Sekilas Perusahaan Panasbumi Geo Dipa Energi dari Masa ke Masa

Sekilas Perusahaan Panasbumi Geo Dipa Energi dari Masa ke Masa

PLTP Dieng I yang dikelola PT Geo Dipa Energi (Dok. Geo Dipa Energi)

PABUMNews- PT. Geo Dipa Energi, yang pada Jumat (26/4/2019) melakukan groundbreaking PLTP Unit II Dieng dan Patuha dengan acara meriah, merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menggarap sektor panasbumi. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 5 Juli 2002 oleh Pertamina dan PLN. Pada awal pendirian, saham PLN sebesar 33,33 persen dan Pertamina 66,67 persen.

Pada bulan Desember 2011, atau 9 tahun setelah bediri, Geo Dipa yang awalnya berstatus perusahaan swasta, resmi menjadi BUMN setelah Pertamina menyerahkan seluruh sahamnya. Penyerahan atau hibah saham PT Pertamina ditandatangani oleh Direktur Utama PT. Pertamina (Persero) Karen Agustiawan dan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto mewakili pemerintah pada tanggal 8 Februari 2011.

Hingga tahun 2019 ini, Geo Dipa mengpoerasikan dua PLTP yakni PLTP Dieng Unit 1 yang berada di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, dan PLTP Patuha Unit 1 di Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sekitar 40 km dari Kota Bandung ke arah Selatan.

Proyek panasbumi Dieng dan Patuha

Sebelum digarap Geo Dipa, sksplorasi panasbumi Dieng sebenarnya telah dimulai oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1928, atau hampir bersamaan dengan pengembangan Kamojang di Jawa Barat. Saat itu, di lapangan panasbumi Dieng, sempat dilakukan pemboran beberapa lubang sedalam 80 m, tetapi tidak dilanjutkan akibat krisis keuangan.

Kemudian tahun 1964-1965 UNESCO menetapkan Dieng sebagai salah satu prospek panasbumi di Indonesia yang sangat bagus. Tahun 1970 USGS melakukan survei geofisika dan tahun 1973 melakukan pengeboran 6 sumur dangkal.

Dua dasawarsa kemudian, pada 1994, California Energy International (CEI) menandatangani kontrak pembangunan pembangkit (4,150 MW), dan No.1 (60 MW) selesai dibangun pada 1998. Meskipun 45 sumur pemboran mengkonfirmasi adanya potensi panasbumi sebesar 350 MW, pembangunan pembangkit No.2, 3, dan 4 ditunda karena adanya dampak krisis moneter di Asia.

Akhirnya pengusahaan panasbumi di Dieng diambilalih oleh PT Geo Dipa Energi.

Sementara proyek panasbumi Patuha dikembangkan bersamaan dengan Dieng Unit 1. Pengeboran sumur panasbumi di Patuha dilakukan pada tahun 1996 hingga tahun 1997. Pembangunan PLTP-nya dimulai pada tahun 2012 dan beroperasi pada tahun 2015, atau tiga tahun kemudian.

Hingga kini, Direktur Utama Geo Dipa telah beberapa kali ganti. Mereka di antaranya Samsudin Warsa, Praktimia Semiawan, Aidil Hasibuan dan kini Riki F Ibrahim.

Kapasitas Terpasang

Sekarang ini Geo Dipa mengoperasikan kapasitas terpasangan 120 MW, yang berasal dari PLTP Dieng I 60 MW dan PLTP Patuha I 60 MW. Kini Geo Dipa sedang mengembangankan PLTP Unit II Dieng dan Patuha, dengan kapasitas masing-masing 60 MW. Selain itu, Geo Dipa pun sedang mengembangkan 10-15 MW small scale power plant dan 10-15 MW organic rankine cycle power plant dengan skema build operate transfer (BOT). PLTP ini ditargetkan beroperasi pada 2020 dan 2022.

 

Mengurangi emisi karbon

Pada aspek lingkungan, Geo Dipa sebagai penghasil energi bersih, sekarang ini dengan kapasitas 120 MW bisa mengurangi emisi karbon sekitar 850 ribu ton per tahun. Tahun 2023, ketika kapasitas telah mencapai 270 MW emisi karbon yang bisa dikurangi sebesar 1,7 juta ton.

Kontribusi pemasukan ke negara

Saat ini Geo Dupa memberikan kontribusi pajak dan PNBP hampir Rp 40 miliar. Seiring dengan naiknya kapasitas terpasang, pada 2023 diprediksi pajak Geo Dipa akan naik menjadi 182 persen, sementara kontribusi PNBP akan naik hingga sebesar 120 persen, melalui bonus produksi dan iuran eksplorasi ke kas umum daerah dari masing-masing wilayah kerja panasbumi Geodipa. (es)