Indonesia Penyumbang Terbesar Kedua Penambahan Kapasitas Global Panasbumi

Indonesia Penyumbang Terbesar Kedua Penambahan Kapasitas Global Panasbumi

Table kapasitas global panasbumi berikut penambahannya pada tahun 2019. Sumber: Thinkgeoenergy

PABUMNews – Indonesia menjadi negara penyumbang terbesar kedua dalam penambahan kapasitas global energi panasbumi tahun 2019. Sementara negara yang menyumbang penambahan paling besar pada tahun 2019, ditempati oleh Kenya.

Pada tahun 2019, Indonesia berhasil menambah kapasitas energi panasbumi sebesar 185 MW, sementara Kenya menambah 193.3 MW.

Alex Richter, pemimpin situs panasbumi thinkgeoenergy, menyatakan, tahun 2019, kapasitas panasbum global mendapat tambahan sebesar 759 MW. Dengan penambahan tersebut, maka kapasitas terpasang global panasbumi pada tahun 2019 mencapai 15.406 MW.

“Penambahan pada tahun 2019 tersebut merupakan yang terbesar selama 20 tahun terakhir,” jelas Richter, Selasa (27/1/2020).

Richter pun merilis negara-negara dengan kapasitas terpasang panasbumi terbesar di dunia pada tahun 2019, sekaligus penambahannya.

Inilah rilisan Alex Richter

Amerika Serikat – 3.676 MW – dengan tambahan 23 MW .

Indonesia – 2.133 MW – dengan tambahan 185 MW

Filipina – 1.918 MW – penambahan 50 MW tidak cukup jelas.

Turki – 1.526 MW – 179 MW ditambahkan pada 2019, dengan ketidakpastian yang masih ada mengenai FIT

Selandia Baru – 1.005 MW – tidak ada tambahan pada tahun 2019

Meksiko – 962,7 MW – satu tambahan 27 MW, tetapi bersihnya hanya tumbuh 11,7 MW karena kapasitas non-operasional.

Italia – 944 MW – dengan iklim politik saat ini, jumlah ini mungkin tidak banyak berubah dalam waktu dekat

Islandia – 755 MW – satu tambahan 5 MW menggantikan pabrik 3 MW yang lama

Kenya – 861 MW – penambahan 193,3 MW ekspansi terbesar menurut negara tahun ini

Jepang – 601 MW – dengan penambahan 51,6 MW.

Negara-negara lain – 1.024 MW

Richter menjelaskan, mengumpulkan data tentang pengembangan pembangkit listrik tenaga panasbumi adalah hal yang sulit dan karena itu perlu waktu lebih lama.

“Anda akan menemukan perbedaan dalam data yang dilaporkan oleh berbagai sumber dan ada banyak alasan untuk ini. Beberapa organisasi melaporkan kapasitas kotor, yang lain beroperasi….. Mereka semua memiliki satu tantangan yang sama dan itu adalah bahwa negara-negara dan organisasi sering tidak menyajikan angka yang sama,” ungkapnya.

Mengenai kapasitas terpasang masing-masing negara yang disajikan di atas, Richter menyebutkan, data itu didasarkan atas pembangkit yang beroperasi. (es)