Home / Berita

Rabu, 23 Desember 2020 - 13:18 WIB

Ini Cerita Supramu Santosa tentang Perjalanan Membangun PLTP Muara Laboh

Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Muara Laboh di Solok Selatan, Sumatera Barat. (*)

PABUMNews – Ini cerita Supramu Santosa, CEO Supreme Energy, tentang perjalanannya membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Muara Laboh, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dari nol hingga kini menghasilkan listrik 85 MW untuk jaringan Sumatera.

Cerita ini ia sampaikan pada acara dialog Peluang dan Tantangan Investasi di Sumatera Barat melalui Zoom Meetings, Sabtu (12/12/2020) lalu.

Supramu menjelaskan, dana yang dihabiskan untuk membangun PLTP Muara Laboh hingga memiliki kapasitas 85 MW seperti sekarang, sebesar 587 juta dolar AS atau sekitar Rp9 triliun.

“Itu biaya sangat besar,” jelasnya.

Supramu menyebutkan, dari 17 titik panas bumi di Sumatera Barat, baru Muara Laboh yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk kebutuhan listrik di jaringan Sumatera.

Supramu Santosa. (*)

Di sisi lain, sejak Indonesia diterpa krisis pada tahun 1989, hanya ada dua perusahaan swasta yang berhasil melakukan eksplorasi panas bumi, salah satunya Supreme Energy.

Supramu berharap, keberhasilan Supreme Energy memangun PLTP Muara Laboh, memicu keberhasilan pemanfaatan panas bumi di titik lainnya di Sumatera Barat dan di wilayah lainnya di Tanah Air.

Menurut Supramu, kegagalan dan keberhasilan dalam pemanfaatan panas bumi pesentasenya seimbang, 50 persen berhasil 50 persen bisa gagal. Di balik persentase kegagalan yang besar tersebut, investasinya juga sangat besar dengan jangka waktu proses pembangunan yang cukup panjang.

“Investasi panas bumi punya resiko yang sangat besar dan jangka pembangunan sangat panjang. Dari awal sampai produksi memerlukan waktu delapan tahun, itu kalau normal,” ujar Supramu.

Baca Juga  Star Energy Targetkan Jadi Perusahaan Panasbumi Terbesar di Dunia

Bahkan untuk PLTP Muara Laboh, kata Supramu, Supreme Energy membutuhkan waktu 12 tahun hingga COD dan tersambung dengan jaringan PLN.

“Waktu panjang 12 tahun tersebut dilakukan sejak awal studi geologis sampai produksi. Yakni dari tahun 2008 hingga 2019,” paparnya.

Supramu membeberkan perjalanan pemanfaatan panas bumi Muara Laboh. Tahun 2008 pihak Supreme Energy melakukan studi geologi dan fisika di lokasi. Hasilnya kemudian disampaikan kepada pemerintah (Kementerian ESDM).

“Tahun 2008 kita studi lapangan, hasilnya kemudian disampaikan kepada pemerintah untuk tender. Tahun 2010 Muara Laboh ditenderkan. Jadi Supreme Energy butuh dua tahun menunggu tender dari sejak menyerahkan hasil studi,” paparnya.

Menurut Supramu, penghambat utama dalam pengembangan panas bumi di Indonesia adalah soal tarif. Menurutnya, Supreme Energi butuh waktu empat tahun untuk mencapai kesepakatan soal tarif uap Muara Laboh dengan PLN.

“Pada tahun 2012 kesekapatan harga dengan PLN baru tercapai. Dan selama belum ada kesepakatan, Supreme Energy terus mengeluarkan uang. Jadi dalam waktu empat tahun itu saya terus berjuang,” paparnya.

Setelah harga tercapai, lanjutnya, perusahaan kemudian melakukan eksplorasi dengan kegiatan pembangunan infrastruktur. Di antaranya jalan ke gunung ke lokasi kegiatan.

“Sebelum mengebor, kita membangun jalan dulu ke gunung. Panjangnya 30 km. Untuk itu saja memakan biaya sekitar 30 juta dolar,” ujar Supramu.

“Kegiatan ini memakan waktu selama tiga tahun, apalagi kondisi pembangunan PLTP Muara Laboh berada di pegunungan,” paparnya.

Usai membangun jalan, Supreme Energy kemudian melakukan pengoboran sebanyak enam sumur eksplorasi.

Baca Juga  Hilangkan Resiko Tinggi Eksplorasi, Pemerintah Godok Konsep Geothermal Fund

“Sumur pertama berhasil sangat baik. Namun sumur kedua, ketiga, keempat gagal. Sementara sumur kelima ukurannya kecil dan sumur keenam sedang,” ujarnya.

Kegiatan eksplorasi diselesaikan pada tahun 2014. Kemudian tahun 2015 masuk pada tahapan eksploitasi.

Disampaikan Supramu, dari sumur-sumur yang telah dibor tersebut, diketahui panas bumi Muara Laboh bisa menghasilkan kapasitas sekitar 200 MW. Namun karena Sumatera Barat hanya membutuhkan 80 MW, maka pengembangannya terpaksa dilakukan sesuai kebutuhan.

“Jadi hanya sekitar sepertiga dari apa yang direncanakan. Tapi alhamdulillah tetap disyukuri bahwa sekarang ini sudah 85 megawatt malahan sudah mengalir dan suskes selama pengembangan,” ujar Supramu.

Ditambahkannya, selama pengembangan, dilakukan pengeboran 13 sumur. Pembiayaan untuk satu sumur mecapai 7 juta dolar. Maka total invetasi Supreme Energy mencapai 587 juta dolar atau hampir 9 triliun.

“Biayanya menghabiskan Rp9 triliun. Tapi alhamdulillah kita sukses walaupun ekonomi sangat minim. Sebagai ucapan terimakasih ke masyarakat Sumatera Barat saya bangun GOR atau gedung olahraga dan pertemuan,” ucap Supramu.

Menurut Supramu, selain soal tarif, pemanfaatan panas bumi juga mendapat tantangan dari lingkungan sekitar yaitu resistensi masyarakat yang belum faham.

Seperti diketahui, PLTP Muara Laboh telah resmi beroperasi sejak Desember 2019 lalu. Untuk tahap 2, kini masih dalam negosiasi harga dengan pihak PLN.

Beroperasinya PLTP Muara Laboh semakin menambah keandalan suplai listrik di wilayah Sumatera bagian Barat. Listrik dari PLTP ini dapat melistriki hingga 340 ribu rumah tangga.

PLTP Muara Laboh dikelola oleh PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML), perusahaan patungan PT Supreme Energy, ENGIE, dan Sumitomo Corp. (es)

Berita ini 229 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Panasbumi dalam 3 Tahun, Kapasitas Naik PNPB Pun Lampaui Target

Berita

Italia Minati Panasbumi Indonesia

Berita

Tahun 2020 Ini Kapasitas Panasbumi Indonesia Ditargetkan Bertambah 140 MW
FSPPB SPPLN Bersatu tolak ipo

Berita

Tolak IPO BUMN, FSPPB Dan SPPLN Bersatu

Berita

17 Tahun Geo Dipa Energi Menghasilkan Energi Bersih

Berita

ADPPI Usulkan Alimin Ginting, Profesional di Bidang EBT Jadi Menteri ESDM

Berita

Inggris akan Bangun Pembangkit Panasbumi di Pulau Sumba

Berita

Wawolesea, Terasering Air Panas Alami dengan Sejuta Pesona