Pri Utami: Panasbumi akan Bantu Indonesia Kurangi Tingginya Defisit Transaksi Berjalan

Pri Utami: Panasbumi akan Bantu Indonesia Kurangi Tingginya Defisit Transaksi Berjalan

Dr. Pri Utami, M.Sc. Ph.D. (*)

PABUMNews – Pakar panasbumi Indonesia dari Universita Gajah Mada (UGM) yang kini menjadi Direktur IGA (International Geothermal Association), Dr. Pri Utami, M.Sc. Ph.D, mengomentari tingginya defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini yang disebabkan oleh besarnya impor minyak dan gas yang masih menjadi sumber utama energi nasional.

Pri membeberkan, panasbumi berpotensi besar menjadi sumber energi yang dapat membantu Indonesia mengurangi defisit neraca transaksi berjalan tersebut. Menurutnya, tiap 1 MW energi panasbumi, dapat menghemat pengeluaran minyak 47,3 barel per hari.

“Kapasitas terpasang energi panasbumi di Indonesia mencapai 2.047 MW pada tahun 2019. Dengan harga minyak yang saat ini rata-rata 60 dolar AS per barel, dalam setahun jumlah devisa yang dapat dihemat sebesar 2,2 miliar dolar AS,” kata Pri, Minggu (5/1/2020).

Ditambahkannya, mengatakan tiap 1 megawatt (MW) energi panas bumi, dapat menghemat pengeluaran minyak 47,3 barel per hari. Hingga 2019, kapasitas terpasang energi panas bumi di Indonesia mencapai 2.047 MW.

Pri menyatakan, energi panasbumi ditargetkan mencapai kapasitas 7.000 MW pada 2025. Jika target tersebut tercapai, maka pada tahun tersebut devisa negara yang bisa dihemat akan mencapai US$ 7,3 miliar.

“Penghematan sebesar itu cukup signifikan untuk menghadapi penyakit kronis berupa defisit transaksi berjalan yang menjangkiti Indonesia sejak tahun 2011,” papar Pri.

Oleh karena itu Pri mendorong agar pemanfaatan panasbumi sebagai sumber energi terus dilakukan. Kapasitas terpasang panasbumi tahun 2019 baru 2.047 MW. Jumlah itu sangat kecil apabila dibanding potensi panasbumi Indonesia yang diperkirakan mencapai lebih dari 20.000 MW.

Tingginya defisit transaksi berjalan yang dialami Indonesia disampaikan Presiden Joko Widodo berali-kali di penghujung tahun 2019 lalu. Ia pun meminta agar defisit transaksi berjalan Indonesia dapat diselesaikan dalam waktu empat tahun.

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2019 mencapai 8,4 miliar dolar AS atau 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Realisasi tersebut membesar 21 persen jika dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar 6,97 miliar dolar AS.

Kemudian neraca transaksi berjalan Indonesia pada 2018 mengalami defisit 31,1 miliar dolar AS atau sekitar 2,98 persen dari PDB yang mencapai 1,04 triliun dolar AS. Secara nominal defisit ini merupakan yang terbesar dibanding tahun-tahun sebelumnya. (es)