Tahun 2019, PLTP Kamojang Hemat Rp 1,5 Triliun Dibanding Pembangkit Fosil

Tahun 2019, PLTP Kamojang Hemat Rp 1,5 Triliun Dibanding Pembangkit Fosil

Kompleks PLTP Kamojang, Jawa Barat. (Foto Has/ADPPI)

PABUMNews – Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, selain memberikan energi bersih bebas karbon, juga mampu menghemat Rp1,5 triliun pada 2019 jika dibandingkan dengan penggunaan pembangkit bahan bakar minyak (BBM) atau fosil.

“Pada tahun lalu, produksi PLTP Kamojang Unit 1-3 dengan total kapasitas 140 MW mencapai 993 GWh. Kalau dibandingkan dengan pemakaian BBM jenis solar, maka penghematannya pada 2019 sekitar Rp1,5 triliun,” kata Direktur Operasi 1 Indonesia Power M Hanafi Nur Rifa’i saat temu media di PT Indonesia Power Kamojang Power Generation Operation and Maintenance Services Unit (POMU), Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/3/2020).

Hanafi menjelaskan, biaya pembangkit listrik BBM jenis solar sekitar Rp2.600 per kWh. Sementara, biaya pembangkit panas bumi hanya Rp1.100 per kWh. Jadi ada penghematan Rp1.500 per kWh.

“Kalau ditotal dengan produksi 2019 sebesar 993 GWh, maka penghematannya sekitar Rp1,5 triliun,” kata Hanafi.

Kepada awak media Hanafi pun menjelaskan, panas bumi merupakan sumber energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan.

“Berbeda dengan pembangkit fosil yang menghasilkan emisi karbon, panas bumi tidak mengeluarkan emisi,” ujarnya.

PLTP Kamojang terdiri dari lima unit, tiga di antaranya dioperasikan Indonesia Power, yakni Unit 1 berkapasitas 30 MW, Unit 2 berdaya 55 MW, dan Unit 3 juga 55 MW.

“Total kapasitas 140 MW,” jelasnya.

Dua unit lainnya, yakni unit IV dan V dioperasikan PT Pertamina Geothermal Energi, anak usaha PT Pertamina (Persero). Sementara total daya terpasang pembangkit Indonesia Power mencapai 16.376 MW , di mana 1.541 MW atau 9,4 persen di antaranya bersumber dari EBT.

Hanapi menegaskan, keberadaan pembangkit panas bumi penting artinya untuk mengejar bauran energi yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050.

Selain itu, lanjutnya, sesuai komitmen Indonsia dalam menghadapi perubahan iklim, panas bumi juga dijadikan salah satu sumber energi andalan dalam pengurangan emisi gas rumah kaca 29 persen pada 2030 tanpa bantuan internasional atau 41 persen dengan bantuan internasional (Den)