Home / Berita

Selasa, 13 Maret 2018 - 16:26 WIB

Kementerian ESDM Kirimkan 23 Peserta ke “Geothermal Project Management” di Selandia Baru

PABUMNews- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengirimkan 23 peserta untuk mengikuti Geothermal Project Management yang dilaksanakan 12 Maret sampai dengan 11 April 2018 di Auckland, Selandia Baru. Program ini merupakan kerja sama Kementerian ESDM melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dengan MFAT (Ministry of Foreign Affairs and Trade) Selandia Baru.

“Memasuki tahun hubungan diplomatik yang ke-60, Pemerintah Selandia Baru memandang Indonesia sebagai partner yang sejajar dengan negara lainnya seiring dengan semakin meningkatnya perekonomian Indonesia”, ujar Duta Besar Selandia Baru, Trevor Matheson untuk Indonesia pada saat memberikan sambutan Pre Departure Briefing bagi peserta program (5/3) di Jakarta.

Ia menyampaikan, renewable energy dalam bauran energi di Selandia Baru saat ini sudah mencapai 80%, dan ditargetkan pada tahun 2025 akan menjadi 100%. Oleh karena itu, Matheson berharap program ini dapat dijadikan ajang berbagi pengalaman dengan bangsa Indonesia.

Baca Juga  Potensi Panas Bumi Jawa Barat Tersebar di 25 Titik, Berikut Rinciannya

Program ini merupakan pelaksanaan tahun kedua. Sebelumnya 24 peserta dari Indonesia mengikuti kegiatan Geothermal Project Management pada tahun 2017, dengan biaya full short term training scholarships dari Pemerintah Selandia Baru.

Tahun ini, terpilih 23 orang peserta untuk mengikuti program pelatihan tersebut, dengan rincian 3 orang dari Kementerian ESDM, 1 orang dari Bappenas, 2 orang dari Universitas dan 18 orang dari Badan Usaha sub sektor panas bumi: PT. Geodipa, PT. Pertamina Geothermal Energi, Star Energy, dan Supreme Energy.

Sejarah perkembangan energi panasbumi di Indonesia memang tidak bisa terlepas dari perkembangan panasbumi di Selandia Baru. Berawal pada tahun 1972 dimana Geothermal Energy ltd (GENZL) bekerjasama dengan Pertamina mengembangkan lapangan panasbumi di Kamojang. Sekitar 42 tahun kemudian, pada 2018 ini Indonesia akan menjadi negara kedua terbesar setelah Amerika Serikat sebagai penghasil energi listrik panasbumi dengan total kapasitas mencapai sekitar 2.023,5 MW setelah beroperasinya PLTP Sibuai-buai (Sarula Unit 3, 110 MW), PLTP Lumut Balai (55 MW), PLTP Sorik Marapi Modular (20 MW), Sokoria Unit 1 (5 MW) dan Lahendong Binary (5 MW).

Baca Juga  Berkunjung ke Lapangan Panasbumi Suoh Harus Bawa Pemandu, Ini Alasannya

Untuk terus mengembangkan industri panasbumi di Indonesia, selain dibutuhkan iklim investasi dan penguasaan teknologi, yang tidak kalah pentingnya yaitu kesiapan sumber daya manusia. Melalui program pelatihan ini, diharapkan peserta dapat memahami bagaimana memanage proyek panas bumi, baik dari aspek geoscience hingga keuangan proyek. (es dari esdm.go.id)

Berita ini 69 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Soal Panasbumi, Indonesia Perlu Belajar ke Islandia

Berita

‘Energy Tak Terbatas’ Ambisi AS Menggali Sumber Panas Bumi Hingga ke Kerak Bumi

Berita

Nicke Widyawati dan Komitmen Pertamina Kembangkan Panasbumi
Hasanuddin.FB

Berita

Dua Permen ESDM Hamb­at Pengembangan Pana­sbumi

Berita

Banyak Situs dan Ditolak Pemda, Proyek PLTP Gunung Lawu Kemungkinan Kembali Ditunda
Mendorong Pengembangan Panas Bumi

Berita

Kemenkeu Setujui Holding Panas Bumi

Berita

PGE Karaha Gulirkan “BuMala”, Bina Warga Budidaya Maggot dan Azola

Berita

Pemkab Bandung Inginkan Kepemilikan Saham di Perusahaan Panasbumi