Lapangan Panasbumi Berusia Lebih 35 Tahun Ini, Ditarget Pendapatan Rp 1,6 Triliun

Lapangan Panasbumi Berusia Lebih 35 Tahun Ini, Ditarget Pendapatan Rp 1,6 Triliun

PABUMNews-Prof. Manfred P. Hochstein, guru besar energi geothermal (panasbumi) dari New Zealand, memiliki kesan khusus dengan PLTP Kamojang, Jawa Barat, yang dikelola Pertamina Geothermal Energi (PGE). Pasalnya, dia sendiri yang melakukan penelitian potensi panasbumi di Kamojang ketika Pemerintah Indonesia merencanakan membangun pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP) di kawasan itu.

Menurut Hochstein, penelitian itu dilakukan tahun 1971.

“Ada beberapa tahapan yang saya lakukan saat penelitian geothermal, baik di New Zealand maupun Kamojang. Tahap pertama pemilihan panas bumi yang cocok untuk survei saat tahun 1971; kedua, melakukan survei secara terpisah dari lima bidang terpilih termasuk Kamojang. Ketiga, eksplorasi pengeboran Kamojang dan Derajat. Keempat perencanaan pengeboran produksi untuk 30 MW di Kamojang. Kelima, melakukan desain dan konstruksi Kamojang,” jelasnya saat memberikan sambutan pada acara ulang tahun PGE Area Kamojang ke-35 di ITB, Bandung, Desember 2018 lalu seperti dirilis pertamina.com.

Hochstein sangat bangga sebab pemilihan kawasan Kamojang untuk PLTP ternyata tidak salah. Ia menyatakan, meski telah berusia 35 tahun, Kamojang masih tetap aktif memberikan kontribusi energi kepada masyarakat.

Duta Besar New Zealand untuk Indonesia, H. E. Trevor Matheson pun menyatakan kebanggaannya atas PGE karena telah berhasil mengelola dan mengoperasikan Area Kamojang selama 35 tahun. Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari campur tangan pemerintah dan profesor handal dari New Zealand yang melakukan riset area panas bumi di Indonesia termasuk Kamojang.

“Saya sangat bangga, karena Indonesia dan New Zealand bersinergi untuk mengembangkan Geothermal Energy baik dari sisi edukasi atau pendidikan, riset maupun teknologi. Kamojang adalah warisan yang berharga, ujarnya.

Kamojang memang merupakan lokasi pertama pendirian PLTP di Indonesia, dan di kawasan ini kini sudah beridiri beberapa uni PLTP. Hebatnya, Kamojang yang sudah lama menerangi Indonesia ini, kini tetap menjadi salah satu andalan sumber energi listrik dan pundi-pundi devisa. Bahkan PGE, pada tahun 2019 ini menargetkan pendapatan Rp1,6 triliun dari Area Kamojang.

Wawan Darmawan, General Manager PGE Area Kamojang, mengatakan untuk mencapai target tersebut, PGE Area Kamojang menyiapkan tiga strategi, yaitu memastikan kecukupan cadangan uap di kepala sumur, salah satunya dengan pengelolaan reservoar yang baik. Di luar itu, PGE Area Kamojang memastikan semua fasilitas produksi dalam kondisi siap pakai.

“Kami juga berupaya untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi yang baik dengan pelanggan, yaitu PT Indonesia Power dan PT PLN (Persero), termasuk dengan pemangku kepentingan lainnya,” ujar Wawan seperti dirilis Dunia-Energi, Rabu (27/2).

Ditambahkannya, PGE Area Kamojang saat ini memiliki lima unit PLTP dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt.

Menurut Wawan, kontribusi PGE Area Kamojang terhadap pendapatan induk usaha tidak kurang dari 40% sepanjang 2018. (es)