Menanti Aliran Listrik dari Panasbumi Rantau Dedap

Menanti Aliran Listrik dari Panasbumi Rantau Dedap

Penajakan sumur eksploitasi pertama di Rantau Dedap (foto: esdm.go.id)

PABUMNews- Masyarakat Sumatera Selatan tahun depan atau akhir tahun 2019, bisa menikmati energi listrik yang bersih yang bersumber dari sumberdaya alam setempat, yakni panasbumi Rantau Dedap di Kabupaten Muara Enim. Untuk tahap awal, kapasitas pembangkit yang dikembangkan adalah sebesar 86 MW. Dengan kapasitas sebesar itu, diperkirakan sebanyak 130.000 rumah akan bisa diterangi.

“PLTP Rantau Dedap akan bisa menerangi sebanyak 1.300 rumah untuk tahap pertama pengembangan,” kata Supramu Santosa, CEO PT Supreme Energi, perusahaan yang membangun PLTP Rantau Dedap.

Agustus lalu, pihak pengembang PLTP tersebut memulai penajakan sumur RD-13 yang merupakan sumur eksploitasi pertama. Pihak Kementerian ESDM memberikan persetujuan kepada PT Supreme Energy Rantau Dedap (PT SERD) untuk memasuki tahap eksploitasi melalui surat Menteri ESDM Nomor 2224/31/MEM.E/2018 tanggal 9 Maret 2018.

Sumatera Selatan memang kaya akan potensi energi panasbumi. Selain di Rantau Dedap, panasbumi di provinsi ini juga terdapat di Desa Lumut Balai yang dikelola oleh Pertamina Geothermal Energi (PGE) anak usaha PT Pertamina (Persero). Rencananya pembangkit yang dikembangkan dari lapangan panasbumi ini sebesar 2X 55 MW.

Pihak Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Muara Enim, menyatakan, PGE telah melakukan eksplorasi di kawasan Lumut Balai dan berhasil menemukan cadangan dengan kapasitas 60MW.

Lokasi lainnya adalah Tanjung Sakti dan Empat Lawang. Kedua lokasi ini telah ditetapkan pemerintah menjadi Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) dan disebut-sebut akan dikelola oleh investor asal Turki, Hitay Group. Kemudian masih ada lagi WKP Ranau dan WKP Rawas yang belum dilelang.

Diretur Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM, Rida Mulyana beberapa waktu lalu menyatakan, pembangunan PLTP Rantau Dedap harus didukung semua pihak. Menurutnya, selain menghasilkan energi bersih yang bisa mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK), kontribusi yang akan didapatkan pemerintah dan masyarakat pun sangat besar.

Ia menyebutkan, untuk pemerintah daerah, panasbumi Rantau Dedap akan memberikan penghasilan dalam bentuk bonus produksi untuk tiga kabupaten sekitar, yakni Muara Enim, Lahat, dan Pagar Alam sebesar US$17 juta selama masa produksi.

“Uangnya langsung masuk ke kas daerah,” jelas Rida.

Sementara itu, informasi lain menyebutkan, secara keseluruhan, proyek PLTP Rantau Dedap ini akan memberikan tambahan penerimaan negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar US$ 106,87 juta untuk masa eksploitasi dan pemanfaatan, serta pendapatan lainnya.

Rinciannya, selain bonus produksi sebesar US$17 juta, juga iuran eksplorasi sebesar US$ 626.460, total Iuran Tetap selama eksploitasi dan pemanfaatan (30 Tahun) sebesar US$ 4,25 juta, PNBP Iuran produksi/royalti (dengan asumsi pembangkitan listrik 681,9 GWh/tahun) sebesar US$ 85 juta selama masa eksploitasi dan pemanfaatan, dan dari bonus Produksi untuk ketiga kabupaten (Muara Enim, Lahat dan Pagar Alam) sebesar US$ 17 juta selama masa Produksi. Penerimaan negara ini belum termasuk penerimaan dari sektor pajak.

Di luar itu, pada tahap konstruksi, proyek ini akan menciptakan 1200 lapangan kerja baru bagi warga daerah sekitar.

Di luar Rantau Dedap, data Pemprov Sumatera Selatan menyebutkan, potensi energi panasbumi di wilayah provinsi ini mencapai hingga 2.095 MW atau sekitar 10% dari potensi total panasbumi Indonesia yang mencapai 29 GW. Jika potensi ini bisa dikembangkan, maka manfaat yang akan diraih oleh masyarakat, khususnya masyarakat Sumetara Selatan tentu sangat besar. Entah berapa puluh ribu tenaga kerja yang bisa diserap, entah berapa ratus miliar PAD yang bisa diraih oleh Pemda setempat, belum lagi pendapatan lainnya diluar bonus produksi. (es)