Inilah Bocoran Skema Harga Listrik Panas Bumi dalam Rancangan Perpres EBT

Inilah Bocoran Skema Harga Listrik Panas Bumi dalam Rancangan Perpres EBT

Instalasi PLTP Kamojang, Jawa Barat. (*)

PABUMNews – Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang harga listrik energi baru terbarukan (EBT) sudah ada di meja Presiden RI dan tinggal ditandatangani.

Menurut bocoran yang diterima Pabumnews, Kamis (9/7/2020), rancangan Perpres tersebut mengatur juga skema harga listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Padahal beberapa waktu lalu, Menteri ESDM Arifin Tasrif sempat mengatakan harga listrik dari PLTP akan ada aturan tersendiri.

Dalam rancangan Perpres tersebut disebutkan, untuk listrik dari PLTP, skemanya adalah harga patokan tertinggi (ceiling price). Inilah rinciannya:

Sebesar US$ 4,56 sen per kWh untuk kapasitas di atas 100 MW;
Sebesar US$ 5,57 sen untuk kapasitas 50-100 MW;
Sebesar US$ 6,26 sen untuk kapasitas 10-50 MW;
Sebesar US$ 6,8 sen per kWh untuk kapasitas hingga 10 MW.

Rancangan perpres itu pun menyatakan, khusus panas bumi, pemerintah dapat melakukan eksplorasi atau memberikan kompensasi biaya eksplorasi dan pengembangan infrastruktur kepada pengembang. Diperkirakan, harga yang ditetapkan pemerintah untuk panas bumi, merupakan harga murni listrik tanpa mempertimbangkan biaya infratruktur di luar pembangunan pembangkit.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) Prijandaru Effendi mengatakan, skema Feed in Tariff lebih cocok untuk panas bumi. Menurutnya, Dengan feed in tariff, artinya harga pembelian listrik PLTP akan berdasarkan keekonomian proyek.

“Dengan feed in tariff, sekali kami dapat (izin), semua settle di depan. Soalnya tidak ada negosiasi dengan PLN, langsung dikasih penugasan,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Listrik EBT di luar panas bumi

Sementara itu, untuk harga listrik EBT di luar panas bumi, rancangan Perpres mengatur skema Feed in Tariff, penawaran terendah, dan kesepakatan.

Skema Feed in Tariff diberlakukan untuk PLTA, PLTS, PLTB, dan ekspansi PLTS dan PLTB berkapasitas maksimal 20 megawatt (MW), serta PLTBm dan PLTB, termasuk proyek ekspansi maupun sisa produksi listrik (excess power) dengan kapasitas maksimal 10 MW.

Untuk harga penawaran diterapkan untuk PLTS dan PLTB berkapasitas lebih dari 20 MW, serta PLTBm dan PLTBg lebih dari 10 MW.

Sedangkan skema kesepakatan diterapkan untuk PLTA, PTLS, dan PLTB berkapasitas lebih dari 20 MW, PLTA peaker maupun proyek ekspansi dan penjualan excess power untuk semua kapasitas terkontrak, proyek ekspansi dan excess power PLTBm dan PLTBg berkapasitas lebih dari 10 MW, serta pembangkit listrik bahan bakar nabati (BBN) dan energi laut.

Rancangan Perpres juga menetapkan besaran harga pembelian listrik energi terbarukan berdasarkan kapasitas dan lebih tinggi di masa awal pembangkit listrik beroperasi, yakni di kisaran 12-15 tahun pertama. Selanjutnya, harga listrik dipatok lebih rendah hingga kontrak berakhir di tahun ke-30. Selain itu,

Selain itu, Perpres pun mempertimbangkan faktor lokasi pembangkit di mana lokasi akan menjadi faktor pengkali (F). Faktor ini terbagi menjadi sembilan kelompok dengan besaran 1 sampai dengan 2. Besaran faktor lokasi ini semakin besar untuk daerah Indonesia bagian timur dan pulau-pulau kecil.

Inilah harga listrik EBT yang tercantum dalam Rancangan Perpres EBT:

Harga listrik per kilowatt hour (kWh) untuk PLTA yang memanfaatkan aliran atau terjunan air ditetapkan di kisaran US$ 5,8 sen dikali F untuk kapasitas lebih dari 100 MW hingga tertinggi di US$ 9,36 sen dikali F untuk kapasitas 3-5 MW.

Untuk PLTA yang memanfaatkan bendungan atau fasilitas lain milik Kementerian PUPR, harga listriknya US$ 5,8 sen x 0,9 x F untuk kapasitas lebih dari 100 MW dan US$ 10,55 sen x 0,9 x F untuk kapasitas di bawah 1 MW.

Untuk PLTS, harga listrik ditetapkan dari kisaran US$ 6,5 sen x F untuk kapasitas lebih dari 20 MW hingga US$ 10,8 sen x F untuk kapasitas maksimal 1 MW.

Harga listrik PLTB yakni dari kisaran US$ 10 sen x F untuk kapasitas di atas 20 MW hingga US$ 13,18 sen x F untuk kapasitas di bawah 10 MW. Khusus PLTS dan PLTB, harga tersebut belum termasuk fasilitas baterei.

Harga listrik PLTBm ditetapkan dari kisaran US$ 10,24 sen x F untuk kapasitas lebih dari 10 MW hingga US$ 12,93 sen x F untuk kapasitas maksimal 1 MW.

Harga listrik PLTBg ditetapkan dari kisaran US$ 7,66 sen x F untuk kapasitas di atas 10 MW hingga US$ 9,96 sen untuk kapasitas sampai dengan 1 MW. (Den)