Home / Berita

Rabu, 12 Desember 2018 - 14:52 WIB

Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca, Pemerintah akan Genjot Energi Bersih Panasbumi

PLTP Kamojang (foto: geomagz.geologi.esdm.go.id)

PABUMNews- Kementerian ESDM akan terus menggenjot penggunaan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung penuh upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang telah ditandatangani Pemerintah Indonesia sesuai Paris Agreement (PA) beberapa waktu lalu. Energi merupakan penyumbang terbesar kedua GRK setelah kehutanan, sehingga penggunaan EBT yang bersih menjadi solusi yang tak bisa ditawar. Salah satu EBT yang akan menjadi andalan adalah panasbumi.

Dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Ditjen EBTKE Oktober 2018 lalu di Bogor, disebutkan, Indonesia telah berkomitmen untuk mereduksi emisi GRK sebesar 29% dengan menggunakan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan internasional.
Komitmen Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi ini dilanjutkan dengan penyampaian dokumen rencana aksi yang disebut Nationally Determined Contributions (NDC). Dalam dokumen NDC Indonesia, sektor energi berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK pada tahun 2030 sebesar 314 juta ton CO2e dengan upaya sendiri dan 398 juta ton CO2e dengan dukungan internasional.

Baca Juga  PLN Tolak Penugasan 5 WKP, Prijandaru: Pengembang Siap Ambil Alih

Seperti diketahui, tujuan yang tertuang dalam PA adalah menahan kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius dan sebisa mungkin di bawah 1,5 derajat Celcius. Pemerintah Indonesia pun telah meratifikasi hasil kesepakatan PA melalui UU No.16 tahun 2016. UU tersebut menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim.

FGD yang dibuka Kasubdit Penerapan Teknologi Konservasi Energi, Edi Sartono itu menggelar Review Metodologi Perhitungan Aksi Mitigasi Penurunan Emisi GRK di Sub Sektor EBTKE.

“Hasil dari kegiatan ini yaitu adanya Pedoman Perhitungan Aksi Mitigasi Penurunan Emisi GRK di Sub Sektor EBTKE, dimana tujuan terbentuknya pedoman ini untuk memudahkan dalam menghitung capaian penurunan emisi GRK di sub sektor EBTKE dan menciptakan ketepatan, ketelusuran dalam menyajikan data capaiannya sehingga target pencapaian penurunan emisi GRK sektor energi dapat tercapai,” kata Edi.

Kegiatan mitigasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM dalam rangka mengurangi GRK di antaranya adalah penyediaan dan pengelolaan EBT, terutama panasbumi. EBT lainnya yang tak kalah penting harus dikembangkan, hydro, surya, Hybrid, Biomassa dan sebagainya.

Baca Juga  Direktur Bank Dunia Dorong Indonesia Ganti Pembangkit Batubara dengan Panas Bumi

Energi panasbumi memang merupakan energi yang bersih. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang mengelola 14 Wilayah Kerja dengan total kapasitas terpasang sampai saat ini 617 MW, memiliki potensi pengurangan emisi karbon sebesar 2,58 juta ton CO2e/tahun dan sudah masuk dalam mekanisme Clean Development Mechanism (CDM).

Kemudian PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) yang membangun PLTP Rantau Dedap di Sumatera Selatan dengan kapasitas sebesar 98,4 MW (bruto), diperkirakan akan mengurangi emisi CO2 sebayak 486 ribu ton per tahun.

Sementara PT Geo Dipa Energy, perusahaan panasbumi milik negara, dengan kapasitas energi panasbumi yang diproduksinya menargetkan pengurangan emisi karbon CO2 minimal sebesar 1-2 juta ton di tahun 2023 dan 6 Juta Ton di tahun 2035. (es)

Berita ini 15 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

17 Tahun Geo Dipa Energi Menghasilkan Energi Bersih
Manvit Susun rencana Mitigasi Kerak Silika

Berita

Mannvit Susun Rencana Mitigasi Kerak Silika Dieng

Berita

PLTP Kamojang Kembali Peroleh Penghargaan

Berita

Kementerian ESDM Survei Panas Bumi Bittuang Sulawesi Selatan

Berita

Panasbumi Sorik Merapi Siap Terangi Ribuan Rumah April Depan

Berita

Area Panasbumi Wae Sano, Project Pilot Government Drilling

Berita

Geo Dipa Raih “Indonesia Best Electricity Award (IBEA) 2018”

Berita

Dukung Upaya Pemerintah Tangani Covid-19, Geo Dipa Kembali Salurkan Bantuan