Ratusan Ribu Barel Minyak Tetap Harus Dibakar Jika Target Panasbumi Tak Tercapai

Ratusan Ribu Barel Minyak Tetap Harus Dibakar Jika Target Panasbumi Tak Tercapai

Pembangkit listrik batu bara dengan asapnya yang pekat.

PABUMNews – Tak hanya bersih sehingga ramah lingkungan, energi panasbumi juga memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberhasilan Indonesia dalam mencapai target kapasitas terpasang dari panasbumi sebesar 6.000-7.000 MW tahun 2025, akan menekan impor minyak ratusan ribu barel per hari.

“Pemerintah telah menargetkan pada tahun 2025 mendatang kapasitas panasbumi bisa mencapai 6.000-7.000 MW. Kalau kita hitung menurut energinya, kalorinya itu setara membakar 100.000 barel minyak per hari. Artinya apa, kalau target kita panas buminya tidak mencapai 6.000-7.000 MW kita harus mengimpor atau membakar minyak 100.000 barel minyak per hari,” ujar Dirjen EBTKE, FX Sutijastoto di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Apa yang diungkapkan Dirjen EBTKE, berkali-kali pula diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sat peresmian groundbreaking PLTP Unit II Dieng dan Patuha pada April 2019 lalu, Sri Mulyani menyatakan pihaknya mendukung pengembangan energi panasbumi.

Menurutnya, selain mampu memenuhi kebutuhan listrik, geothermal bisa mengurangi ketergantungan impor sebab tingginya impor minyak mentah yang saat ini terjadi, dia nataranya untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

“Kalau kita bisa mengembangkan geothermal, positif efeknya untuk Indonesia itu luar biasa yakni kebutuhan listrik terpenuhi, environment jadi terjaga baik, kebutuhan impor minyak juga menurun. Maka kita akan memiliki kemampuan security of energy jadi sangat besar,” ujar Sri Mulyani (Okezone, Kamis 25/4/2019).

Sementara soal “clean”-nya energi panasbumi, Sutijastoto menegaskan, emisi yang dihasilkan panasbumi hanya 1/15 dari emisi pembangkit listrik tenaga uap yang bahan bakarnya batubara, atau 1/10 nya emisi dari pembangkit listrik yang bahan bakarnya dari solar.

Ia menuturkan, panasbumi merupakan energi bersih, sehingga sangat minim biaya lingkungan, sementara pembangkit batubara dan solar ada biaya lingkungan, dan biaya itu harus ditanggung masyarakat.

Lebih dari itu, pemanfaatan energi panasbumi menjadi energi listrik justru akan membuat lingkungan di sekitar PLTP akan tetap terjaga. Pelestarian lingkungan penting agar tercipta stabilitas sumber daya air di wilayah sekitar wilayah kerja panasbumi.

“Biasanya hutan-hutan di sekitar wilayah kerja panasbumi lebih terjaga karena kalau hutan di sekitar wilayah kerja panasbumi tidak dikonservasi maka akan mengganggu stabilitas dari panasbumi itu sendiri,” ujar Sutijastoto (Antara, 13/8/2019).

Pemanfaatan panasbumi juga, menurut Sutijastoto, akan memberikan efek positif terhadap pembangunan daerah. Soalnya, dalam proyek panasbumi, ada dana-dana investasi yang digunakan untuk mengembangkan infrastruktur daerah seperti jalan, jembatan dan sebagainya.

“Pembangunan seperti itu akan sangat membantu untuk menggerakan ekonomi di daerah panasbumi,” ujarnya. (es)