Ini Perintah Jokowi untuk Menteri ESDM Baru

Ini Perintah Jokowi untuk Menteri ESDM Baru

PABUMNews – Arifin Tasrif, Menteri ESDM yang baru, menanggung beban cukup besar. Saat pelantikan para menteri Rabu (23/10/2019) lalu, Presiden RI Joko Widodo meminta agar Arifin Tasrif merealisasikan bauran energi baru terbarukan (EBT) 23 persen dan mengurangi impor migas.

“Saya kira untuk tugas merealisasikan energi baru terbarukan, untuk mengurangi impor migas dan lain-lainnya berada di bawah beliau (Arifin Tasrif),” ungkap Presiden Jokowi.

Seperti diketahui, untuk mengejar target bauran energi tahun 2025, pemerintah telah menargetkan panasbumi bisa mencapai kapasitas 6000-7000 MW, atau berkontibusi sebesar 7 persen dalam bauran energi. Artinya, masih dibutuhkan sekitar 5000 MW lagi untuk mengejar target tersebut.

Tak hanya bersih sehingga ramah lingkungan, energi panasbumi juga memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberhasilan Indonesia dalam mencapai target kapasitas terpasang dari panasbumi, akan menekan impor minyak ratusan ribu barel per hari.

“Pemerintah telah menargetkan pada tahun 2025 mendatang kapasitas panasbumi bisa mencapai 6.000-7.000 MW. Kalau kita hitung menurut energinya, kalorinya itu setara membakar 100.000 barel minyak per hari. Artinya apa, kalau target kita panas buminya tidak mencapai 6.000-7.000 MW kita harus mengimpor atau membakar minyak 100.000 barel minyak per hari,” ujar Dirjen EBTKE, FX Sutijastoto di Jakarta, Agustus lalu.

Sementara mantan Wakil Menteri ESDM, Archandra Tahar berkali-kali mengatakan, menggenjot pemanfaatan EBT juga dalam rangka mewujudkan pengelolaan energi dan sumber daya alam yang berdaulat. Tujuannya adalah agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan energi nasional tanpa bergantung dengan negara lain.

“Kedaulatan energi ini intinya adalah mampukah kita menyediakan energi dari dalam negeri. Bukan bergantung pada impor,” ungkapnya.\

Archandra juga mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan potensi panasbumi yang melimpah. Kekayaan yang merupakan local wisdom ini harus dimanfaatkan untuk mendukung tercapainya target kedaulatan energi.

Saat ini, lanjutnya, kebutuhan Indonesia akan bahan bakar minyak (BBM) sudah mencapai 1,4 juta barel per hari. Dari kebutuhan itu, dipenuhi oleh produksi sendiri sekitar 760 ribu barel per hari dan sisanya dipenuhi melalui impor.

Bisakah Arifin Tasrif mewujudkan target pemerintahan Jokowi-Ma’aruf Amin menuju kedaulatan energi? Kita tunggu. (es)