Home / Berita / EBT / Opini

Rabu, 15 Desember 2021 - 03:21 WIB

Pertamina dan Transisi Energi Nasional

Pertamina dan Transisi Energi Nasional

Pertamina dan Transisi Energi Nasional

PABUMNews – Peran Pertamina dan Transisi Energi Nasional menjadi sangat krusial ketika energi berbasis fosil, secara perlahan akan digantikan EBT (energi baru dan terbarukan).

Oleh: Taufan Hunneman, pengamat energi

Transisi energi telah menjadi gerakan global, dan Indonesia masuk dalam arus perubahan ini. Transisi energi menjadi sebuah keniscayaan, ketika energi berbasis fosil, secara perlahan akan digantikan energi baru dan terbarukan (EBT). Sementara terkait migas, berdasar skema optimistis, permintaan terhadap migas masih akan terus tumbuh , sampai tahun 2030 atau bahkan 2040.

Terbersit harapan saat Indonesia Emas (2045) kelak, komposisi energi terbarukan (renewable energy) akan lebih dominan dalam bauran energi nasional, yakni dalam kisaran 55 persen. Artinya dalam proses transisi energi dimaksud, pasokan EBT dan energi berbasis fosil akan berjalan secara paralel.

Revitalisasi pengelolaan sektor migas nasional, di tengah pergeseran peran dan kontribusinya dalam bauran energi nasional, menjadi kunci dalam menyongsong transisi energi nasional yang lebih optimal di masa depan.

Penegasan Presiden Jokowi terkait program transisi energi diulang kembali dalam sebuah acara di Istana Bogor, akhir November lalu. Untuk kesekian kalinya Presiden Jokowi memberi kepastian, soal transisi energi, secara bertahap mengurangi peran PLTU (berbasis batubara), dan pegembangan kendaraan listrik.

Dalam trajektori proyek strategis terkait transisi energi, kita boleh optimis mengingat presiden sendiri yang menjadi penyelia. Secara kelembagaan, supervisi langsung dari presiden, bisa menjadi katalis bagi para pemangku kepentingan mewujudkan Indonesia hijau.

Dalam konteks transisi energi pula, PT Pertamina (Persero) dalam 64 tahun usianya, telah siap ber-transformasi menjadi korporasi sektor energi terbarukan (renewable energy). Pertamina sebagai perusahaan energi nasional terdepan, akan melanjutkan ikhtiar  dalam kontribusi  transisi industri energi Indonesia dalam target bauran energi dan pengurangan emisi dalam memastikan keberlanjutan. Peta jalan penerapan energi hijau dan berkelanjutan, sudah tersedia cetak biru-nya dengan lini masa yang terukur.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyatakan, Pertamina sudah menyiapkan langkah dan strategi untuk mewujudkan visi menjadi perusahaan energi baru dan terbarukan skala global yang peduli lingkungan.

Bagi Pertamina, transformasi perlu dilakukan untuk mendukung target rendah emisi atau net zero emission (NZE) di tahun 2060, bahkan bisa lebih cepat, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo. Telah tersedia program akselerasi kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional, termasuk partisipasi dalam menyiapkan ekosistem kendaraan listrik.

Pembangunan rendah emisi

Kita sedang berkejaran dengan waktu. Saat ini adalah momentum terbaik mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan hijau. Mempercepat  transisi menuju EBT, adalah salah satu solusi penting mengatasi situasi kompleks hari ini.

Baca Juga  DPR Apresiasi Terobosan BPPT dalam Teknologi Rancang Bangun Pembangkit Panasbumi

Dari segi geografis dan iklim, negeri kita berada pada posisi yang sangat baik, untuk meraih banyak manfaat dari energi bersih, dan sangat siap menjadi garda terdepan energi terbarukan. Indonesia memiliki salah satu potensi EBT di planet ini, sehingga mampu menghasilkan energi berlipat ganda dari peak saat ini.

Agenda jangka pendek adalah memenuhi target, yakni menggunakan 23 persen EBT dalam bauran energi nasional tahun 2025, dari sekitar 13 persen saat ini. Untuk mencapai-nya perlu melibatkan sektor swasta, agar bersedia investasi dalam skala besar. Kemudian, harus ada kepastian terkait regulasinya. Menetapkan target lebih ambisius pada pemanfaatan EBT, dalam jangka panjang akan memberikan ruang bagi investor, dan pelaku usaha yakin bahwa sektor EBT akan terus tumbuh.

Transisi energi bersih dan hijau akan semakin kompetitif, berkat kemajuan sains dan teknologi. Biaya pembangunan infrastruktur EBT cenderung turun dari waktu ke waktu. Proses produksi rendah emisi pada gilirannya juga semakin kompetitif, melalui biaya energi yang lebih rendah bagi sektor swasta. Berikutnya akan menciptakan peluang pekerjaan berkualitas lebih tinggi, meningkatkan ketahanan energi, dan pada akhirnya ada insentif bagi konsumen.

Komitmen menurunkan emisi merujuk pada Kesepakatan Paris 2015, sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Komitment tersebut melalui pembaharuan beberapa sektor, seperti energi, transportasi, kehutanan, industri dan pertanian.

Pertamina sebagai BUMN sektor energi, merespons kondisi saat ini dengan fokus melakukan transisi energi menuju energi hijau. Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, grand design dan roadmap transisi energi harus segera  menyiapkan secara konkret, jelas dan detail. Sehingga waktu yang tersedia dapat digunakan untuk memperkuat fondasi transisi energi, serta melakukan kajian teknologi yang paling efektif dan efisien.

Dalam forum COP 26 di Glasgow, awal November lalu, Indonesia kembali meneguhkan tekad dan mematok target ambisius dalam NDC. Indonesia cukup memiliki sumber daya dalam memacu pembangunan ekonomi hijau yang bebas emisi, dan potensi tak terbatas dalam pengembangan EBT.

IEA mencatat permintaan energi terbarukan akan terus tumbuh. Namun, kemajuan energi bersih tersebut masih terlalu lambat jika melihat target iklim global menuju nol bersih pada 2050. Menurut IEA,  energi terbarukan sangat berperan dalam membatasi peningkatan suhu global hingga 1,5 derajat celsius, sesuai Kesepakatan Paris.

Sekadar mengingatkan kembali, Kesepakatan Paris lahir pada Desember 2015 yang merupakan hasil kesepakatan  COP 21. Pertemuan tersebut melahirkan Paris Agreement (Kesepakatan Paris), dan semua pesera termasuk Indonesia mengajukan target NDC (Nationally Determined Contribution) sebagai upaya untuk menahan laju pemanasan global.

Indonesia berkomitmen melakukan kontribusi terhadap lingkungan yaitu penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) 29 persen pada 2030. Aspirasi yang sempat mengemuka menjelang KTT Iklim atau COP 26 di Glasgow tempo hari. Berdasarkan perhitungan Climate Action Tracker, terkait target NDC Indonesia, sejatinya belum cukup memadai untuk menahan kenaikan temperatur global, jauh dari target awal Kesepakatan Paris. 

Baca Juga  Paripurna Setujui RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan Menjadi RUU Inisiatif DPR RI

Kontribusi Pertamina

Sejalan dengan komitmen Indonesia dalam  penurunan emisi sebesar 29 persen pada 2030, Pertamina mendukung upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan emisi lain penyebab pemanasan global. Salah satunya adalah dengan mengurangi emisi dari kegiatan operasi dan produksi, termasuk inisiatif memanfaatkan gas suar dan Program Langit Biru. Program langit biru sendiri adalah mendorong masyarakat menggunakan bahan bakar rendah emisi karbon.

Di bidang pembangkit listrik, Pertamina terus meningkatkan kontribusinya dalam proyek EBT serta pembangunan pembangkit rendah karbon. Selain itu, Pertamina menerapkan Carbon Capture, Utilization, and storage (CCUS) dalam peningkatan produksi beberapa ladang minyak dan gas. Dengan tujuan untuk meguatkan sinergi dalam memimpin transisi energi, melalui pengembangan solusi karbon, EBT, dan membangun bisnis energi masa depan.

Salah satu satu sub-holding, yaitu Pertamina Power Indonesia misalnya, menargetkan bisa membangun pembangkit listrik berkapasitas minimal 10.000 MW. Salahsatunya adalah membangun pembangkit berbahan bakar rendah karbon, dengan target kapasitas 4.000 MW (pembangkit gas dan dekarbonisasi).

Selanjutnya, pembangunan 5.000 MW pembangkit EBT dari panas bumi, surya, hidro, biomassa dan biogas, angin dan pasang surut, dan sampah. Selanjutnya sebanyak 1.000 MW pada bisnis masa depan yakni baterai dan kendaraan listrik, hidrogen, pasar karbon, dan kompleks industri hijau.

PT Pertamina (Persero) melakukan berbagai inovasi model bisnis untuk mendukung proses transisi energi, sekaligus mendukung pencapaian target net zero emissions tahun 2060 atau bisa lebih cepat. Inovasi model bisnis dapat menjadi kunci kesuksesan dan mengakselerasi pertumbuhan bisnis baru untuk menghadapi transisi energi. Seperti bisnis baterai dan kendaraan listrik, akan menjadi bisnis unggulan masa depan.

Salah satu inovasi Pertamina adalah pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan stasiun pertukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU). Selain itu, Pertamina menginisiasi bisnis SPKLU melalui skema partnership dan terintegrasi dengan aplikasi MyPertamina.

Pimpinan Pertamina menegaskan komitmennya, untuk fokus menjalankan transisi energi.  Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati yakni Energizing Your Future menjadi tekad di seluruh komponen perusahaan.

Energizing Your Future mencerminkan tekad kuat perusahaan terus bergerak maju, memberikan energi tanpa batas demi masa depan yang lebih hijau. Komitmen untuk menjaga prospek bisnis yang berkelanjutan, perlindungan lingkungan hidup, serta berkontribusi pada terwujudnya kemandirian bangsa di sektor energi.

Berita ini 193 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Per Desember 2020 Kapasitas Panas Bumi Indonesia 2.130,7 MW Disumbang 14 WKP, Berikut Rinciannya

Berita

PLTP Lumut Balai Beroperasi Agustus, Ini Harapan Bupati OKU Kuryana Azis

Berita

Kabupetan Solok Selatan Aktif Kembangan EBT

Berita

Panasbumi Dieng-Patuha, Tak Putus Dirundung Sengketa (Bagian 1)

Berita

Air Panasbumi Gunung Karaha Hangatnya Mengalir Hingga ke SPBU

Berita

Inilah 22 Titik Potensi Panasbumi di Sulawesi Tengah

Berita

Ketua Komisi VII DPR RI : Sumatera Utara Surplus Listrik Berkat PLTP Sarulla dan PLTU Langkat

Berita

Arcandra: Data Sebagai Pijakan Berbisnis EBT