Ir. Nenny Saptadji Peraih “Satya Lencana Karya Satya” Panasbumi, Terbitkan Buku “Teknik Geothermal”

Ir. Nenny Saptadji Peraih “Satya Lencana Karya Satya” Panasbumi, Terbitkan Buku “Teknik Geothermal”

Ir. Nenny Saptadji, Ph.D (duduk) bersama para mahasiswanya (sumber foto : FB Nenny Saptadji)

PABUMNews- Di dunia panasbumi, sosok wanita ini tentu tak asing lagi. Namanya Ir. Nenny Miryani Saptadji, Ph.D. pakar panasbumi Indonesia ini juga merupakan salah seorang penggagas dan pendiri langsung Program Magister Teknik Panasbumi di kampus tempatnya mengajar, ITB.

Sejak tahun 1987, Nenny yang dosen Teknik Perminyakan ini, mendalami bidang energi panasbumi di Univ. Auckland, New Zealand. Ia melihat bahwa panasbumi memiliki banyak keunggulan dibanding sumber energi lainnya. Dari New Zealand, ia pun memperoleh gelar Ph.D di bidang panasbumi. Karena pengetahuan panasbuminya yang mumpuni, Universitas Auckland tempatnya menimba ilmu, sempat pula memintanya untuk mengajar.

Melihat sumbangsihnya yang sangat besar dalam pengembangan energi baru terbarukan, khususnya panasbumi bagi Indonesia, tahun 1998 wanita ini dianugerahi penghargaan Presiden RI berupa Sayta Lencana Karya Satya 10 tahun.

Nenny pun aktif dalam forum-forum kelimuan panasbumi. Ia pernah menjadi Ketua Tim Teknis “World Geothermal Congress 2010″. Di sela kesibukannya, ia pun sempat menjadi Komisaris Independen PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Ketua Komite Audit PT PGN (Persero) dan tenaga ahli Komisaris PT Pertamina (Persero) dari 2003 -2004.

Kini, di sela waktunya yang padat, wanita ini pun sempat menulis buku tentang panasbumi. Bukunya yang paling anyar berjudul “Teknik Geothermal”. Yang menarik, buku yang diterbitkan oleh kampusnya, ITB itu, tadinya hanya dicetak 150 eksemplar saja, namun karena permintaan membludak, malah kini diperbanyak berkali lipat. Informasi terakhir, kini masih banyak pesanan yang belum terpenuhi sementara buku yang ada telah sold out. Maka pihak ITB kini mencetaknya kembali.

Hal itu tentu merupakan pertanda bagus yang mengindikasikan bahwa masyarakat mulai tertarik dengan panasbumi. Jadi, makin banyak buku Nenny beredar, makin banyak orang membaca dan memahami apa itu energi panasbumi. Maklum, panasbumi merupakan bidang baru di Indonesia sehingga masih difahami oleh kalangan yang relatif terbatas.

Buku “Teknik Geothermal” terdiri dari 11 bab. Isinya sangat lengkap, tak hanya menguraikan tentang seluk beluk panasbumi dan pengusahaannya dari sisi keilmuan panasbumi itu sendiri, tapi juga menguraikan pula regulasi pengusahaannya jika hendak dimanfaatkan menjadi energi.

Jika Anda penasaran, inilah isi masing-masing bab yang ada di buku Teknik Geothermal yang penulis ambil langsung dari akun FB Nenny Saptadji.

Setelah Bab Kesatu tentang sistematika penulisan, maka pada Bab Kedua pembaca akan disuguhi secara lengkap apa itu geothermal. Dengan bahasa ringan dan sederhana, maka bahasan panasbumi yang biasanya rumit dan ngejlimet, dibahasakan oleh Nenny secara komunikatif. Dengan demikian, Anda yang relatif awam dengan panasbumi pun, dijamin akan sangat memahami seluk panasbumi jika membaca buku ini.

Bab kedua ini sangat rinci. Nenny memberikan gambaran secara utuh apa itu geothermal, bagaimana pembentukannya, apa sebabnya terbentuk, model-model geothermal di Indonesia dan sebagainya. Di bab ini juga dibahas hal penting yang perlu diketahui tentang reservoir dan sebagainya.

Di bab inilah Nenny menguraikan pemahaman dasar mengenai geothermal. Membaca bab ini saja, wawasan Anda akan terbuka bahwa panasbumi berbeda dengan gas dan minyak bumi, meskipun dalam beberapa hal nampak serupa. Karena berbeda maka pekerjaan-pekejaan yang dilakukan di bidang geothermal pun berbeda dengan sektor migas.

Kemudin di Bab Tiga, yang berjudul Pemanfaatan Energi Geotermal dibahas berbagai pemanfaatan panasbumi, baik untuk sektor listrik maupun untuk sektor non-listrik yang dilaksanakan di berbagai lapangan geotermal, baik Indonesia maupun dunia.

Nenny membahas pemanfaatan fluida geothermal untuk pembangkit listrik diawali dengan pembahasan tentang sistem pembangkit listrik tenaga geothermal atau PLTP dan perbedaannya dengan pembangkit listrik uap PLTU. Bab ini pun membahas beberapa jenis siklus konversi dan pemakaiannya di beberapa lapangan, khususnya di lapangan- – lapangan Indonesia, antara lain di Kamojang (Jawa Barat), Darajat (Jawa Barat), Awibengkok-Salak (Jawa Barat), Wayang Windu (Jawa Barat), Patuha (Jawa Barat), Dieng (Jawa-Tengah), Lahendong (Sulawesi Utara) dan Sarulla (Sumatera Utara).

 

Di dalam bab ini dibahas juga pemanfaatan panasbumi untuk non listrik atau pemanfaatan langsung, di antaranya untuk wisata, pemanasan air, pemanasan rumah kaca, pengeringan produk pertanian, pemanasan tanah di beberapa negara, dan juga di beberapa daerah di Indonesia.

Di Bab Empat, berjudul Kegiatan Pengusahaan Geotermal, Nenny menguraikan regulasi kegiatan survei pendahuluan, kegiatan eksplorasi, studi kelayakan, kegiatan eksplotasi dan pemanfaatan geotermal di Indonesia. Pada bab ini diuraikan garis besar kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap-tahap tersebut.

Bab 5 berjudul Sifat Batuan dan Fluida Geotermal Bab ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama membahas mengenai sifat petrofisik batuan geotermal, bagian kedua membahas sifat termodinamika uap, air dan campuran dari keduanya pada berbagai tekanan dan temperatur, sedangkan bagian ketiga membahas tentang sifat geokimia fluida geotermal.

Bab 6 berjudul Sumberdaya, Cadangan dan Potensi Listrik Geotermal. Pada bab ini dijelaskan metoda yang umum digunakan untuk memperkirakan besar sumberdaya (resources) atau energi panas yang terkandung di dalam reservoir, besar cadangan atau energi geotermal yang dapat dimanfaatkan dan besar potensi listrik apabila reservoirnya dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik selama perioda waktu tertentu.

Bab 7 berjudul Pengujian Sumur Geotermal. Bab ini membahas berbagai teknik pengujian sumur geotermal, mulai uji komplesi, uji panas dan uji produksi, serta metoda-metoda yang digunakan untuk menganalisa data yang diperoleh dari hasil pengujian sumur. Metoda uji produksi yang dibahas meliputi metoda lip-pressure (uji tegak dan uji datar), metoda kalorimeter dan metoda separator.

Bab 8 berjudul Fasilitas Produksi Uap dan Pembangkit Listrik. Bab ini membahas semua fasilitas produksi uap mulai dari sumur hingga ke PLTP dan fasilitas yang diperlukan untuk membangkitkan listrik (PLTP).

Bab 9 berjudul Estimasi Kebutuhan Uap Untuk Pembangkit Listrik. Bab ini membahas faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kapasitas PLTP yang akan dibangun dan metoda yang digunakan untuk menentukan jumlah uap yang dibutuhkan oleh turbin untuk membangkitkan listrik dan jumlah sumur yang perlu diproduksikan untuk mensuplai uap ke turbin.

Bab 10 berjudul Perubahan Kondisi Reservoir akibat Eksploitasi. Pembahasan terdiri dari dua, yaitu: (1) perubahan di dalam reservoir dominasi-uap akibat eksploitasi dan (2) perubahan di dalam reservoir dominasi-uap akibat eksploitasi. Untuk perubahan di dalam reservoir dominasi-uap, diambil dari hasil kajian dari lapangan Geyser dan lapangan Kamojang, sedangkan untuk dominasi-air diambil dari lapangan Southern Negro, Tongonan dan Awibengkok-Gunung Salak.

Bab 11 berjudul Manajemen Reservoir Geotermal. Bab ini membahas latar belakang perlunya dilakukan manajemen reservoir, tujuan dan proses reservoir manajemen.

Itulah garis besar buku Teknik Geothermal yang dususun Nenny.  Kita berharap, dengan terbit dan beredarnya buku ini, pemahaman kita mengenai panasbumi makin bertambah sehingga mindset kita tentang pengusahaan panasbumi pun menjadi “jernih”.

Sosialisasi panasbumi kepada masyarakat Indonesia sebaiknya harus dilakukan mengingat pemerintah mencanangkan bauran energi 23 persen tahun 2023, di mana panasbumi sebagai energi bersih dan terbarukan menjadi salah satu penopangnya. Apalagi sumber daya panasbumi di Indonesia sangat besar, sebab memiliki 40 persen potensi panasbumi dunia. Jadi penerbitan buku tentang panasbumi yang dilakukan oleh pakarnya, sangat penting artinya bagi upaya upaya sosialisasi itu. (es)