Pentingnya Pengutamaan Energi Terbarukan dan Mendesaknya Penyelesaian RUU Energi Terbarukan

Pentingnya Pengutamaan Energi Terbarukan dan Mendesaknya Penyelesaian RUU Energi Terbarukan

Alimin Ginting (sumber foto: Dok. ADPPI)

Oleh : Alimin Ginting*

PABUMNews- SAMPAI saat ini penggunaan energi di Indonesia pada dasarnya berasal dari 2 jenis sumber yaitu energi fosil (seperti minyak bumi, gas dan batubara) dan non – fosil/energi terbarukan (seperti panasbumi, tenaga air, surya, angin, biomass, sampah dan sebagian biodiesel – campur minyak sawit dengan minyak solar, dan yang lainnya).

Tentang energi fosil, masyarakat sudah mengetahui bahwa energi ini masuk pada katagori pencemar lingkungan dan mengandung unsur gas rumah kaca (GRK) yang berdampak signifikan terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.

Sebagaimana diketahui, pemanasan global menjadi perhatian utama negara dan masyarakat dunia saat ini. Oleh karena itu, bila Indonesia mau menuju ke arah “Kedaulatan Energi” dan tidak hanya sebatas “Ketahanan Energi”, maka posisi energi terbarukan harus dikedepankan. Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki banyak sekali jenis/ bauran energi terbarukan dan tersebar hampir di seluruh wilayah kedaulatan Republik Indonesia.
Melalui kebijakan yang tepat dan terarah, diharapkan Indonesia dapat mencapai “Kedaulatan Energi” yang berbasiskan pada pemanfaatan Energi Terbarukan.

Ada beberapa alasan kenapa energi terbarukan penting diutamakan oleh Indonesia. Di antaranya:

1. Energi terbarukan minim gas rumah kaca (Green House Gas).

2. Masyarakat global ke depan menghendaki terjadinya pertumbuhan ekonomi berbasis low carbon economic, dengan kata lain penggerak ekonomi di masa akan datang dimotori oleh energi bersih dan terbarukan.

3. Komitmen Indonesia di KTT Perubahan Iklim Paris 2015, di mana Indonesia memiliki tanggung jawab menurunkan gas rumah kaca 29% pada tahun 2030. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut pengembangan energi bersih dan terbarukan (renewable energy) harus diutamakan.

4. Berkembangnya teknologi mobil listrik ke depan yang tidak lagi menggunakan energi fosil (bahan bakar minyak dan gas) tapi menggunakan listrik yang dapat diproduksi dari energi terbarukan, juga mengarah kepada pentingnya energi terbarukan di masa akan datang.

5. Energi terbarukan juga dapat berperan sebagai substitusi bagi penurunan produksi minyak bumi Indonesia, minyak sawit dicampur solar menjadi biodiesel (sekarang sudah B-20), dapat mengurangi impor BBM yang berbasis energi fosil.

6. Berkembangnya teknologi energi terbarukan seperti listrik pembangkit tenaga surya, dapat menjadi jawaban bagi pedesaan yang belum terjangkau oleh listrik PLN di kawasan remote area. Desa desa yang jauh dari ketersediaan transmisi dapat memasang listrik tenaga Surya dan juga angin dan mikrohidro setempat.

7. Kebijakan Energi Nasional (KEN) sesuai Peraturan Pemerintah No.79/2014, bauran energi tahun 2025 adalah minyak 25%, gas 22%, batubara 22 % dan sisanya 23% berasal dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Sampai saat ini capaian energi terbarukan baru mencapai 8%, sisanya 15% perlu dan harus diselesaikan dalam kurun waktu 6 tahun ke depan dengan ditunjang kebijakan positif dari pemerintah.

Di sisi lain Indonesia juga menghadapi tantangan dalam pencarian sumber dan cadangan minyak baru, karena sumber dan cadangan minyak yang ada di daratan (on shore) dan di laut dangkal (off shore) makin menipis dan sulit menemukannya.

Tidak semudah zaman dulu lagi untuk menemukan energi fosil baik di daratan maupun di laut dangkal. Saat ini yang masih dianggap berpotensi memiliki cadangan baru adalah di laut dalam yang membutuhkan biaya explorasi yang mahal dan biaya produksi yang tinggi, sehingga tidak menarik bagi pengembang, apalagi dengan harga minyak mentah seperti sekarang ini.

Kemudian target energi terbarukan Indonesia sebesar 23% pada tahun 2025 dan komitmen Pemerintah Indonesia untuk penurunan gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030, membuat energi terbarukan yang rendah emisi rumah kacanya sangat penting. Oleh karena itu pemanfaatan energi terbarukan harus menjadi perhatian Indonesia.

Seperti yang telah diuraikan di atas, karena energi terbarukan merupakan energi setempat di wilayah Indonesia, kebijakan dan pemanfaatannya dapat diatur sendiri oleh Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, mengutamakan pemanfaatan energi terbarukan sangat berpotensi mendukung kedaulatan energi di Indonesia.

Di sisi lain, untuk mendorong percepatan pemanfaatan energi terbarukan, diperlukan perbaikan kebijakan yang telah ada, termasuk mempercepat penyelesaian Rencana UU Energi Terbarukan yang sedang digodok oleh DPR –RI saat ini.***

*Alimin Ginting adalah Badan Pembina dan Pakar Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi (ADPPI)