PGE Karaha Gulirkan “BuMala”, Bina Warga Budidaya Maggot dan Azola

PGE Karaha Gulirkan “BuMala”, Bina Warga Budidaya Maggot dan Azola

Area Manager PGE Area Karaha Roy Bandoro menyerahkan bantuan CSR kepada Danramil Ciawi Kapten Deni Zenal Mutaqin untuk budidaya maggot dan azola. (Foto: Dok PGE Karaha)

PABUMNews – Setelah menggulirkan program Jalipesah (Penghijauan Lingkungan dan Pengelolaan Sampah), Pertamina Geothermal Energi Karaha, Kabupaten Tasikmalaya, menggulirkan program BuMala (Budidata Maggot dan Azola).

“Kedua program tersebut merupakan rangkaian program CSR berwujud pemberdayaan masyarakat di era pandemik Covid-19,” ujar Area Manager PGE Area Karaha Roy Bandoro dalam laman PGE yang dilihat Pabumnews, Rabu (20/10/2020).

Roy menjelaskan, program BuMala ini diikuti sekitar 300 peserta terbagi dalam 30 kelompok yang merupakan warga desa ring 1 PGE Area Karaha, yakni di Desa Dirgahayu dan Desa Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya.

“Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Koramil Ciawi/Kadipaten,” paparnya.

Program BuMala diluncurkan sejak akhir Juli 2020. Sekarang program ini telah menunjukkan hasil. Kolam azola dan kandang lalat Black Soldier Fly /BSF (belatung Maggot) telah banyak ditemui di pekarangan, bahkan telah menjadi pakan aternatif bagi ternak warga.

“Program pemberdayaan masyarakat ini dimaksudkan sebagai upaya perusahaan untuk memberikan peluang usaha baru bagi warga dengan biaya produksi yang murah dan terjangkau serta dapat dilakukan oleh siapa saja,” ujarnya.

Program BuMaLa, kata Roy, merupakan tahap lanjut dari Program Jalipesah yang sudah diterapkan sebelumnya. Keduanya program berhubungan erat sebab keduanya terkait peberdayaan sampah organik.

“Mengingat sampah organik merupakan sumber media utama dari budidaya maggot. Dan sumber sampah organik mayoritas berasal dari sampah rumah tangga.

“Di sinilah pentingnya memilah sampah organik dan anorganik, yang sebelumnya sudah diterapkan dalam program Jalipesah,” jelasnya.

Lebih lanjut Roy menyebut, program-program pemberdayaan masyarakat yang diberikan PGE saat ini telah mampu mewujudkan pengembangan sumber daya manusia, sekaligus penguatan ekonomi usaha kecil dan menengah bagi masyarakat di ring 1 PGE Area Karaha.

“Jadi selain berkomitmen menjaga pasokan energi listrik bagi warga se-Jamali (Jawa Madura Bali), PGE juga berkontribusi nyata dalam menjalankan program CSR untuk kesejahteraan masyarakat di sekitar pembangkit listrik tenaga panas bumi unit 1 Karaha,” katanya.

Maggot merupakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang sangat istimewa dibandingkan bahan baku pakan alternatif ternak lainnya karena mengandung nutrisi yang lengkap untuk ikan dan kualitas yang baik. Selain itu, Maggot bisa diproduksi dalam waktu singkat dan berkesinambungan dengan jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Keunggulan lainnya, masyarakat mudah mengadopsi teknologi produksi Maggot. Kemudian, dalam prosesnya Maggot juga bisa diproduksi menjadi tepung (mag meal), sehingga bisa menekan biaya produksi pakan ternak.

Sementara Azolla merupakan tanaman paku air yang hidup di perairan. Tanaman ini sering dijumpai di lahan yang tergenang air dan juga lahan lahan pertanian yang tergenang air terutama di lahan pesawahan. Tanaman ini memiliki panjang 1,5 – 2,5 cm, bentuk daun yang kecil dan saling bertindih dengan warna permukaan daun hijau kemerah-merahan. Tanaman azolla ternyata mampu menekan penggunaan pupuk urea sampai dengan 65 Kg/ha. Azolla juga bermanfaat untuk menghemat penggunaan pupuk urea, sebagai bahan dasar pupuk kompos, sebagai pakan ikan (mengandung protein mencapai 23–30% dan juga mengandung asam amino esensial yang legkap) dan dapat juga sebagai pakan ternak.

PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) adalah perusahaan yang bergerak di bidang pemanfaatan energi panas bumi dan merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Karaha Unit I milik PGE dengan kapasitas 30MW telah beroperasi secara komersil pada 6 April 2018. Produksi listrik PLTP Karaha Unit I ini telah menerangi 33 ribu rumah di Tasikmalaya dan sekitarnya.

Pencapaian ini merupakan realisasi dari program 35.000MW yang dicanangkan pemerintah, di mana akan meningkatkan keandalan sistem transmisi Jawa-Bali dengan tambahan suplai listrik sebesar 227 Gigawatt hour (GWh) per tahun.

Dalam pembangunannya, PLTP Karaha Unit I merupakan proyek terlengkap lantaran PGE mengerjakan sendiri mulai dari sub-surface, eksplorasi, pemipaan, power plant hingga tower transmisi listrik sepanjang 25 KM.

Sebagai wujud kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat yang berada di ring 1 daerah operasi, PGE Area Karaha juga telah meluncurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam bentuk Program Ecovillage. Program ini adalah pilot project PGE Area Karaha dalam upayanya membantu masyarakat menggali potensi yang mereka miliki sendiri, melakukan evaluasi atas program tersebut, serta memperbaiki atau meningkatkan kapasitasnya sehingga lebih membantu masyarakat lainnya di masa yang akan datang. (es)