PLN Lepas WKP Wapsalit di Maluku

PLN Lepas WKP Wapsalit di Maluku

PABUMNews- PT Perusahaan Listrik Negara (persero) melepas WKP Wapsalit di Maluku berkapasitas 5 megawatt (MW). Sebelumnya, WKP Wapsalit merupakan WKP yang dipilih sendiri oleh PLN dari 5 WKP yang ditawarkan oleh pemerintah.

Menurut Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara PLN, Djoko Rahardjo Abumanan, dari hasil kajian, pengusahaan panasbumi Wapsalit memakan waktu sangat panjang sementara potensinya belum bisa dipastikan.

“Menurut kajian konsultan, baik juga dicoba tapi kalau untuk pengembangan saya kira perlu effort yang agak panjang dan tidak menjamin kemungkinan potensinya. Sehingga disarankan tidak diambil dahulu,”katanya seperti dirilis Bisnis.com, Senin (14/1/2019).

WKP Wapsalit ditawarkan Kementerian ESDM pada 2018 lalu bersama empat WKP lainnya, yakni WKP Lainea di Sulawesi Tenggara dengan kapasitas 20 MW, WKP Sumani di Sumatra Barat 20 MW, WKP Sembalun di Nusa Tenggara Barat 20 MW, dan WKP Gunung Endut di Banten 40 MW. Dari lima WKP tersebut total kapasitasnya sebesar 105 megawatt (MW).

Dari kelima WKP yang ditawarkan, pada saat itu pihak PLN mengajukan WKP Wapsalit untuk digarap, namun kemudian kemarin pihak PLN melepasnya kembali.

Joko menambahkan, untuk WKP lainnya, di antaranya WKP Sumani di Sumatra Barat sebesar 20 MW, pihaknya sedang melakukan kajian dengan melibatkan konsultan.

Direktur Panasbumi, Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari, membenarkan bahwa PLN sudah mengajukan permohonan untuk melepas WKP Wapsalit.

“Kami sudah menerima pernyataan dari PLN. Menurut kajian pihak PLN, kapasitas panasbumi itu terlalu kecil,” jelasnya.

Perusahaan stroom milik negara ini tahun 2018 lalu cukup banyak ditawari WKP oleh pemerintah. Selain lima WKP yang ditawarkan pemerintah, PLN sendiri sudah mengajukan penambahan pengelolaan tiga WKP, yakni WKP Gunung Sirung berkapasitas 5 MW, Danau Ranau 55 MW, dan Oka Ile Ange 10 MW.

Sementara tahun 2018 lalu, PLN telah mengantongi izin untuk mengelola 8 WKP, yakni Atedei 10 MW, Mataloko 22,5 MW, Ulumbu 50 MW di Nusa Tenggara Timur, Songa Wayaua 10 MW di Maluku Utara, Gunung Tangkuban Perahu 60 MW di Jawa Barat, Ungaran 55 MW di Jawa Tengah, Tulehu 2×10 MW di Ambon,dan Kepahiang 110 MW di Bengkulu (es).