IIGW ke-9, Ketua API: Harga Panas Bumi Tak Bisa Andalkan Bisnis to Bisnis Semata

IIGW ke-9, Ketua API: Harga Panas Bumi Tak Bisa Andalkan Bisnis to Bisnis Semata

Chairman of IIGW, Dr. Eng Suryantini dan Ketua API Prijandaru Effendi dalam pembukaan IIGW ke-9. (*)

PABUMNews – Perkembangan panas bumi Indonesia sampai sekarang masih belum begitu menggembirakan. Pemerintah dengan dukungan Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) belum mampu menawaran solusi untuk menarik investor panas bumi.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua API Prijandaru Effendi saat memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan “9th ITB International Geothermal Workshop 2020” yang disiarkan langsung dalam Youtube, Senin (10/8/2020).

Prijandaru menegaskan, tantangan panas bumi Indonesia sekarang adalah keekonomian harga. Di sisi lain, kepastian regulasi pun menjadi sebuah masalah besar yang hingga kini belum terselesaikan.

“Penetapan harga merupakan elemen kunci untuk pengembangan panas bumi di Indonesia sekarang ini,” katanya.

Prijandaru menjelaskan, seretnya pengembangan panas bumi di Indonesia, terlihat dari masih sangat kecilnya potensi yang dimanfaatkan. Menurutnya, dengan potensi 25.000 MW yang dimiliki Indonesia, baru 8 persen saja yang dimanfaatkan.

“Dengan potensi panas bumi yang melimpah tersebut, energi bersih ini bisa dijadikan andalan untuk ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi penggunaan energi yang tak ramah lingkungan,” ujarnya.

Negara harus hadir
.
Prijandaru menambahkan, PLN merupakan pembeli tunggal listrik di Indonesia. Namun di sisi lain, sebagai BUMN PLN tak bisa dipaksa untuk membeli listrik dengan harga di luar keterjangkauan dan kemampuan tanpa campur tangan pemerintah.

“Oleh karena itu negara pun harus hadir sebab untuk kondisi saat ini harga panas bumi tak bisa cuma mengandalkan bisnis to bisnis saja. Ini penting agar semangat mempromosikan panas bumi terus bisa dilakukan,” katanya.

Namun, Prijandaru meyakini bahwa pemerintah sangat memahami masalah tersebut sehingga kini disusun Perpres EBT di mana salah satu pointnya mengatur skema pemanfataan panas panas bumi sehingga panas bumi bisa lebih dikembangkan namun juga masuk harga keekonomian pengembang.

Prijandaru pun mengungkapkan kegembiraannya sebab di tengah masalah harga dan kepastian regulasi yang hingga kini belum ada solusi, kapasitas panas bumi Indonesia ternyata masih bisa bertambah.

Menurutnya, sebelum tahun 2020 berakhir, kapasitas panas bumi Indonesia akan bertambah sebesar 140 MW. Penambahan diharpakan terjadi juga di penghujung tahun 2020 dengan kapasitas 20 MW hingga 70 MW.

Di akhir sambutan, Prijandaru menyampaikan kekagumannya dan dorongannya kepada pihak ITB, terutama kepada Program Magister Teknik Panas Bumi yang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan meski situasi pandemi Covid-19 masih tejadi.

Sebelumnya, Chairman of IIGW, Dr. Eng Suryantini, menyatakan, meskipun diselenggarakan secara virtual terkait pandemi Covid-19, kegiatan IIGW ke 9 ini sangat spesial karena digelar bertepatan dengan HUT ITB yang ke-100.

“Selamat Ulang tahun yang ke-100 ITB,” kata dosen Program Magister Teknik Panas Bumi ITB yang juga salah satu pengurus teras di International Geothermal Association (IGA) itu.

Suryantini menambahkan, kegiatan IIGW dimulai dari 10 hingga 13 Agutus, dimulai dari pukul 15.00 hingga pukul 18.00 sore waktu Jakarta setiap hari.

Di hari pertama kegiatan, hadir juga Presiden IGA Andrea Blair. Dalam kesempatan tersebut, Andy, panggilan akrab Andrea Blair, memaparkan tentang perkembangan geothermal di Selandia Baru dan dampak positifnya bagi masyarakat adat setempat.

Selain Presiden IGA, Andrea Blair juga Direktur Upflow (NZ), perusahaan konsultan pengembangan panas bumi di Selandia Baru. Ia juga aktif di beberapa organisasi panas bumi, di antaranya Ketua Global, Women in Geothermal (WING); Anggota Dewan Tata Kelola dan Ketua Energi, Bay of Connections (Badan Pengembangan Ekonomi Daerah). Andy sebelumnya adalah Ketua Ringa Matau Ltd, cabang komersial Tauhara North Number 2 Trust. (es)