Sumatera Selatan Miliki 10 Persen Potensi Panasbumi Tanah Air

Sumatera Selatan Miliki 10 Persen Potensi Panasbumi Tanah Air

Peresmian penajakan sumur eksploitasi di WKP Rantau Dedap (sumber foto: esdm.go.id)

PABUMNews- Dari potensi energi panasbumi tanah air sebesar 29 GW, Sumatera Selatan diperkirakan menyimpan 10 persennya, atau memiliki 2.095 MW. Dua lokasi panasbumi yang sebentar lagi akan melistriki ribuan rumah di Sumatera Selatan adalah Rantau Dedap dan Lumut Balai. Keduanya sudah masuk tahap eksploitasi dan sebentar lagi terhubung dengan jaringan PLN.

Inilah sejumlah potensi panasbumi Sumatera Selatan

WKP Danau Ranau

Lapangan panasbumi Danau Ranau telah ditetap menjadi Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) dengan SK No 1551 K/MEM/2011 tanggal 21/4/2011. WKP ini mencakup dua kabupaten yakni Oku (Ogan Komring Ulu), Sumatera Selatan dan Lampung Barat, Lampung. Statusnya dalam persiapan lelang atau penugasan.

Dari hasil penelitian, WKP Danau Ranau memiliki sumber daya terduga 210 MW. Untuk tahap I akan dikembangkan 40 MW pada tahun 2022.

Danau Ranau dapat dicapai dengan menggunakan bus jurusan Bandung – Merak – Bakau Huni – Liwa. Dari Liwa ke lokasi jaraknya sekitar 32 km dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum.

Titik potensi ini berada pada ketinggian 500 – 1800 m dari permukaan laut. Manifestasi panasbuminya di antaranya berupa mata air panas dengan temperatur 37 – 64 derajat Celcius. Sumber panasnya diduga berasal dari sisa magma pembentukan kerucut Gunung Api Seminung yang berada di bagian tengah Danau Ranau.

WKP Lumut Balai- Margabayur

Kementerian ESDM sempat menyebut bahwa potensi panasbumi Lumut Balai merupakan kebanggaan Sumatera Selatan sebab memiliki potensi yang paling besar di antara potensi lainnya di provinsi ini.

Lapangan panasbumi Lumut Balai ditetapkan menjadi WKP melalui SK No 2067 K/30/MEM/2012 tanggal 18/6/2012. Lokasinya berada di Kabupaten OKU Selatan dan Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

Potensi panasbumi Lumut Balai tersebar di beberapa titik yaitu, Lumut Balai dengan sumber daya hipotesis 235 MW, terduga 350 MW, mungkin 130 MW, dan spekulatif 120 MW. Kemudian Ulu Danau dengan sumber daya spekulatif 225 MW, hipotesis 6 MW. Titik lainnya berada di Margabayur dengan sumber daya hipotesis 145 MW dan terduga 194 MW.

Pemegang izin pengusahaan panasbumi di WKP ini adalah PT Pertamina Geothermal Energi (PGE), anak usaha PT Pertamina.

WKP Lumut Balai-Margabayur dikembangkan dalam beberapa tahap.

Unit 1 tahun 2018 sebesar 55 MW.
Unit 2 tahun 2019 sebesar 55 MW.
Unit 3 tahun 2022 sebesar 55 MW.
Unit 4 tahun 2024 sebesar 55 MW.
Small scale tahun 2020 sebesar 5 MW.

Potensi Margabayur

Unit 1 tahun 2023 sebesar 30 MW.
Unit 2 tahun 2024 sebesar 30 MW.

Lapangan panasbumi Lumut Balai bisa ditempuh dari Jakarta menuju Palembang menggunakan pesawat kurang lebih 1 jam. Setelah mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, dilanjutkan dengan transportasi darat menuju Desa Panindaian, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim selama kurang lebih 8 jam dari Kota Palembang.

Sementara itu, lapangan panasbumi Margabayur, dari Jakarta bisa ditempuh melalui Palembang menggunakan pesawat dan mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Kemudian dari Muara Dua, Ibu Kota Kabupaten OKU Selatan, bisa naik kendaraan roda 4 sampai ke desa terakhir yaitu Desa Lawang Agung, Kecamatan Muara Dua Kisam.

Deskripsi WKP

Lapangan panasbumi Lumut Balai mencakup wilayah Bt. Lumut, Bt. Balai, sebagian Bt. Ringgit, dan sebagian Bt. Pandan. Morfologi daerah ini berupa suatu kompleks pegunungan vulkanik yang berada di atas dataran tinggi yang dikenal sebagai Semendo Plateau.

Sementara lapangan Margabayur terletak di Bukit Barisan (Barisan mountain range) yang menghasilkan beberapa aktivitas vulkanik seperti G. Besar, G, Ringgit dan G. Garanggarang.

Sumber panas sistem geothermal diperkirakan berasal dari aktivitas vulkanik terakhir yaitu erupsi Bt. Lumut Muda pada 0.6 – 0.9 juta tahun lalu.

Temperatur geothermometer reservoir berkisar antara 260 – 300 ºC dan dari hasil pengukuran downhole sebesar 260 ºC.

Di antara keenam wilayah kerja tersebut, PLTP Lumut Balai merupakan salah satu unggulan dikarenakan potensi panasbumi yang dimilikinya cukup besar, mencapai lebih dari 300 MW.

WKP Rantau Dedap

Potensi panasbumi Rantau Dedap ditetapkan menjadi WKP dengan SK Nomor 155 K/30/MEM/2010 tanggal 15-01-2010. WKP ini berlokasi di Kabupaten Muara Enim, Lahat, dan Kota Paga Alam, Provinsi Sumatera Selatan.

WKP Rantau Dedap memiliki sumber daya hipotesis 193 MW, terduga 13, dan spekulatif 92 MW. Pemegang izin pengusahaan adalah PT Supreme Energi Rantau Dedap, anak usaha PT Supreme Energi.

Kapasitas terpasang dan rencana pengembangan

Rantau Dedap Unit  1 Tahun 2020 86 MW.
Rantau Dedap Unit  2 Tahun 2026 134 MW.

Lokasi Rantau Dedap bisa dicapai dengan menggunakan pesawat dari Jakarta dan mendarat di Bandara Sultan Mahmud Baddaruddin II. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat ke arah barat daya melalui Jalan Soekarno Hatta – Jalan Lintas Timur menuju Prabumulih. Dari sini dilanjutkan ke kota Lahat, Kabupaten Lahat melalui Jalan Lahat-Muara Enim. Dari Muara Enim perjalanan dilanjutkan melalui Jalan Letnan Alamsyah – Jalan Lintas Pagar Alam hingga sampai di PT. Supreme Energy Rantau Dedap.

WKP Rantau Dedap sudah memasuki tahapan eksploitasi. Peresmian  penajakan sumur eksploitasi pertama, yaitu sumur RD-I3, dilakukan oleh Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana didampingi oleh Direktur Panasbumi, Ida Nuryatin Finahari, dan CEO Supreme Energi, Supramu Santosa, pada Agustus 2018 lalu.

Setelah beroperasi, PLTP Rantau Dedap akan mampu melistriki lebih dari 130 ribu rumah. Proyek ini pun banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahap konstruksi beberapa waktu lalu, jumlah pekerja  yang diserap kurang lebih 1200 orang.

Proyek PLTP Rantau Dedap juga memberikan tambahan penerimaan negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar USD 106,87 juta untuk masa eksploitasi dan pemanfaatan. Kemudian pendapatan lainnya (penerimaan negara ini belum termasuk penerimaan dari sektor pajak) dengan rincian sebagai berikut:

1. Total Iuran eksplorasi sebesar USD 626.460.

2. Total Iuran Tetap selama eksploitasi dan pemanfaatan (30 Tahun) sebesar USD 4,25 juta.

3. PNBP Iuran produksi/royalti dengan asumsi pembangkitan listrik 681,9 GWh/tahun sebesar USD 85 juta selama masa eksploitasi dan pemanfaatan.

4. Bonus Produksi untuk 3 Kabupaten Muara Enim, Lahat dan Pagar Alam sebesar USD 17 juta selama masa Produksi.

WKP Tanjung Sakti

Ditetapkan menjadi WKP dengan SK Nomor 139 K/30/MEM/2016 tanggal 20-01-2016. Lapangan panasbumi ini berlokasi di dua wilayah provinsi yakni Sumatera Selatan dan Bengkulu, tersebar antara Empat Lawang, Lahat, Kota Pagar Alam, Bengkulu Selatan, dan Seluma.

Tanjung Sakti bisa dicapai dengan pesawat dari Jakarta menuju Bengkulu dan mendarat di Bandara Fatmawati Soekarno. Kemudian dilanjutkan perjalanan darat ke lokasi.

WKP Tanjung Sakti kini dalam persiapan lelang/penugasan dengan potensi terduga 70 MW, dan akan dikembangkan tahun 2025 sebesar 55 MW.

Indikasi keberadaan sistem panasbumi Tanjung Sakti diperkuat dengan munculnya mata air panas dengan temperatur 44-54 derajat C yang berada di sebelah barat laut G. Dempo dan 77-99 derajat C di sebelah barat daya G. Dempo.

Daerah prospek panasbumi yang paling menjanjikan terdapat pada daerah Gunung Dempo. Selain memiliki daerah alterasi yang cukup luas, daerah tersebut mempunyai manifestasi fumarol yang terdapat di dekat puncak Gunung Dempo yang mengindikasikan adanya sistem panas bumi bertemperatur tinggi.

Potensi Wai Selabung

Area prospek Wai Selabung memiliki sumber daya hipotesis 64 MW dan terduga 70 MW. Lokasinya berada di Kabupaten OKU Selatan.

Dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Wai Selabung bisa dicapai dengan perjalanan darat dari Palembang ke Muaradua dengan lama perjalanan sekitar 5 jam. Jaraknya kurang lebih 360 km. Dari Muaradua dilanjutkan ke lokasi Wai Selabung dengan lama perjalanan sekitar 1 jam.

Panasbumi Wai Selabung dicirikan dengan munculnya air panas di beberapa titik, di antaranya di Lubuk Suan, Wai Selabung dan Selabung Damping. (es, dari Buku Potensi Panas Bumi Indonesia I Tahun 2017)