Home / Berita

Senin, 2 September 2019 - 16:13 WIB

Emisi Panasbumi Hanya 1/15 Batubara

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM FX Sutijastoto menggelar jumpa pers pada kegiatan IIGCE 2019 di Jakarta Convention Centre (JCC) beberapa waktu lalu. (Foto: esdm.go.id)

PABUMNews – Pengembangan energi baru terbarukan termasuk di dalamnya panas bumi yang lebih ramah lingkungan merupakan wujud komitmen Pemerintah untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam program berkelanjutan penurunan emisi gas rumah kaca sebagaimana disepakati dalam 21st COP 2015 di Paris, atau yang dikenal dengan Paris Agreement dan telah dituangkan dalam Undang Undang No.16 Tahun 2016 Tentang Ratifikasi Paris Agreement.

Sejalan dengan itu, melalui Kebijakan Energi Nasional yang telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014, Pemerintah mentargetkan untuk mengembangkan energi baru terbarukan hingga mencapai 23% pada tahun 2025, melalui pengembangan berbagai sumber daya yang tersedia antara lain panas bumi, air, bioenergi, angin, surya dan laut.

“Panas bumi mempunyai peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah telah mentargetkan pada tahun 2025 mendatang kapasitas panasbumi bisa mencapai 6.000-7.000 MW. Kalau kita hitung menurut energinya kalorinya itu setara membakar 100.000 barel minyak per hari artinya apa, kalau target kita panas buminya tidak mencapai 6.000-7.000 MW kita harus mengimpor atau membakar minyak 100.000 barel minyak per hari,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi (EBTKE), FX. Sutijastoto dalam konferensi persnya di acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) Ke-7 Tahun 2019, di Jakarta, Selasa (13/8).

Baca Juga  Indeks Trilemma Energi Indonesia Peringkat ke-56 Dunia

Sumber energi panas bumi lanjut Sutijastoto, terbukti lebih ramah lingkungan karena emisi yang dihasilkan hanya 1/15 dari emisi pembangkit listrik tenaga uap yang bahan bakarnya batubara, atau 1/10 nya emisi dari pembangkit listrik genset-genset yang bahan bakarnya dari solar. “Panas bumi ini energi bersih, panas bumi itu mengandung biaya-biaya lingkungan yang ditanggung oleh panas bumi sebaliknya pembangkit batubara dan solar menanggung biaya lingkungan yang ditanggung masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  PLN dan ESDM Belum Sepakat Soal Harga Listrik, Lelang Lima WKP Panasbumi Tertunda

Manfaat lainnya dari panas bumi adalah, lingkungan hutan di sekitar wilayah kerja panas bumi akan lebih terjaga agar tercipta keseimbangan sumber daya air diwilayah sekitar wilayah kerja panas bumi. Biasanya hutan-hutan disekitar wilayah kerja panas bumi lebih terjaga karena kalau hutan disekitar wilayah kerja panas bumi tidak dikonservasi maka akan mengganggu stabilitas dari panas bumi itu sendiri.

Pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi akan juga akan memberikan beberapa nilai tambah seperti mengurangi impor minyak sebagai bahan bakar pembangkit, penggerak ekonomi daerah akhirnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) ini dinikmati oleh daerah-daerah.

“Panas bumi juga sangat strategis karena dalam pengembangannya ada dana-dana investasi yang digunakan untuk mengembangkan infrastruktur daerah baik itu jalan-jalan, penguatan jembatan yang akhirnya menggerakkan ekonomi daerah. Jadi ini investasi panas bumi itu juga mendorong pembangunan ekonomi daerah,” tutup Sutijastoto. (es)

Sumber : esdm.go.id

Berita ini 90 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

PT SAE Segera Bor Sumur Kedua di PLTP Baturaden

Berita

Geo Dipa Peduli Bantu Masyarakat sekitar PLTP

Berita

Air Panas Nagrak Tangkuban Parahu, Pemandian di Keheningan Alam

Berita

Pengembang Panas Bumi Gunung Slamet PT SAE Hibahkan Infrastruktur Senilai Rp 11 Miliar

Berita

Empat Polisi Jadi Tersangka Pengeroyokan Wartawan Metro TV

Berita

Kondisi Pengembangan Panas Bumi Indonesia Hingga Akhir 2020
Semburan Uap Panas

Berita

Diduga Steam Kick Penyebab Semburan Uap Panas di Proyek PT SMGP

Berita

Baturadden, Lokasi Idola Tujuan Wisata