Menengok Tomohon, Kota Panas Bumi di Indonesia Timur

Menengok Tomohon, Kota Panas Bumi di Indonesia Timur

Kompleks PLTP Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara, pada malam hari. (*)

PABUMNews – Kota Tomohon memang relatif baru sebagai daerah otonom. Daerah di Timur Indonesia ini, tepatnya Sulawesi Utara, berdiri pada tahun 2003, hasil pemekaran dari Kabupaten Minahasa.

Kendati demikian namanya populer, bahkan hingga mancanegara. Potensi panas bumi yang terkandung di perut bumi Kota Tomohon, membuat kota ini sekarang melezit, menyalip daerah lain yang telah lama berdiri.

Tomohon memang tak bisa dilepaskan dengan sumber daya alam panas bumi. Gunung-gunung di daerah berpenduduk 106.917 jiwa (BPS Tomohon Tahun 2019), terlihat mengepulkan asap putih uap panas bumi. Di beberapa sudut di Tomohon pun, tercium bau belerang cukup pekat.

Melihat sumber daya alam panas bumi yang melimpah, pemerintah mendirikan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Lahendong di Tomohon. Hasilnya, sebanyak 21 persen lebih kebutuhan listrik Tomohon, sekarang disuplai pembangkit tersebut.

Seperti diketahui, PLTP Lahendong hingga tahun 2020 ini telah berdiri 6 unit. Total kapasitasnya 120 MW. Sebagai energi bersih yang ramah lingkungan, keberadaan PLTP Lahendong diyakini bisa mengurangi emisi CO2 lebih dari 450 ribu ton per tahun.

Di Tomohon pun berdiri Pusat Edukasi Kepanasbumian dan SDM (Geothermal Education Centre). Lokasinya di Lahendong. Di tempat inilah masyarakat bisa mendapatkan penjelasan apa itu panas bumi, untuk apa saja pemanfataannya dan apa saja keunggulan panas bumi. Di sini pun terdapat berbagai model alat untuk memproses sumber daya panas bumi menjadi energi listrik.

Kota Wisata

Pemerintah telah membuat arah kebijakan tentang Kota Tomohon ke depan. Kota penghasil bunga indah bernama Krisan ini, diarahkan untuk menjadi kota wisata.

Untuk merealisasikan kebijakan tersebut, pemerintah membuka penerbangan langsung tujuh kota di China ke Manado pada awal Juli 2016. Hasilnya, Tomohon kini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Energi bersih sangat penting bagi kota wisata. Oleh karena itu, pemanfaatan panas bumi di Tomohon, akan sangat mendukung pembangunan kota wisata tersebut.

Gejala panas bumi di lokasi wisata

Gejala panas bumi di Tomohon terlihat pula di danau indah bernama Danau Linau. Danau ini lokasinya berada dekat PLTP Lahendong, bahkan masih berada di Desa Lahendong.

Kecantikan Danau Linau di antaranya dari dasar danau keluar gelembung-gelembung udara seperti halnya air mendidih. Gelembung ini terjadi karena ada uap panas bumi yang keluar.

Selain itu, air di Danau Linouw juga sangat unik karena memiliki tiga warna, yakni hijau, biru dan putih. Warna air ini dipengaruhi oleh tingkat kadar belerang yang ada di danau tersebut.

Dengan segenap keindahannya tersebut, Danau Linau kini menjadi salah satu tujuan wisata di Tomohon, apalagi kini fasilitasnya cukup lengkap. Penginapan, cottage dan sebagainya, tersedia di sana.

Tempat indah lainnya yang menampakan gejala panas bumi di Tomohon adalah hutan pinus Lahendong. Tempat wisata yang berjarak sekitar 9 km dari pusat Kota Tomohon ini, memiliki kolam lumpur yang luas juga menyediakan pemandian air panas.

Maka, di tengah hawa dingin yang menyaput hutan pinus, keberadaan pemandian air panas tersebut tentu sangat menggoda.

Kunjungan Bappenas

Melihat potensi panas bumi yang melimpah di Tomohon, pihak Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sengaja mengirimkan tim ke kota ini pada 17 November 2020 lalu. Tujuannya di antaranya untuk menggali potensi agar pengembangan panas bumi di Tomohon juga memberikan efek terhadap upaya percepatan pembangunan di sektor lainnya, khususnya sektor pariwisata.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Subandi menyatakan, di Tomohon timnya sempat berkunjung ke PLTP Lahendong.

“Kami berkunjung ke PLTP Lahendong untuk mengetahui dua program besar Prioritas Nasional (PN) di Sulawesi Utara, yaitu Kawasan Ekonomi Khusus Bitung dan Kawasan Industri Likupang. Kita ingin dengan adanya dua PN ini, ada kerja sama berbagai pihak yang nantinya mendukung wilayah Sulawesi Utara dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” ungkap Deputi Subandi.

Semetara tim lainnya dari Bappenas, dipimpin Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto, pada saat itu mengunjungi Pusat Edukasi Kepanasbumian dan SDM (Geothermal Education Centre) dan Pariwisata berbasis Panas Bumi (Geothermalpark/Blue Lagoon).

Dalam kesempatan tersebut, tim melihat-lihat berbagai fasilitas pembelajaran publik tentang panas bumi yang ada di Geothermal Education Centre Lahendong.

Ia menyatakan, pemanfaatan EBT sangat bermanfaat, selain sebagai sumber tenaga listrik yang sangat dibutuhkan, dari sisi ekonomi, masyarakat akan diuntungkan dan secara sosial juga pasti bisa diterima masyarakat. (es)