Star Energy, Operator Panasbumi Terbesar Ketiga di Dunia

Star Energy, Operator Panasbumi Terbesar Ketiga di Dunia
PLTP Darajat

PABUMNews-Star Energy menjadi operator panasbumi terbesar ketiga di dunia setelah mengakuisisi asset panasbumi Chevron di Darajat Garut dan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Sementara di Indonesia, perusahaan Prajogo Pangestu ini menjadi terbesar ke-satu.

Sejak tahun 2000, Star Energy memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Wayang Windu dengan kapasitas terpasang sekitar 227 MW. Star Energy mendapat tambahan kapasitas dari dua proyek panasbumi Chevron di Salak dan Darajat, dengan kapasitas 648 MW.

Aset Chevron telah selesai diakuisisi pada April 2017. Akuisisi dilakukan melalui Konsorsium Star Energy yang terdiri dari Star Energy Group Holdings, Star Energy Geothermal, AC Energy (terafiliasi dengan Ayala Group Filipina) dan EGCO (Thailand).

Meski telah dimiliki secara pribadi oleh Prajogo, Star Energy belum tergabung dalam konsolidasi grup BRPT (Barito Pacific Tbk). Oleh karena itu, BRPT berencana mengakuisisi 66,66 persen saham Star Energy Group Ltd. Perseroan menargetkan proses akuisisi selesai pada semester pertama tahun 2018 mendatang.

Analis senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada berkesempatan untuk meninjau lokasi pengerjaan Geothermal milik Star Energy. “Lokasi yang dikunjungi terletak di Gunung Salak. Lokasi tersebut merupakan salah satu site dari beberapa site geothermal yang dimiliki oleh Barito Pacific,” kata Reza kepada wartawan, Selasa (14/11/2017) seperti dirilis warta-ekonomi.co.id.

Pihak BRPT menyatakan, dalam hal transaksi share sale and purchase agreements (SPA), perseroan baru membayarkan uang muka. Sementara itu, penyelesaian transaksi (closing transaction) direncanakan tuntas pada semester I/2018. Oleh karena itu, sampai saat ini, Star Energy belum resmi dimiliki BRPT. Prajogo merupakan pemegang 69,21 persen saham BRPT.

Terkait dengan proses akuisisi Star Energy, sebelumnya BRPT telah menandatangani supplemental memorandum of understanding (MoU) dengan dua pemegang saham Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHL) yakni Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited.

BRPT sudah membayar uang muka sebesar USD58,60 juta yang diambil dari fasilitas pinjaman Bangkok Bank Public Company Limited senilai total USD250 juta.

Selain itu, perseroan juga akan menjaminkan 850 juta saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) untuk mendapatkan pinjaman sekitar USD300 juta dari sindikasi bank. Perjanjian fasilitas pinjaman tersebut telah ditandatangani kedua pihak pada 24 Maret 2017.

Adapun cost funding Star Energy ialah sebesar 4,5 persen untuk jangka waktu 10 tahun dan penerbitan obligasi dolar AS TPIA dengan kupon 5,1 persen dan jangka waktu 7 tahun.

Di kuartal pertama tahun 2018, BRPT menargetkan akuisisi Star Energy Group bisa segera diselesaikan seluruhnya. Untuk itu, BRPT menyiapkan dana sebesar USD700-USD800 juta.

Saat ini, setelah Ashmore Investment menjual kepemilikannya, Star Energy dimiliki oleh BCPG, EGCO, Mitsubishi, dan Ayala. Star Energy dalam menjalankan kegiatan usaha geothermal mengoperasikan 6 turbin dimana 3 turbin kerjasama dengan PT Indonesia Power dan 3 turbin dioperasikan sendiri.

“Adapun kapasitas masing-masing turbin ialah 65 MW pada turbin milik Star Energy dan 60 MW pada turbin Indonesia Power,” imbuh Reza. (es)