Home / Berita

Kamis, 12 April 2018 - 10:56 WIB

Panasbumi Rajabasa Bisa Kurangi Defisit Listrik Lampung

PABUMNews-CEO Supreme Energy, Supramu Santosa, hingga kini masih menunggu terbitnya izin perpanjangan PPA (Power Purchase Agreement) atau kontrak jual beli listrik dari PLTP Rajabasa, Provinsi Lampung. Permohonan perpanjangan PPA Rajabasa, telah diajukan pihak Supreme Energy sejak dua bulan lalu.

Seperti diketahui, rencana pembangunan PLTP Rajabasa terus tertunda akibat persoalan non teknis, di antaranya adanya gugatan dari masyarakat adat Lampung terkait status tanah Gunung Rajabasa dan tak kelarnya perizinan. Padahal WKP Rajabasa telah “dimiliki” Supreme Energy sejak tahun 2010 lalu.

Masa kontrak PPA Rajabasa yang ditandatangani dengan PLN pada tahun 2012 lalu, habis pada April 2018 ini. Oleh karena itu Supreme Energy mengajukan perpanjangan PPA kembali.

Baca Juga  Kejar Target Penurunan Gas Rumah Kaca, PLN-SMI Kerjasama Pengembangan Panas Bumi Tahun 2020

Menurut Supramu, perosalan non teknis yang menghambat eksplorasi panasbumi Rajabasa sekarang ini telah “clear”.

“Sudah clear itu. Sekarang lagi minta perpanjangan PPA dengan PLN dan Menteri ESDM. PPA habis April makanya kami sudah minta perpanjangan karena itu bukan salah kami kan,” ujar Supramu di Jakarta, Kamis (5/4/2018) seperti dirilis kontan.co.id.

Proyek panasbumi Gunung Rajabasa merupakan bagian dari proyek nasional percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 4 tahun 2010.

Kapasitas PLTP Rajabasa yang akan dikembangkan adalah sebesar 2×110 megawatt (MW). Jika terealisasi, maka produksi listrik dari Rajabasa bisa mengurangi sekitar setengah dari defisit listrik Lampung yang kini mencapai 230-280 MW.

Baca Juga  Sertakan Ahli Panasbumi ITB dan UPNVY, PLN Studi Banding ke Selandia Baru

Supreme Energy sendiri menggandeng 2 mitra perusahaan yaitu GdF Suez dan Sumitomo Corporation untuk mengelola PLTP Rajabasa dan mendirikan perusahaan Supreme Energy Raja Basa (SERB).

Supreme Energy sebelumnya sudah menggelontorkan dana US$ 50 juta untuk membiayai proyek Rajabasa. Anggaran sebesar itu terutama untuk pembebasan lahan.

Rencananya, jika perpanjangan PPA telah turun, Supreme Energy akan segera memulai persiapan eksplorasi, di antaranya dengan pembangunan jalan ke lokasi proyek. Supramu pun berharap, eksplorasi bisa dilakukan tahun 2018 ini. (es)

Berita ini 33 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Dari Forum Energi Muda: Batubara Hasilkan CO2, Reneweble Energy Harga Mati

Berita

Tahun 2019 Kapasitas Pembangkit EBT Bertambah 376 MW, Setengahnya Disumbang Panasbumi

Berita

Halmahera Jadi Percontohan Kluster Ekonomi Berbasis Energi Panasbumi

Berita

Perusahaan Panasbumi Berangkatkan Ibu-ibu Pengrajin Ikuti Pelatihan Keterampilan

Berita

Tahun 2017, Penerimaan Negara dari Panasbumi Lampaui Target

Berita

Ketum ADPPI : “Kewenangan Penyelesaian Protes atas PLTP Gunung Talang Ada di Pemerintah”

Berita

Indonesia Miliki 331 Titik Potensi Panasbumi

Berita

Pemerintah Respon Gelombang ProtesĀ  PLTP Baturaden