Menteri ESDM: Skema “Cost Recovery” Migas Relevan untuk Kontrak Panasbumi

Menteri ESDM: Skema “Cost Recovery” Migas Relevan untuk Kontrak Panasbumi

Menteri ESDM Arifin Tasrif. (*)

PABUMNews – Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menilai, skema cost recovery di sektor migas relevan diterapkan pada kontrak panasbumi mengingat sifat kegiatan panasbumi, terutama saat eksplorasi mirip dengan migas.

“Meskipun tak menjiplak langsung konsep cost recovery pada sektor migas, namun secara konsep kemungkinan besar akan mengikuti skema tersebut. Untuk tahap awal akan diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk harga listrik Energi Baru Terbarukan (EBT),” katanya di Jakarta, Kamis (9/1/2020)

Konsep ini, lanjut Arifin, untuk mengurangi risiko pengembang panasbumi yang sangat berisiko dalam tahapan eksplorasi.

Ditambahkannya, saat ini pengembang menanggung seluruh resiko eksplorasi. Padahal, selain cadangan yang kelak akan ditemukan belum tentu masuk keekonomian, listriknya pun belum ada kepastian terjual atau tidak.

“Kondisi ini tentu menimbulkan risiko tinggi yang menyebabkan harga listrik tinggi lantaran risiko-risiko tersebut dikonversi menjadi harga listrik,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) FX Sutijastoto. Menurutnya, meskipun tak sama persis, konsep cost recovery bisa diterapkan dalam kegiatan pemanfaatan panasbumi.

“Pemerintah siap berinisiatif untuk ikut menanggung bersama risiko dalam kegiatan panasbumi asalkan nantinya harga listrik yang dihasilkan murah ke masyarakat,” paparnya.

Ditambahkan Toto, risiko yang ditanggung pengembang panasbumi, selain harus membangun pembangkit dan instalasinya, tapi juga harus membangun hal lain di luar itu. Di antaranya pembangunan jalan sebagai akses peralatan, dan pembangunan berbagai fasilitas pendukung lainnya di masyarakat.

“Komponen itu ternyata bisa cukup memberikan porsi besar terhadap harga listrik dan bisa mencapai US$3 sen per kWh,” jelasnya. (Has)