Tahun 2019 PGE Bidik Pemanfaatan Langsung Panasbumi

Tahun 2019 PGE Bidik Pemanfaatan Langsung Panasbumi

Pabrik gula aren Masarang di Lahendong

PABUMNews- PT Pertamina Geothermal Energi (PGE), perusahaan panasbumi anak usaha PT Pertamina, selain terus mengembangkan pemanfaatan tak langsung panasbumi untuk menopang kebutuhan energi listrik, tahun 2019 sekarang membidik pengembangan pemanfaatan langsung energi ini untuk berbagai kepentingan.

“Tahun 2019 inisiasi portofolio pemanfaatan langsung panasbumi, seperti untuk proses pengolahan makanan dan minuman, kosmetik. Pengembangan pemanfaatan langsung merupakan terobosan PGE di tahun 2019,” jelas Direktur Utama PT PGE, Ali Mundakir seperti dirilis laman pertamina.com Januari 2019 lalu.

Tak disebutkan sektor apa yang akan menjadi bidikan utama dalam pemanfaatan langsung panasbumi yang akan dikembangkan PGE. Namun yang jelas, panasbumi memang tak hanya untuk kepentingan listrik. Di negara-negara berhawa dingin, juga dijadikan sumber energi untuk penghangat ruangan, pencair salju di jalanan dan untuk kepentingan industri pertanian.

Di Indonesia pun pemanfataan langsung panasbumi telah lama dikembangkan. Selain untuk wisata terutama dalam pemanfaatan air panasnya, juga untuk industri dan pertanian.

Di Lahendong Sulawesi Utara, sejak tahun 2004 PGE telah membantu pengrajin gula aren setempat dengan memanfaatkan panasbumi untuk proses produksi. Hal ini dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Masarang, pengelola pabrik gula Masarang. Alhasil setelah memanfaatkan energi panasbumi, warga meninggalkan kayu bakar untuk memproduksi gula sehingga kerusakan alam akibat pengambilan kayu di hutan secara liar bisa dicegah. Selain itu, waktu produksi pun lebih singkat.

Kemudian di Kamojang, Jawa Barat, PGE juga menciptakan alat pengering kopi. Alat yang kemudian dihibahkan kepada para petani kopi Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung ini, memotong proses pengeringan kopi yang tadinya cukup panjang karena dilakukan secara manual di terik matahari. Dengan alat itu, waktu pengeringan lebih singkat dan pada cuaca hujan pun petani tetap bisa mengeringkan kopinya.

Tak hanya mesin pengering kopi, PGE pun membantu masyarakat sekitar Kamojang yang bergelut dengan usaha budidaya jamur. Di antaranya membantu dalam proses sterilisasi merang/sekam sebagai media tanam jamur dengan memanfaatkan air panasbumi.

Kurangi Emisi 5,5 Juta Ton CO2

Sementara itu, dikutip dari rilis pertamina.com, dalam pemanfataan tak langsung, kapasitas terpasang yang dikelola PGE merupakan yang paling besar secara badan usaha tunggal. Kapasitas terpasang PGE saat ini 617 MW, disusul oleh Star Energy Geothermal Salak, sebesar 377 MW, Sarulla Operations, Ltd., sebesar 330 MW, Star Energy Geothermal Darajat II, Ltd., sebesar 271 MW, Star Energy Geothermal, sebesar 227 MW, Geo Dipa Energi, sebesar 115 MW, dan PLN sebesar 13 MW.

Tahun ini PGE akan mendapatkan tambahan sebesar 55 MW dari PLTP Lumut Bali Unit I, sehingga kapasitasnya akan menjadi 672 MW.

‚ÄúSebagai garda terdepan dalam pengembangan panasbumi di Indonesia, kontribusi PGE ini akan terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang melalui beberapa proyek yang sedang dilaksanakan, di antaranya proyek panas bumi di Lumut Balai di Sumatera Selatan, Hululais dan Hululais Extention (Bukit Daun) di Bengkulu dan Sungai Penuh di Jambi, dimana total kapasitas terpasang panas bumi yang ditargetkan PGE pada tahun 2025 adalah sebesar 1057 MW,” papar Ali Mundakir.

Ditambahkannya, dengan kapasitas sebesar itu, artinya PGE telah melakukan penghematan penggunaan bahan bakar fosil sebesar 51,7 MBOEPD dan telah memberikan kontribusi pengurangan emisi karbon sebesar 5,5 juta ton CO2 per tahun. (es)