Takdir Riki Firmandha Ibrahim

Takdir Riki Firmandha Ibrahim

PABUMNews-Rabu tanggal 30 Agustus 2017, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutus perkara sengketa Geo Dipa Energy dengan PT Bumi Gas Energi.

Bunyi putusannya adalah mantan Direktur PT Geo Dipa Energi Samsudin Warsa tidak bersalah atas berbagai tuduhan yang disampaikan PT Bumi Gas Energi (BGE) terkait kontrak kerjasama panasbumi Dieng dan Patuha. Majelis hakim pun membebaskan geo dipa dan pemerintah dari ganti rugi Rp 6,6 triliun yang dituntut penggugat.

Direktur PT. Geo Dipa Energi (Peresero), Riki Firmandha Ibrahim nyaris meloncat kegirangan dengan putusan tersebut.

Besoknya, tepatnya Kamis tanggal 31 Agustus 2017, Riki langsung menggelar jumpa pers di kantornya di Jakarta. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT sebab putusan majelis hakim membuat nama Geo Dipa bersih dari tuntutan hukum pidana pasal 378 (penipuan).

Putusan itu pun, lanjut Riki, mengartikan bahwa pengelolaan Geo Dipa atas wilayah panasbumi Dieng dan Patuha memang sudah sah sejak tahun 2002.

Dengan demikian, tegas Riki, Geo Dipa akan segera melanjutkan pengembangan PLTP Patuha dan Dieng dengan membangun pembangkit listrik Patuha 2, 3 dan Dieng 2,3, yang masing- masing berkapasitas 1x 60 MW.

“Kami siap membangun pasokan energi bersih lingkungan, sejalan dengan program pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional sebaik – baiknya,” ujar lelaki kelahiran Jakarta 15 Februari 1960 itu.

Seperti sudah takdir, profesional pemilik gelar Master dari Teknik Perminyakan, Montana School of Mine dan Teknik Geothermal dari Standford University, CA, USA ini selalu ditugaskan di perusahaan “bermasalah”.

Kiprahnya di perusahaan pelat merah dimulai sekitar tahun 2012. Saat itu Riki yang sudah malang melintang di berbagai perusahaan internasional ini, diminta pemerintah menjadi bagian dari PT. Perusahaan Penyehatan Aset (PPA) untuk penyelesaian restrukturisasi utang Grup Tirtamas yang sedang dalam proses divestasi aset-asetnya untuk memenuhi kewajiban MYB ( Multi-Year-Bond) kepada pemerintah.

Saat itu Riki ditempatkan menjadi Direktur Keuangan PT Tuban Petrochemical Industries, perusahaan holding yang didirikan dalam rangka restrukturisasi utang Grup Tirtamas tersebut.

Di bawah Riki, ternyata anak-anak perusahaan PT Tuban Petrochemical Industries berhasil kembali beroperasi.

Atas keberhasilannya itu, Riki kemudian kemudian ditarik menjadi Direktur Utama PT. Geo Dipa Energi lewat Keputusan Pemegang Saham Secara Sirkuler tanggal 3 November 2016.

Satu tahun bekerja, Riki berhasil meningkatkan realiasi produksi listrik PT Geo Dipa sebesar 30 persen dibanding tahun 2016.

Tahun 2017 PT Geo Dipa berhasil meningkatkan produksi menjadi sebesar 763 GWh, sementara tahun 2016 hanya sebesar 586 GWh.

Saat Riki ditarik menjadi orang nomor satu di PT Geo Dipa Energi (Persero), anak usaha PT PLN ini memang menghadapi beberapa persoalan. Selain persoalan menghadapi gugatan PT Bumi Gas Energi, juga dihantui oleh akumulasi rugi perusahaan yang tercatat sebesar Rp 641 Milyar sampai Desember 2016. Dan peningkatan produksi, merupakan salah sau solusi untuk mengatasi masalah rugi tersebut.

Berhasilkah Riki yang juga dosen pascasarjana di Universitas Darma Persada – jurusan Energi Panasbumi ini menjalankan tugas itu? Semoga (es)