Pemanfataan Panasbumi Dukung Program Aceh Green

Pemanfataan Panasbumi Dukung Program Aceh Green

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menjadi Keynote Speaker Forum Grup Diskusi terkait Optimalisasi Energi Untuk Aceh yang digelar Center for Energy and Innovation Technology Studies (Cenits) di Aceh, di penghujung bulan September 2019 lalu. (Foto: acehprov.go.id)

PABUMNews – Energi panasbumi menjadi salah satu sumber daya lokal Aceh untuk mewujudkan program Aceh Green, yaitu program pembangunan dan pemanfaatan energi yang ramah lingkungan.

Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, mengatakan, panasbumi merupakan sumber daya lokal yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendukung upaya pencapaian ketahanan energi dan proram Aceh Green.

“Aceh memiliki potensi energi panasbumi sangat besar. Potensi ini kini mulai diupayakan untuk dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan energi masyarakat Aceh,” katanya saat menjadi Keynote Speaker Forum Grup Diskusi terkait Optimalisasi Energi Untuk Aceh yang digelar Center for Energy and Innovation Technology Studies (Cenits) di Aceh, di penghujung bulan September 2019 lalu.

Sejumlah lapangan panasbumi yang kini tengah diupayakan, lanjutnya, di antaranya panasbumi Jaboi di Kota Sabang yang akan dikembangkan dengan kapasitas sebesar 10 MW. Kemudian panasbumi Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar sebesar 55 MW, dari total perkiraan potensi panas bumi sebesar 165 MW.

“Pembangunan PLTP Seulawah Agam melibatkan PT. Pembangunan Aceh (PT. PEMA) selaku Badan Usaha Milik Aceh yang mempunyai kepemilikan saham dalam usaha patungan dengan perusahaan pengembang. Dengan demikian, penjualan energi listrik yang dihasilkan dari PLTP Seulawah Agam akan menjadi salah satu sumber pendapatan asli Aceh,” jelasnya.

Nova mengajak agar perguruan tinggi ikut terlibat dalam pengembangan dan penelitian energi bersih di Aceh.

“Kerjasama dengan perguruan tinggi adalah dalam hal penelitian dan pengembangan di sektor energi, terutama energi baru terbarukan, sangat penting untuk mewujudkan Aceg Green,” paparnya.

Nova juga mengatakan, Pempro Aceh berkomitmen ketersediaan energi yang bersumber dari energi baru terbarukan di Aceh mencapai 12,25 persen pada tahun 2022.

“Pemerintah bersama dewan di DPR Aceh tengah merampungkan Rancangan Qanun Aceh tentang Rencana Umum Energi Aceh (RUEA). Qanun itu nantinya akan menjadi payung hukum untuk melakukan optimalisasi energi di Aceh,” jelasnya.

Selain panasbumi, menurut Nova, hingga saat ini Pemerintah Aceh telah membangun sejumlah pembangkit EBT lainnya. Di antaranya 31 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Kemudian Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) dengan skala 10 MW di Kabupaten Nagan Raya yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2020. Di samping itu, saat ini di Sungai Krueng Peusangan, Kabupaten Aceh Tengah, kini tengah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas total 88 MW sedang dilaksanakan oleh pihak PLN. (es)