Warga di Daerah Penghasil Panasbumi Terbesar di Indonesia Ini, Ternyata Tak Mengerti Apa Itu Panasbumi

Warga di Daerah Penghasil Panasbumi Terbesar di Indonesia Ini, Ternyata Tak Mengerti Apa Itu Panasbumi

Kawah kereta api di Garut merupakan sumur panasbumi pertama di Indonesia.

PABUMNews – Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah penghasil panasbumi cukup besar di Indonesia. Daerah yang dikenal dengan julukan Kota Dodol ini memiliki tiga wilayah kerja panasbumi (WKP) yang telah beroperasi, yaitu Kamojang, Darajat dan Karaha Bodas. Panasbumi dari tiga WKP tersebut memasok listrik ke sistem transmisi Jawa- Bali.

Namun di balik melimpahnya potensi panasbumi yang dimiliki Garut, ternyata pengetahuan sebagian besar masyarakat Garut akan panasbumi masih sangat minim, bahkan masih banyak yang tidak mengetahui sama sekali mengenai panasbumi. Hal ini terutama dialami oleh warga Garut yang berada di luar wilayah terdampak pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP). Contohnya masyarakat Limbangan, Malangbong, Selaawi, Karangpawitan dan sebagainya, umumnya belum mengetahui apa itu panasbumi, apa manfaatnya bagi manusia, bagaimana panasbumi diproses menjadi energi listrik.

Ketua Apdesi Kecamatan Cibatu, Sunarkawan, mengakui hal ini. Ia menyatakan, warga Cibatu umumnya sudah mengetahui bahwa di Garut ada pembangkit listrik yang memasok kebutuhan listrik Jawa-Bali.

“Akan tetapi hanya beberapa gelintir saja yang mengetahui bahwa di Garut memang ada pembangkit listrik yang bersumber dari panasbumi. Terus terang, bagi sebagian besar warga Garut, informasi mengenai panasbumi beserta manfaatnya bagi kehidupan masyarakat, masih sangat minim,” katanya.

Bahkan Sunarkawan menjelaskan, banyak warga yang mengasosiasikan bahwa panasbumi itu gas bumi, sehingga berpikiran bahwa eksploitasi panasbumi pun sama dengan eksploitasi gas bumi.

Sunarkawan menyatakan, informasi mengenai apa itu panasbumi sebaiknya diketahui secara merata oleh seluruh warga Garut hingga ke pelosok mengingat Garut merupakan penghasil panasbumi cukup besar. Tujuannya, agar warga Garut melek dengan sumber daya alam yang dimilik daerahnya. Selain itu, informasi panasbumi juga penting diketahui untuk menumbuhkan dan memupuk rasa cinta dan kesadaran warga akan energi bersih dan ramah lingkungan.

“Secara kebetulan saya menjadi komite di sebuah sekolah setingkat SLTA. Ketika saya ngobrol-ngobrol tentang panasbumi dengan siswa, mereka ternyata menyatakan bahwa panasbumi itu adalah gas bumi. Ini ironi, masa warga di daerah penghasil panasbumi terbesar di Indonesia, masih belum besa membedakan apa itu panasbumi dan gas bumi,” katanya.

Oleh karena itu Sunarkawan menyatakan, pihak pengelola pembangkit listrik tenaga panasbumi yang berada di Garut, sekali-kali harus mengundang warga Garut yang berada di luar wilayah terdampak PLTP untuk diberikan informasi mengenai panasbumi.

“Saya tahu bahwa pihak pengelola PLTP seringkali melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikan panasbumi, akan tetapi kunjungan itu sebagian besar dilakukan ke sekolah yang berada di sekitar PLTP. Nah sekali-sekali, undang para siswa dari luar kawasan PLTP untuk diberi penjelasan mengenai panasbumi, misalnya sekolah dari Limbangan, Cibatu, Malangbong, Karangpawitan, dan sebagainya,” ujar Sunarkawan.

Menurut Sunarkawan, penjelasan mengenai panasbumi dari pengelola secara langsung penting agar masyarakat tak memiliki persepsi yang salah tentang panasbumi. Hal lainnya, agar para siswa di Garut memiliki kesadaran akan pentingnya energi baru terbarukan yang ramah lingkungan, salah satunya panasbumi.

“Biarkan para siswa di luar kawasan PLTP juga merasa bangga akan kekayaan yang dimiliki Garut, yang bisa memasok kebutuhan listrik dalam sistem transmisi Jawa Bali,” katanya. (es)