Home / Berita

Kamis, 28 Mei 2020 - 17:06 WIB

Panas Bumi Penyumbang Terbesar Kedua Bauran Energi Tanah Air

Instalasi pembangkit panas bumi di area Kamojang Jawa Barat. (Foto: Dok. ADPPI)

Instalasi pembangkit panas bumi di area Kamojang Jawa Barat. (Foto: Dok. ADPPI)

Instalasi pembangkit panas bumi di area Kamojang, Jawa Barat. (Foto Dok. ADPPI).

PABUMNews – Kementerian ESDM merilis capaian bauran energi tahun 2019 dan program bauran energi tahun 2020 yang dimuat di laman esdm.go.id baru-baru ini.

Dalam rilis tersebut diketahui, panas bumi merupakan energi baru terbarukan (EBT) terbesar kedua yang menyumbang bauran energi di tanah air dengan total kapasitas sebesar 2.270,7 MW. Sementara total kapasitas EBT secara keseluruhan hingga tahun 2019 mencapai 10.157 MW.

Penyumbang pertama masih ditempati pembangkit tenaga air yang hingga tahun 2019 kapasitasnya mencapai 6.050,7 MW.

Dari rilis itu pun diketahui, meskipun kapasitas panas bumi berada jauh dari kapasitas pembangkit tenaga air, namun perkembangannya cukup mencolok. Pada tahun 2015 kapasitas panas bumi hanya sebesar 1.438,3 MW. Kemudian hanya berselang lima tahun atau hingga tahun 2019, naik hampir dua kali menjadi 2.270,7 MW.

Baca Juga  Destinasi Wisata Panas Bumi Curug Cipanas Nagrak

Sementara pembangkit tenaga air, pada tahun 2015 memiliki kapasitas sebesar 5.227,5 MW, kemudian dalam lima tahun hanya mengalami kenaikan sekitar 800 MW hingga menjadi 6.050,7 MW.

Lompatan terbesar kapasitas pembangkit panas bumi ditunjukkan dalam tahun 2016 di mana hanya dalam waktu satu tahun berhasil menambah 275 MW. Untuk selanjutnya, penambahan kapasitas berada di bawah 180 MW setiap tahun.

Baca Juga  Mendapat Banyak Keberatan, Kementerian ESDM Akhirnya Revisi Tiga Permen

Sedangkan dari keseluruhan EBT yang dimanfaatkan di tanah air, tampaknya pembangkit hybrid tak mengalami perkembangan. Sejak tahun 2015 hingga tahun 2019, hybrid tetap berada di kapasitas 4,0 MW.

Pemerintah menyampaikan, bauran EBT merupakan bagian dari upaya menekan penggunaan energi berbasis fosil. Tujuannya, selain untuk mencapai kadaulatan dan kemandirian energi, juga untuk menurunkan emisi dan polusi dari pembakit listrik.

Seperti diketahui, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan gas rumah kaca dari pemanfaatan energi. Komitmen ini telah diundangkan dengan UU No.16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to UNFCCC dan Perpres No.61/2011 tentang RAN-GRK. (es)

Berita ini 158 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Hivos Siap Kembangkan Panasbumi Flores Tahun 2019

Berita

Pembangkit EBT Berikan Tambahan 736 MW Tahun Ini

Berita

PGE Karaha Bagikan Bonus Produksi Panas Bumi untuk Daerah Penghasil
Sarulla Geothermal Power

Berita

Pemanfaatan EBT untuk Kedaulatan Energi

Berita

Petani di Bantarkalong Sukabumi, Airi Sawah dengan Air Panas

Berita

Sempat Gaduh, Surat Menteri Keuangan Soal PLN Akhirnya Dinilai Tepat

Berita

Harga Listrik Panas Bumi Mahal, Pemerintah Rancang Penggantian ke PLN

Berita

Sertakan Ahli Panasbumi ITB dan UPNVY, PLN Studi Banding ke Selandia Baru