Home / Berita / Data

Jumat, 22 April 2022 - 13:01 WIB

Pengetahuan Masyarakat Terkait Energi Terbarukan Masih Rendah

PABUMNews – Katadata Insight Center menyebutkan pengetahuan masyarakat mengenai energi terbarukan masih rendah. Nah lho. Hasil itu didapat dalam Survei Persepsi Masyarakat Terhadap Energi Terbarukan yang dilakukan secara online oleh Katadata Insight Center terhadap 4821 responden pada 26 Februari–6 Maret 2022, dengan responden berusia 18 tahun keatas dan cakupan wilayah seluruh Indonesia.

Dari responden sebanyak itu, hanya 38,6% yang mengaku pernah mendengar ihwal energi terbarukan dan paham artinya.  Sedangkan 34,1% lainnya mengaku pernah mendengar namun kurang/tidak tahu artinya. Adapun sisanya, tidak tahu sama sekali.

Selain pengetahuan yang belum merata soal EBT, survei ini juga menemukan mayoritas responden mengaku mengetahui sumber energi listrik yang digunakan, namun pengetahuan itu tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Paling banyak responden menyangka listrik yang mereka gunakan bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (50,3%), padahal seperti yang disebutkan oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan,  pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih menjadi kontributor pembangkit terbesar dengan 36,98 GW atau 50% dari total pembangkitan listrik. Pembangkit listrik tenaga air, minihidro, dan mikrohidro (PLTA/M/MH) hanya menghasilkan 6,41 GW (9%).

“Hanya 20,8% responden yang menyebut pembangkit tenaga uap (yang menggunakan batubara) sebagai sumber listrik yang mereka gunakan, diikuti pembangkit tenaga diesel (14,4%) dan sebagainya,” kata Manajer Riset Katadata Insight Center Vivi Zabkie menyatakan dalam keterangan persnya, Jumat (22/4/2022).

Baca Juga  PGE Masih Jual Listrik di Bawah Harga Keekonomian

Survei ini menggali pengetahuan masyarakat tentang energi terbarukan serta transisi energi untuk menyambut Hari Bumi yang jatuh pada hari Kamis  (21/4/22).

“Survei online ini juga meminta pendapat masyarakat tentang upaya pemerintah dalam melakukan transisi energi. Pemerintah dinilai belum menempatkan isu ini sebagai prioritas. Di samping itu, hal yang dianggap menjadi tantangan pengembangan energi terbarukan bagi Indonesia adalah belum adanya teknologi pengembangan dan pemanfaatannya di Indonesia, serta masih minimnya pemahaman akan pentingnya energi terbarukan,” tambahnya.

Meski pengetahuan tentang energi terbarukan belum merata, pada survei ini keinginan untuk beralih ke energi terbarukan cukup baik.

Sementara itu, Peneliti Katadata Insight Center, Wayan Aristana mengatakan, umumnya publik memahami dan yakin bahwa sumber energi terbarukan baik bagi lingkungan dan dapat memenuhi kebutuhan. Mereka bahkan bersedia mengganti peralatan agar sesuai dengan penggunaan energi terbarukan.

“Namun, secara umum responden memiliki tingkat kesediaan yang relatif lebih rendah jika sumber energi terbarukan ini sulit diperoleh dan harganya lebih mahal,” ujar Wayan.

Sebanyak 64,8% responden menyebut ketersediaan/kemudahan untuk diperoleh menjadi pertimbangan pertama dalam penggunaan energi, diikuti harga (60,8%), kesesuaian dengan alat yang dimiliki (45,2%) dan kepraktisan penggunaan (36,1%). Sementara dampak terhadap lingkungan hanya menjadi pertimbangan bagi 29,1% responden.

“Faktor utama sebetulnya ketersediaan. Jika mereka belum menggunakan, ya karena belum tersedia di lingkungannya,” ujar Vivi, Kamis (22/4/2022).

Baca Juga  Anggota Komisi VII DPR RI, YULIAN GUNHAR Dukung Pendirian Jaga Geothermal Indonesia

“Karena itu, dia mengatakan, bila proses transisi berjalan, publik dapat menerimanya peralihan ini. Meskipun, harga juga menjadi pertimbangan. “55,4% berpendapat produk ramah lingkungan semestinya tak harus mahal,” kata Vivi.

Kendaraan Listrik Populer

Dari sejumlah peralatan modern yang muncul dengan penggunaan sumber energi non fosil, kendaraan listrik seperti motor dan mobil listrik paling popular. Sebanyak 70% responden pernah mendengar dan mengetahui adanya motor/mobil listrik, meski yang menggunakan atau pernah mencoba menggunakan hanya 22, 1%. Sepeda listrik juga cukup populer, dengan 54,1% pernah mendengar dan mengetahuinya, diikuti kompor listrik (52,3%), pemanas air tenaga surya (38,6%) dan kompor biogas (33,5%).

“Jika ditanya tentang keinginan penggunaan peralatan di atas, paling banyak responden menyebut ingin mencoba menggunakan kompor listrik, diikuti pemanas air tenaga surya, sepeda listrik, diikuti mobil/motor listrik dan kompor biogas,” kata Wayan.

Meski minat dan popularitas pada peralatan yang menggunakan listrik cukup baik, umumnya masyarakat masih menyimpan sejumlah kekuatiran bila beralih menggunakan peralatan ini.

Sebanyak 73,8% responden kuatir harga motor/mobil listrik akan mahal, 59,4% kuatir dayanya cepat habis, 59,3% kuatir tidak menemukan fasilitas pendukung (misal tempat mengisi daya baterai/charging station). Untuk kompor listrik, 34,4% responden kuatir harganya akan tinggi, tidak tahan lama (24,6%) dan daya cepat habis (21,9%).***

Berita ini 135 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Ini Kerjasama PLN dengan SMI Bangun EBT

Berita

Perusahaan Panas Bumi PT SOL Fasilitasi Paket B dan C Gratis Bagi Warga

Berita

Ketum ADPPI Sebut Lima Alasan RUU EBT Perlu Cantumkan Pasal Panasbumi Diatur UU Tersendiri

Berita

Perusahaan Panas Bumi Star Energy Darajat Gulirkan Program Desa Caang Sejak 2016, Ini Hasilnya

Berita

Direncanakan COD 2019, PLTP Tulehu Ditargetkan Listriki 40.000 Rumah

Berita

PLTP Sorik Marapi Unit 1 Beroperasi, PLN Berpotensi Hemat Biaya Rp 129 Miliar

Data

Daftar Badan Usaha Dikenakan Bonus Produksi Panas Bumi Kepada Daerah Penghasil

Berita

Abadi Purnomo, “Kebijakan Pemerintah Membuat Lesu Pengembangan Panasbumi”