Panasbumi Indonesia di Mata Bank Dunia

Panasbumi Indonesia di Mata Bank Dunia

PABUMNews-Dalam catatan Bank Dunia, hampir 20 juta orang di Indonesia atau 7 persen dari jumlah populasi yang ada kekurangan akses listrik. Di sisi lain, disadari bahwa menggantungkan energi dengan bahan bakar fosil memperburuk pembangunan berkelanjutan dan sekaligus juga pertumbuhan ekonomi.

Dalam rilisnya pertengahan Mei 2018, Bank Dunia mengungkapkan,
Indonesia merupakan rumah bagi 40 persen cadangan panasbumi dunia. Dan Bank Dunia yakin, potensi panasbumi yang dimiliki Indonesia, bisa dioptimalkan dalam rangka memenuhi kebutuhan energi listrik yang setiap tahun meningkat tersebut.

Kendati demikian, dalam rilis itu disebutkan, biaya pengusahaan yang sangat besar dalam pengembangan panasbumi, ditambah adanya resiko ketidakpastian bahwa setiap lapangan panasbumi akan memberikan keuntungan, membuat investasi di sektor panasbumi menjadi terhambat. Disebutkan, fase eksplorasi dan pengeboran awal pengembangan panasbumi sangat mahal dan berisiko merugikan.

Eksplorasi panasbumi di Indonesia sangat mahal, dapat memakan biaya $ 30 hingga $ 50 juta. Dan biaya sebesar itu berisiko menghilang begitu saja jika sumber daya panasbumi yang sedang dicari ternyata tidak sesuai dengan target. Di beberapa tempat, memang ada sumber daya yang resiko kegagalannya sangat kecil, akan tetapi ternyata biayanya pun lebih mahal lagi, bisa mencapai $ 400 juta untuk mengembangkan kapasitas 100 MW.

Untuk membantu Indonesia dalam pengembangan panasbumi, Bank Dunia kini sedang mengembangkan fasilitas kredit inovatif yang bisa mengkover risiko dalam pengusahaan panasbumi di Indonesia. Dengan mengedepankan kiprah sektor swasta, investasi bisa terus mengalir sehingga target ketersediaan energi bersih bagi jutaan penduduk sekaligus mengurangi emisi sebesar 150 juta ton CO2 dalam 30 tahun, bisa tercapai.

Kini Bank Dunia sedang merancang fasilitas kredit inovatif untuk membuka investasi energi panasbumi di Indonesia, agar pembiayaan dan risiko bisa dijembatani.

Lembaga keuangan itu menyebutkan, anggaran yang akan disalurkan $ 650 juta untuk eksplorasi. Anggaran tersebut termasuk $ 150 juta dari pemerintah, $ 175 juta dalam pembiayaan iklim konsesional, dan $ 325 juta pinjaman dari IBRD

Skema pendanaan tersebut akan diberikan dalam pembiayaan lunak tahap-tahap awal pengusahaan panasbumi yang berisiko tinggi. Jika sumber daya panasbumi tidak cukup ditemukan, maka 50 persen dari pinjaman akan dibebaskan. Paket keuangan tersebut khusus dirancang untuk pengembang sektor publik, pengembang sektor swasta, dan kemitraan publik-swasta.

Akankah paket ini terealisasi? Kita lihat