Home / Berita

Sabtu, 2 September 2017 - 08:58 WIB

Energi Panas Bumi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Ilustrasi KMJ6 Kamojang, proyek panasbumi kerjasama Pertamina dan Selandia Baru tahun 1974 (sumber foto: dok.pabumnews.com)

PABUMNEWS – Ditulis sebagaimana diberitakan di www.fiscuswannabe.web.id. Prof. Dr. Emil Salim dalam bukunya yang berjudul Pembangunan Berkelanjutan-mendefinisikan  sebagai pembangunan yang tiada henti-hentinya dengan taraf hidup generasi yang akan datang tidak boleh lebih buruk atau harus lebih baik dari taraf hidup generasi saat ini.

Generasi saat ini boleh memiliki sumber daya alam serta melakukan berbagai pilihan dalam penggunaannya, tetapi harus menjaga agar tetap berkesinambungan. Generasi yang akan datang meskipun mungkin memiliki sumber daya alam yang relatif lebih sedikit, tetapi memiliki tingkat teknologi dan pengetahuan yang lebih baik serta persediaan kapital buatan manusia yang lebih memadai.

Dalam definisi yang lebih kaku atau sempit, pembangunan berkelanjutan dimaksudkan sebagai penolakan semua kegiatan saat ini yang dapat merusak lingkungan (ekologi) meskipun ada penciptaan sumber daya manusia maupun kapital buatan manusia yang berakibat pada peningkatan kesejahteraan generasi yang akan datang.

Energi panasbumi merupakan energi yang ramah lingkungan karena setelah diubah menjadi energi listrik, fluida panas bumi dikembalikan ke bawah permukaan (reservoir) melalui sumur injeksi. Penginjeksian air kedalam reservoir merupakan suatu keharusan untuk menjaga keseimbangan masa sehingga memperlambat penurunan tekanan reservoir dan mencegah terjadinya subsidence. Penginjeksian kembali fluida panas bumi setelah fluida tersebut dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, serta adanya recharge (rembesan) air permukaan, menjadikan energi panasbumi sebagai energi yang berkelanjutan.

Baca Juga  Pro Kontra PLTP Baturaden

Energi panasbumi, sebagai energi yang berkelanjutan, meskipun dimanfaatkan tiada henti-hentinya, tidak akan menurunkan taraf hidup generasi yang akan datang.

Prinsip Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) sejatinya sama dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Bedanya, di PLTU uap dibuat di permukaan dengan menggunakan boiler sedangkan pada PLTP uap berasal dari reservoir panasbumi.

Kebutuhan tenaga listrik nasional terus mengalami peningkatan hingga sembilan persen per tahun. Trend ini berbanding terbalik dengan ketersediaan energi fosil, yang merupakan energi primer mayoritas pembangkit listrik di Indonesia.

Pemanfaatan energi baru dan terbarukan sebagai energi primer pembangkit listrik sangat berpengaruh pada nilai keekonomian. Harga beli yang menarik, karena itu, ditetapkan pemerintah sebagai kebijakan insentif yang bertujuan untuk menarik investasi, baik nasional maupun asing, dalam rangka pemanfaatan energi baru dan terbarukan di Indonesia.
Pemerintah kemudian mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai energi alternatif dalam langkah mengantisipasi kekurangan energi primer dari energi fosil di masa depan. Berbagai kebijakan ditetapkan untuk meningkatkan pemanfaatan energi tersebut untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Salah satunya adalah regulasi Feed in Tariff (FiT) energi baru dan terbarukan.

Baca Juga  17 Tahun Geo Dipa Energi Menghasilkan Energi Bersih

Sebagai salah satu jenis sumber energi baru dan terbarukan, kebijakan Feed in Tariff juga bertujuan untuk mendorong upaya pengusahaan panasbumi. Feed in Tariff adalah kebijakan pembelian listrik dengan harga tetap yang berasal dari energi terbarukan.

Tujuan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan produksi listrik yang berasal dari energi terbarukan dengan memberikan insentif ekonomi kepada investor. Kebijakan Feed in Tariff didesain untuk mendukung pengembangan semua energi terbarukan dan menjadikannya lebih kompetitif melalui economics of scale dan inovasi teknologi.

Sistem Feed in Tariff menjamin suatu pembayaran tetap kepada produsen listrik untuk tiap unit listrik yang dihasilkan. Elemen utama dalam kebijakan Feed in Tariff adalah jaminan pembayaran selama jangka waktu tertentu yang mampu menutupi biaya tinggi dari pembangkitan energi listrik yang berasal dari energi terbarukan. Berdasarkan National Renewable Energy Laboratory, fundamental desain kebijakan Feed in Tariff harus memperhitungkan metode penetapan harga, struktur pembayaran, diferensiasi, dan pembayaran bonus.

Dalam hal pengusahaan panas bumi, parameter perhitungan Feed in Tariff dalam penentuan harga listrik pada dasarnya berkaitan dengan karakteristik sumber daya energi panas bumi yang sangat bervariasi. Dengan begitu, dalam penentuan tarif berdasarkan kebijakan Feed in Tariff di sektor panasbumi, harus disesuaikan dengan lokasi Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) panas bumi. (Harry)

Berita ini 112 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Holding Geothermal Untuk Kedaulatan Energi Nasional

Berita

Holding Geothermal Untuk Kedaulatan Energi Nasional

Berita

Sempat Gaduh, Surat Menteri Keuangan Soal PLN Akhirnya Dinilai Tepat

Berita

Panasbumi Galunggung dan Eksotisme Alam Menakjubkan

Berita

Di Tangan Mahasiswa Pengembangan EBT Dipertaruhkan

Berita

Di Pemandian Air Panas Bumi Sipoholon, Ada Bukit Berlumurkan Lelehan Belerang

Berita

Pengembangan EBT, Perbankan Nasional dan SMI

Berita

Minimalisir Resiko Eksplorasi, Kementerian ESDM Libatkan  Ahli Panasbumi

Berita

Supramu Santosa: “Sembilan Tahun Eksplorasi, Baru Sekarang Eksploitasi,”