Home / Berita

Jumat, 30 Agustus 2019 - 11:42 WIB

Penolakan Warga dan Kesiapan PLN Ambil Alih WKP Kaldera Rawa Dano Banten

PABUMNews – Warga Desa Batu Kuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, masih tetap menolak proyek panasbumi (geothermal) di wilayahnya. Bahkan Senin (27/8/2019), ratusan warga melakukan shalat istighosah di area jalan masuk proyek geothermal.

Seperti diketahui, Desa Batu Kuwung merupakan bagian dari wilayah kerja panasbumi (WKP) Kaldera Rawa Dano yang izin pengembangannya dipegang PT Sintesa Banten Energi.

WKP Kaldera Rawa Dano ditetapkan sebagai bagian dari Program Percepatan Pembangunan Pembangkit 10.000 MW tahap II bersama WKP Sorik Merapi (Sumatera Utara), WKP Muaralaboh (Sumatera Barat), Lumut Balai (Sumatera Selatan), Rantau Dedap (Sumatera Selatan), Rajabasa (Lampung) dan WKP lainnya. Panasbumi di Rawa Dano, jika dimanfaatkan secara optimal, bisa menerangi lebih dari 200 ribu rumah tangga.

Panasbumi Rawa Dano ditetapkan menjadi WKP melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 0026K/30/MEM/2009 tanggal 15 Januari 2009. Lokasinya mencakup Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang. Kapasitas yang akan dikembangkan sebesar 115 MW. Izin pengusahaan WKP Rawa Dano dipegang oleh konsorsium PT. Sintesa Green Energy (Sintesa Grup) dan PT. Banten Global Synergi.

Baca Juga  IIGW ke-9, Ketua API: Harga Panas Bumi Tak Bisa Andalkan Bisnis to Bisnis Semata

Sementara itu, menurut catatan pihak Dinas ESDM setempat, potensi panasbumi di Provinsi Banten mencapai 800 MW yang tersebar di 7 lokasi. Dari ketujuh lokasi tersebut ada tiga titik yang telah diidentifikasi oleh Kementerian ESDM, yaitu Kaldera Danau Banten (Rawa Dano), Gunung Endut di Kabupaten Lebak dengan potensi spekulatif sebesar 225 MW dan Pamancalan di Kabupaten Lebak dengan potensi spekulatif sebesar 225 MW. Namun dari ketiga titik yang telah diidentifikasi, baru panasbumi Rawa Dano yang telah ditetapkan menjadi WKP.

Pengembangan panasbumi menjadi energi listrik kini menjadi alternatif pihak Provinsi Banten untuk memenuhi kebutuhan listrik warganya yang kian hari kian meningkat. Pada tahun 2020 kebutuhan listrik di Provinsi Banten diperkirakan sebesar 600 MW atau tumbuh rata-rata sekitar 6% per tahun.

Terkait hal itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa percepatan pembangunan pembangkit listrik melalui Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 02 Tahun 2010, yang salah satu diantaranya adalah proyek pembangunan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi terbarukan (panasbumi), di antaranya PLTP Batu Kuwung yang termasuk pada WKP Kaldera Rawa Dano.

Baca Juga  Pemerintah Diimbau Ciptakan Iklim Usaha Kondusif untuk EBT

Namun penolakan warga atas proyek panasbumi di Batu Kuwung membuat pengembangan WKP Kaldera Rawa Dano tersendat. Sintesa Energy sendiri telah mengajukan perpanjangan eksplorasi ke Kementerian ESDM akibat adanya hambatan tersebut. Melihat hal itu, pihak PLN sempat menyatakan niatnya untuk mengambil-alih proyek Rawa Dano.

Direktur PLN Regional Jawa Bagian Barat, Haryanto WS, di Tanggerang, Banten, (Katadata.co.id, Jumat 29/3/2019) sempat mengungkapkan, jika pengembangan panasbumi di WKP Rawa Dano tidak jalan, PLN siap diserahi tugas untuk menggarapnya. “Tahun lalu habis penugasannya tapi diperpanjang oleh pemerintah. Kami mengusulkan kalau pengembangnya tidak jalan, diserahkan ke PLN,” kata Haryanto. (es)

Berita ini 115 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Panasbumi akan Menjadi Alternatif Utama di Masa Depan

Berita

PGE Karaha Sosialiasikan Energi Panasbumi kepada Siswa SD di Lima Desa

Berita

Insentif Panas Bumi, Pertamina Usulkan Pemerintah Kembalikan Anggaran Infrastruktur Jalan

Berita

IIGCE 2018 Diharapkan Munculkan Terobosan Baru Pengembangan Bisnis Panasbumi
ITB International Geothermal Workshop 2021

Berita

ITB International Geothermal Workshop 2021 Di Buka Besok

Berita

Saham Austindo Nusantara di Darajat, Dilepas ke Star Energy

Berita

PLN Segera Eksplorasi Panasbumi Watu Wawer

Berita

ADPPI: Ketidakpastian Regulasi Panas Bumi Disengaja Untuk Mempertahankan Energi Tak Terbarukan