Hingga Tahun 2025 Indonesia Butuh 10.000 Tenaga Profesional Panasbumi

Hingga Tahun 2025 Indonesia Butuh 10.000 Tenaga Profesional Panasbumi

Teknisi PT Pertamina Geothermal Energi (sumber foto: Pertamina)

PABUMNews- Indonesia membutuhkan tenaga profesional di bidang panasbumi sekitar 10.000 orang untuk mengejar target kapasitas terpasang 7,5 GW pada tahun 2025.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pemerintah RI lewat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melakukan kerjasama dengan Pemerintah Belanda mengembangkan pendidikan dan pelatihan energi panasbumi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan, untuk memperkuat pencapaian target kapasitas energi panasbumi, pihaknya ikut pula mengembangkan kerjasama dengan Pemerintah Belanda agar tersedia SDM-SDM yang handal di sektor panasbumi.

“Bentuk kerjasamanya yaitu pembentukan program studi dan pelatihan energi panasbumi bagi masyarakat Indonesia,” jelasnya seperti dirilis katadata.co.id pada Kamis (7/2/2019) lalu.

Menurut Bambang, kebutuhan Indonesia akan tenaga kerja ahli panasbumi mencapai 10.000 orang untuk memanfaatkan energi panasbumi hingga mencapai 7,5 GW sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Masih kata Bambang, selain masih kekurangan ahli di bidang panasbumi, Indonesia juga masih kekurangan lembaga pendidikan di bidang panasbumi.

“Kalau bicara universitas yang punya bidang terkait geothermal juga belum banyak,” katanya.

Bambang menambahkan, selain mendidik tenaga-tenaga ahli, upaya lain dalam mendorong pengembangan energi panasbumi adalah harus ada insentif pada tahapan eksplorasi untuk menekan biaya investasi. Menurutnya, insentif diperlukan karena eksplorasi panasbumi membutuhkan investasi besar dan risiko tinggi.

Dengan insentif itu, ujarnya, harga jual listrik dari pengembang panasbumi kepada PLN bisa menutup biaya investasi.

Dijelaskannya pula, dengan potensi 28 GW, Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia yang memiliki potensi panasbumi. Namun di balik besarnya potensi tersebut, pemanfaatannya hingga sekarang baru mencapai 2 GW, atau 7 persen.

“Sementara Filipina, Italia, dan Selandia Baru sudah memanfaatkan energi panasbumi mencapai 30%. Berarti sekarang harus menyusun rencana bagaimana memanfaatkan panasbumi ini sampai 30%,” cetus Bambang.

Terjalin sejak 2008

Untuk diketahui, kerjasama Indonesia dengan negeri “Kincir Angin” di bidang panasbumi sebenarnya sudah terjalin sejak tahun 2008 lalu. Pada tahun itu, Belanda mengalokasikan bantuan dana 50 juta Euro untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Bantuan tersebut kemudian diaplikasikan untuk meningkatkan kapasitas dalam perencanaan energi, investasi pembangkit tenaga listrik mikro hidro dan pengembangan energi panasbumi. (es)