Supramu Santosa: “Sembilan Tahun Eksplorasi, Baru Sekarang Eksploitasi,”

Supramu Santosa: “Sembilan Tahun Eksplorasi, Baru Sekarang Eksploitasi,”
Foto: WKP Muara Laboh yang diusahakan PT Supreme Energy Muara Laboh (sumber : Dok. Oldwin Kuniawan)

PABUMNews – PT Supreme Energy MuaraLaboh (SEML), Mei 2017 lalu resmi melakukan pemboran sumur eksploitasi di Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Liki Pinangawan MuaraLaboh, Solok Selatan, Sumatra Barat. Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) ini merupakan bagian dari upaya mengejar target capaian pemerintah sebesar 7.200 MW pada tahun 2025 yang perlu tambahan kapasitas sekitar 5.500 MW lagi.

PLTP Muara Laboh adalah pembangkit listrik pertama setelah generasi Kuasa Pengusahaan dan Kontrak Operasi Bersama (KOB) era kebijakan tahun 1981 dan 1991.

Melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panasbumi, potensi panasbumi Muara Laboh dapat diusahakan oleh Independen Power Producers (IPP) secara langsung.

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM tahun 2008, PT Supreme Energy ditugaskan untuk melakukan studi pra-kelayakan di prospek panas bumi Liki Pinangawan Muaralaboh. Tugas ini diselesaikan pada tahun 2009.

Menyusul pemberian tender konsesi Muara Laboh pada awal tahun 2010, Ijin Panas Bumi/IPB dikeluarkan. Pada tanggal 2 Maret 2012, Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (PPA) antara Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT SEML ditandatangani.

Pada hari yang sama, Menteri Keuangan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Jaminan Pemerintah untuk Proyek Muara Laboh.

SEML telah mengerjakan program eksplorasi sejak 2010 dan pada akhir tahun 2013 telah menyelesaikan program pengeboran eksplorasi yang meliputi 6 sumur.

Nilai cadangan uap yang telah disertifikasi pada pertengahan 2014 dan informasi teknis tender EPC, memastikan bahwa cukup untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 80 MWe, di mana semua pembangkit listrik akan menggunakan energi panasbumi (PLTP) .

Pada akhir 2015 SEML telah menyelesaikan tender EPC , sehingga pembangunan pembangkit listrik tenaga panasbumi diperkirakan bisa berproduksi listrik pada 2019. Untuk pengusahaan panasbumi di Muaro Laboh, PT Supreme Energi menggelontorkan investasi US$ 469 juta, atauRp 6,2 triliun.

Nantinya sumur-sumur ini akan menyuplai uap ke PLTP Muara Laboh Unit 1 dengan kapasitas 80 MW yang akan beroperasi secara komersial pada tahun 2019. Ketika beroperasi, PLTP MuaraLaboh mampu melistriki 120.000 rumah tangga pada sub system kelistrikan Sumatera Bagian Utara.

“Kami akan melakukan eksploitasi sebanyak 13 sumur untuk menghasilkan 80 MW, selain delapan sumur produksi dan tiga sumur injeksi,” ujar Presiden Direktur Supreme Energy, Supramu Santosa

Supramu menargetkan, Agustus 2019 perusahaannya sudah bias mengalirkan 80 MW listrik.

“Sembilan tahun eksplorasi, baru sekarang eksploitasi,” jelas Supramu.

Proyek PLTP MuaraLaboh akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Solok Selatan khususnya dan Sumatera Barat umumnya melalui penciptaan lapangan kerja selama proyek ini berlangsung maupun melalui program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh PT. Supreme Energy Muara Laboh. (ES)