Perusahaan Panas Bumi Star Energy Darajat Gulirkan Program Desa Caang Sejak 2016, Ini Hasilnya

Perusahaan Panas Bumi Star Energy Darajat Gulirkan Program Desa Caang Sejak 2016, Ini Hasilnya

Salah seorang karyawan Star Energy hadir di rumah Mak Otoh ketika program Desa Caang digulirkan. (Foto: Dok. Star Energy Geothermal)

PABUMnews – Sejak 2016, perusahaan panas bumi Star Energy Geothermal Darajat II Ltd (SEGD II) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggagas program Desa Caang (bahasa Sunda: Desa yang Terang). Program ini digulirkan sebagai bentuk kepedulian perusahaan atas kondisi beberapa desa di sekitar wilayah operasionalnya yang belum teraliri listrik, terutama Kecamatan Pasirwangi dan Sukaresmi.

Star Energy berharap, listrik yang mengalir turut mendorong kegiatan ekonomi di desa demi mengakselerasi kesejahteraan masyarakat.

Program itu ternyata berkembang bagus. Untuk memastikan listrik tetap menyala, masyarakat malah menyepakati adanya iuran dengan biaya terjangkau. Dari sinilah lahir gagasan untuk membentuk unit-unit usaha yang dikelola oleh masyarakat.

Kini sebanyak 51 unit usaha telah terbentuk, dan keuntungan yang diperoleh, digunakan untuk membiayai kelistrikan di masing-masing rumah para anggota kelompok.

Salah satu bentuk usaha diberi nama Bumi Runtah Token (BURUKEN). Di sini, masyarakat mengolah sampah baik organik maupun anorganik menjadi barang-barang bernilai komersil dan hasil penjualan barang-barang inilah yang kemudian digunakan untuk membeli token listrik.

Program ini lantas dikembangkan menjangkau ke ranah pendidikan mengingat masih tingginya angka buta huruf di wilayah tersebut. Melalui kegiatan bertajuk MASAGI (Maca sakali ngarti, atau membaca langsung mengerti) para siswa sekolah maupun ibu rumah tangga didorong untuk meningkatkan keterampilan baca tulis melalui pendekatan berbasis budaya lokal.

Tidak berhenti di situ, Program Desa Ca’ang pun turut menyentuh aspek pelestarian lingkungan yang di kemudian hari disinergikan untuk membangun kesejahteraan desa di Kecamatan Pasirwangi dan Sukaresmi.

“Beragam upaya dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang resiko yang akan timbul di masa depan apabila alih fungsi lahan hutan menjadi ladang sayur mayur dibiarkan tanpa pengelolaan yang berkelanjutan. Oleh karenanya pemahaman masyarakat tentang pelestarian lingkungan dan pemanfaatan hutan yang memiliki dampak positif secara ekologis musti terus ditumbuhkan,” demikian ungkap pihak Star Energy yang dilihat Pabumnews pada Rabu (30/12/2020).

Hingga kini program Desa Caang hampir menyentuh tujuan utamanya. Sebanyak 500 kepala keluarga telah menikmati aliran listrik. Empat pilar program ini, yaitu ca’ang listrikna (terang listriknya), ca’ang pesakna (terang penghidupannya –atau ekonominya), ca’ang otakna (berilmu) dan ca’ang alamna (terang alamnya), telah melebur menjadi sebuah cahaya yang menerangi masa kini penduduk dengan melahirkan banyak perubahan positif.

Tak kalah menariknya, inklusivitas juga menjadi aspek penting yang ditanamkan pada program ini. Pasalnya program ini mensyaratkan bahwa dari delapan orang penerima manfaat program paling tidak ada satu orang difabel. Sekali lagi, program ini menunjukkan manfaatnya dalam menyejahterakan masyarakat.

Salah seorang difable yang merasakan manfaat program Desa Caang adalah Mak Otoh, guru ngaji di sekitar PLTP Darajat II. Wanita berusia 73 tahun yang tunanetra itu merupakan guru ngaji di Desa Sukaresmi.

Saat ini rumahnya telah diterangi dengan bola lampu listrik sejak program Desa Ca’ang bergulir didesanya. Ia bahagia, meski kegelapan tetap menjadi teman hidupnya, namun ia sangat bahagia karena waktu belajar mengaji anak-anak muridnya bisa lebih panjang. (es)