekonomi berbasis energi panasbumi.

Seperti dimuat di laman setkab.go.id tahun 2018 lalu, terkait rencana itu pemerintah akan membagi Halmahera menjadi dua klaster berdasarkan letak wilayah yaitu, Halmahera Utara (Klaster Ekonomi 1) dan Halmahera Selatan (Klaster Ekonomi 2). Klaster Ekonomi 1 didominasi oleh industri pertambangan logam sementara Klaster Ekonomi 2 potensinya lebih beragam.

“Pulau Halmahera diharapkan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan percontohan pengembangan energi bersih. Untuk memenuhi potensi ekonomi ini, kebutuhan listrik pun akan meningkat, setidaknya mencapai 700 MW dalam beberapa tahun ke depan” ujar Sutijastoto.

Panasbumi, lanjutnya selain ramah lingkungan juga memberikan ketahanan energi di masa depan, mengingat panasbumi tidak tergantung kepada fluktuasi harga energi dunia. Saat ini untuk panasbumi di Pulau Halmahera, sudah tiga wilayah mendapat izin pengelolaan WKP yaitu WKP Gunung Hamiding, Songa Wayaua dan Jaillolo.

Potensi pasokan panas bumi dari WKP Gunung Hamiding yang dikelola oleh PT Star Energy Geothermal memiliki cadangan terduga 265 MW dan upside potential pengembangan lapangan dapat mencapai 795 MW dengan target Commercial Operation Date (COD) pada tahun 2024. PT PLN (Persero) mengelola dua WKP yaitu WKP Jailolo dengan cadangan terduga 70 MW dan WKP Songa Wayaau dengan potensi sebesar 10 MW. (es)