Home / Berita

Kamis, 1 Agustus 2019 - 13:53 WIB

Pengelolaan Energi Harus Jawab Tuntutan Global dan Kedepankan Kepentingan Nasional

Alimin Ginting (Dok. ADPPI)

Alimin Ginting (Dok. ADPPI)

Alimin Ginting (Dok. ADPPI)

 

PABUMNews – Pengelolaan energi Indonesia ke depan perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan global yang terjadi dengan tetap mengedepankan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan Pemerintah Indonesia.

Hal itu diungkapkan Dr. Alimin Ginting, Dewan Pakar Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia (ADPPI), di kantor ADPPI, Jakarta, Kamis (1/8/2019) menanggapi masih rendahnya pemanfataan energi baru terbarukan (EBT) dibanding energi fosil.

“Bila kita lihat perkembangan global, terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim (termasuk lingkungan) di mana sektor energi dan industri dianggap berkontribusi cukup signifikan, maka ke depan pengelolaan energi kita tidak boleh lagi sembarangan. Perlu diseimbangkan antara pemanfaatan energi fosil dengan energi baru terbarukan untuk menjawab persoalan lokal dan global tersebut. Pemanfaatan energi fosil yang masih dominan, bisa menimbulkan bencana alam dan kemanusian yang dahsyat,” ujarnya.

Baca Juga  ADPPI: Skema Cost Recovery dalam Pemanfaatan Panas Bumi akan Bebani Anggaran Negara

Alimin pun melihat ada perkembangan baru di dunia industri otomotif, yaitu rencana diproduksinya mobil berbahan bakar listrik, atau mobil listrik. Ia menegaskan, Indonesia harus adaftif terhadap perkembangan tersebut dan sesegera mungkin melakukan penyesuaian dalam pengelolaan energi.

Perkembangan tersebut, lanjutnya, merupakan momentum untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sumber daya EBT yang ada di Indonesia sehingga tujuan besar dari industri mobil listrik mendapat dukungan dari industri energi.

“Kita harus siap berubah dan menyesuaikan diri dalam pengelolaan energi kita ke depan agar sesuai dengan perkembangan,” ungkapnya.

Namun ia pun mengingatkan, dalam masa transisi pemanfaatan energi fosil yang berkadar gas rumah kaca yang tinggi ke energi baru dan terbarukan, maka kehati-hatian dalam pengelolaan energi sangat diperlukan.

Baca Juga  Ini Penjelasan Bumigas dan KPK Terkait Surat Deputi Bidang Pencegahan ke Geo Dipa

“Pemanfaatan energi terbarukan yang mendesak tidak hanya untuk kepentingan lingkungan, tapi juga untuk menjawab tuntutan global ke arah low carbon economy ke depan,” paparnya.

Menurut Alimin, low carbon economy erat kaitannya dengan peningkatan pendanaan dan iklim investasi di Indonesia yang ujung-ujungnya terkait erat dengan penyediaan lapangan kerja di Indonesia.

Selain itu, tambahnya, pengembangan energi baru terbarukan sangat penting untuk menyeimbangkan expor- impor bahan bakar dalam negeri di mana nilai impor saat ini dikhawatirkan dapat menguras devisa dan mengganggu ekonomi Indonesia secara nasional.

“Di masa transisi ini biodiesel dan EBT yang lainnya sangat berperan penting. Biodiesel kita tahu atau bifuel dapat juga meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia karena bahan dasarnya berasal dari produk pertanian masyarakat Indonesia sendiri,” katanya. (es)

Berita ini 550 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Menengok Taman Bacaan Sabda Desa di Pangalengan Bandung, Semangat Literasi di Tengah Wisata Panas Bumi

Berita

Pemerintah Godok Perbaikan Tarif EBT, Perpresnya Ditargetkan Awal 2020 Ditandatangani

Berita

PLTP Lumut Balai Mulai Beroperasi

Berita

Hutang Mencapai Rp 290 Triliun, PLN Lakukan Efisiensi

Berita

Air Panas Tanuhi, Manifestasi Panas Bumi Non Vulkanik di Geopark Meratus Kalimantan Selatan

Berita

Program Magister Panas Bumi ITB Gelar IIGW 2022. Berikut Topik dan Batas Waktu Pengiriman Abstrak Penelitian

Berita

Soal Panasbumi, Indonesia Perlu Belajar ke Islandia

Berita

Mengenal 12 Titik Potensi Panas Bumi Sulawesi Barat