Home / Opini

Senin, 3 Desember 2018 - 11:52 WIB

Panasbumi dan Dongeng Geologi

Mesin pengering kopi di Ibun, Kabupaten Bandung, hibah dari PGE (foto: pge.pertamina)

PABUMNews- Di Garut, Jawa Barat, ada tiga Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) yaitu Darajat, Kamojang dan yang terbaru Karaha. Lingkungan di masing-masing PLTP, tampak hijau dengan pepohonan yang subur dan terawat. Debit air pun stabil, baik untuk pertanian maupun kebutuhan rumah tangga.

Di Pasirwangi, kawasan yang dekat dengan PLTP Darajat, petani tetap bisa mengolah lahan pertaniannya seperti sebelum PLTP Darajat ada. Bahka Pasirwangi yang dikenal sebagai lumbung sayuran di Garut, hingga kini masih tetap bisa mempertahankan statusnya tersebut. Para petani sayuran di sini, merupakan pemasok sayuran ke Pasar Caringin, Bandung, dan Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, hingga sekarang.

Artinya, stabilitas ketersediaan air untuk masyarakat Garut, khususnya yang ada di sekitar PLTP, tetap terpenuhi secara alami. Artinya pula, keberadaan PLTP tak mengganggu ketersediaan air untuk warga sekitar.

Di sisi lain, di tengah sulitnya mencari pekerjaan akibat tidak seimbangnya pertumbuhan lapangan kerja dengan pertumbuhan pencari kerja, keberadaan PLTP menjadi anugerah tersendiri bagi masyarakat Garut. Entah berapa ratus atau ribu warga Garut yang kini bekerja di tiga PLTP tersebut. Yang jelas, PT Pertamina Geothermal Energi (PGE), pengelola PLTP Karaha dan Kamojang, memiliki kebijakan memprioritaskan warga lokal untuk karyawan di mana PLTP itu berada.

Ada keuntungan lain yang diterima masyarakat Garut, terutama warga di sekitar PLTP, yakni adanya CSR dari perusahaan. CSR yang diterima tak hanya bentuk uang, melainkan bisa juga dalam bentuk pelatihan keterampilan atau peningkatan kapasitas SDM warga.

Dengan keuntungan-keuntungan yang diterima masyarakat Garut tersebut, tak heran jika Bupati Garut H. Rudy Gunawan menyatakan mendukung penuh pembangunan PLTP di wilayahnya. Apalagi keberadaan PLTP memberikan Pemkab Garut pemasukan berupa bonus produksi dan Dana Bagi Hasil (DBH). Hingga tahun 2018 sekarang, total bonus produksi dan DBH yang telah diterima Pemkab Garut melalui kas daerah sebesar Rp 275 miliar.

Baca Juga  Mengenal Potensi Panasbumi NTT

***

Sudah berkali-kali disebutkan, potensi panasbumi di Indonesia sangat besar. Sekitar 40 persen potensi panasbumi dunia, ada di Indonesia. Pemerintah Indonesia pun kini serius menggarap panasbumi untuk mendukung ketahanan energi nasional, dan tentu dalam rangka mengurangi efek rumah kaca sebagai dampak dari penggunaan bahan fosil dan batubara yang keberadaannya pun kian menipis.

Laman geologi.co.id, dalam rubrik “Dongeng Geologi” menyebutkan, 40% potensi panas bumi dunia, apabila dikonversikan, maka totalnya setara dengan supply minyak bumi sebesar 8 Milyard Barel Ekivalen.

Seberapa besar itu? Sebagai gambaran, tulis “Dongeng Geologi” lapangan Minas dan Duri yang terbesar di Asia memiliki total cadangan sekitar 4 Milyar Barrel. Sehingga, kalau kita mampu memanfaatkan geothermal jelas akan sangat menolong untuk mengurangi subsidi BBM.

Di sisi lain, masih menurut “Dongeng Geologi”, energi geothermal pun aman dari ancaman “penjarahan”. Kini muncul tiga negara yang rakus energi,, yakni Amerika, India dan China. Ketiga negara ini terus berusaha mencari sumber-sumber energi baru yang dapat dipakai untuk memakmurkan negaranya.

Banyak ekspansi dilakukan oleh ketiganya ke negara-negara lain. Sumber energi yang selalu dikejar adalah MIGAS.

Mengapa yang paling dicari migas ? Migas memiliki kemudahan dalam hal transportasi. Dengan sebuah kapal tanker raksasa saat ini mampu membawa ribuan bahkan jutaan ton minyak. Juga kapal-kapal tangker LNG akan dengan mudah membawa gas-gas yang sudah dicairkan ini. Mengapa ditransportasi ?

Baca Juga  Gerakan Nasional Zero Droplet (GNZD), Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 di Indonesia

Saat ini energi geothermal hanya mampu dikonversi menjadi listrik yang belum bisa dipindahkan ke lain benua. Memindahkan atau mendistribusikan listrik masih hanya dilakukan dengan dengan kabel laut antar pulau. Dengan demikian, jika energi geothermal dikembangkan menjadi energi listrik, maka energi tersebut hanya dapat dipergunakan di daerah lokal atau regional yang dekat dengan sumber geothermal tersebut. Artinya pemanfaatan energi geothermal hanya mampu dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri.

Nah, ini berarti negara-negara yang rakus energi, sangat kecil kemungkinannya untuk “menjarah” energi geothermal ini. Kalau toh mereka akan memanfaatkan energi ini dalam bentuk investasi, maka sudah pasti akan dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri. Sehingga, tinggal bagaimana rakyat Indonesia mampu memanfaatkan “kesempatan bekerja” dari pemanfaatan energi yang dihasilkan oleh energi geothermal ini. Bayangkan multiplier effect yang akan dihasilkan di dalam negeri Indonesia !

Begitu menurut Pakde, penulis Dongeng Geologi di laman geologi.co.id.

Kelebihan lainnya, energi geothermal merupakan energi yang bersih dan berkelanjutan. Energi bersih, karena tak menimbulkan gas rumah kaca akibatpenumpukan CO2 di atmosfir, kalau pun menimbulkan, nilainya sangat-sangat kecil. Kapasitas panasbumi sebesar 617 MW yang dikelola Pertamina Geothermal Energi (PGE) sekarang, misalnya, diperkirakan bisa mengurangi emisi karbon sebesar 2,58 juta ton CO2/tahun.

Di sisi lain, terkait pengurangan CO2, Indonesia punya beban sebab terikat perjanjian Paris COP yang menargetkan mengurangi 26 persen karbon dioksida (CO2) pada 2020 dan 41 persen pada 2030. Salah satu aksi nyata untuk mengrangi CO2 adalah menggunakan energi yang bersih tadi, salah satunya ya panasbumi, potensi energi yang melimpah di negara kita. (es)

Berita ini 29 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Energi Panasbumi Ramah Terhadap Lingkungan Sekitar

Opini

Catat Ini Istilah dan Pengertian Panasbumi

Opini

Panasbumi, Energi Terbarukan Anugerah Bagi Indonesia

Opini

Bisakah 30 MW Mengobati Luka Sejarah Karaha?
sumur panas bumi pertama

Opini

Van Dijk dan Kamojang, Tonggak Sejarah Pengusahaan Panasbumi di Indonesia

Opini

Catatan EBT: Investasi, Bauran dan Pemerataan

Opini

Gerakan Nasional Zero Droplet (GNZD), Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 di Indonesia

Opini

Pentingnya Pengutamaan Energi Terbarukan dan Mendesaknya Penyelesaian RUU Energi Terbarukan