Nenny Saptadji Raih Penghargaan Women in Geothermal

Nenny Saptadji Raih Penghargaan Women in Geothermal

Nenny Saptadji (kedua dari kiri) menghadiri sebuah resepsi WING yang digelar di Selandia Baru. Dalam foto tampak Prof. Rosalind Archer (paling kiri) Director of Geothermal Institut, Dr. Prijo Hutomo Chair of FFI dan Andre Blair, Chair of WING. (dok: Nenny Saptadji)

PABUMNews-Pakar panasbumi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ir. Nenny Saptadji, Ph.D, menjadi pemenang penghargaan untuk katagori CARING (peduli/merawat) dari Women in Geothermal (WING) yang bermarkas di Nevada, Amerika Serikat. Penghargaan diberikan pada Oktober 2018 ini.

WING adalah organisasi internasional non profit yang bertujuan untuk lebih mengembangkan profesionalisme kaum perempuan di panasbumi atau geothermal. Organisasi ini didirikan pada Oktober 2013 dalam Pertemuan Tahunan Geothermal Resources Council (GRC) di Las Vegas, Nevada. WING sekarang memiliki wakil di lebih 48 negara di seluruh dunia.

GRC sendiri merupakan asosiasi internasional, wadah kaum profesional energi panasbumi dari seluruh dunia yang berkedudukan di Davis, California. Namun asosiasi ini didirikan di Olympia, Washington pada Mei 1971.

Penghargaan tahun 2018 ini merupakan penghargaan pertama yang diberikan WING. Ada empat katagori penghargaan yang diberikan WING, yakni selain kategori Caring, juga Courageous (berani), Empowering (memberdayakan), dan Open (Terbuka). Nenny Saptadji merupakan pemenang untuk katagori Caring (peduli atau merawat). Penjaringan untuk para pemenang sebenarnya dilakukan cukup lama dan ditutup pada bulan Agustus lalu.

Berita menggembirakan ini diketahui dari akun FB Nenny Saptadji sendiri. Dalam akunnya tertanggal 22 Oktober 2018 Nenny menulis :

Dear all, pagi ini saya mendapat kejutan, dari Katherine, panitia GRC – Geothermal Resources Council isinya sbb:

It is my honor to inform you that you have been nominated for and selected as *the winner of the CARING award in the first annual Women in Geothermal (WING) Awards.* The awards are centered around WING’s core values of being Open, Courageous, Empowering and Caring. Awards were announced and distributed at the Geothermal Resources Council Annual Meeting in Reno this week. Your award will be delivered to you, but I wanted to congratulate you and share the kind words your nominator shared with us.

Thank you for your support of women in geothermal!

-Kate

  • Ms. Nenny Saptadji has dedicated her life for geothermal world for about 30 years. After graduating from Auckland University, New Zealand, she became the first woman lecturer in the Faculty of Mining and Petroleum Engineering to specialise in geothermal constantly. She became the people’s godmother, because she not only helps her student in academic life, but also in every aspect, such us funding, and even about relationships. She gathered the funding for some people to pay their tuition fees, and some of these people are now important people in geothermal/ oil industry. She was the one who pioneered the self awareness program in ITB. She is also the one who struggled to create the Geothermal Master Program in ITB. Started from 1997, 2004, and finally in 2008, Geothermal Master Program ITB was established. She really deserves this award, because she not only cares about her students, but also everyone who has a willingness to learn – especially about geothermal. I owe her so much. She deserves it.

Menyentuh apa yang diaparkan di atas tentang Nenny Saptadji. Ilmuwan yang biasanya “kering” dan sering diasosiasikan sebagai seorang yang individualis, ternyata  Nenny justru humanisnya sangat dirasakan oleh orang-orang dekatnya. Ia sanggup mengumpulkan uang untuk anak-anak asuhnya yang kini sudah banyak yang berhasil di lapangan panasbumi.

Nenny mengaku sebenarnya bercita-cita jadi pianist, kenyataan malah jadi geothermalist.

Ia kemudian menulis “Mungkin perlu mengingatkan teman2 generasi muda kata2 di lagu: dreams are hard to follow, but don’t let anyone tear them away. Jadi teringat, saya sering bilang ke mahasiswa kalau dreams-cita2 tak hanya satu. Maujadi penyanyi silahkan, tapi selesaikan juga sekolahmu…….”

Soal piano, tahun 2010 lalu Nenny sempat mengatakan, dulu berani manggung tapi sekarang takut. Ia pun mengaku ingin belajar lagi musik klasik dan beli grand piano.

“Tapi kalau beli jarang dimainkan kan sayang juga,” ungkapnya. (es)